Jumat, 20 Oct 2017
radarmadura
icon featured
Ekonomi Bisnis

Serapan Pembelian Tembakau Masih Minim

Selasa, 19 Sep 2017 01:10 | editor : Abdul Basri

BERTRANSAKSI: Transaksi jual beli tembakau di salah satu gudang di Pamekasan pada 22 Agustus 2017.

BERTRANSAKSI: Transaksi jual beli tembakau di salah satu gudang di Pamekasan pada 22 Agustus 2017. (Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Serapan pembelian tembakau oleh gudang jauh dari target. Tidak ada alasan bagi pihak gudang untuk tidak membeli daun emas dari petani. Cuaca kemarau saat ini diharapkan menguntungkan bagi petani.

Rata-rata pembelian tembakau di masing-masing gudang belum sampai 50 persen dari target pembelian. Bahkan ada gudang yang realisasi pembeliannya masih 19 persen. ”Berdasarkan hasil serapan dan laporan dari tim pemantau tanggal 23 Agustus–16 September 2017 masih mencapai 40 persen,” terang Kepala Disperindag Pamekasan Bambang Edy Suprapto.

Target pembelian PT Garam 5.500 ton. Namun, hanya terealisasi 2,758 ton. PT Sadhana Arifnusa target pembelian 2 ribu ton. Hanya terealisasi 1.341 ton. Sementara PT Djarum dengan target 9 ribu ton, hanya terealisasi 1.792 ton. PT Nojorono menarget 1,300 ton, tapi terealisasi 432 ton.

PT Sukun dengan target 500 ton masih terealisasi 255 ton. ”Total realisasi sekitar 8.406 ton atau 40,42 persen dari target 20.800 ton,” kata Bambang.

Dia memperkirakan kemarau terjadi tahun ini hingga pertengahan Oktober. Dia berharap pabrikan membeli tembakau petani. ”Kami harapkan agar serapan sesuai target yang direncanakan,” ujarnya.

Dia mengingatkan pihak gudang tidak serta merta melakukan penutupan. Sesuai amanat perda, H-7 pabrikan harus melaporkan kapan buka atau gudang akan ditutup. Sampai sekarang belum ada laporan penutupan. ”Informasinya, gudang akan membeli sampai habis tembakau di Pamekasan. Cuma satu minggu sebelum tutup gudang harus dilaporkan tanggal penutupannya,” ujarnya.

Anggota DPRD Pamekasan Harun berharap disperindag terus menjalin komunikasi dengan gudang untuk memaksimalkan serapan. ”Jangan sampai pembelian diperlambat hingga tiba pada musim penghujan. Tentu itu sangat merugikan petani,” pungkasnya.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia