Selasa, 21 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Tokoh Lintas Agama Sikapi Krisis Kemanusiaan di Myanmar

Rabu, 13 Sep 2017 12:35 | editor : Abdul Basri

PEDULI ROHINGYA: Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pamekasan KH. Muid Khozin bersama Sekretaris FKUB Pamekasan Sapto Wahyono di mapolres Selasa (12/9).

PEDULI ROHINGYA: Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pamekasan KH. Muid Khozin bersama Sekretaris FKUB Pamekasan Sapto Wahyono di mapolres Selasa (12/9). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine, Myanmar, menimbulkan luka mendalam bagi tokoh lintas agama di Pamekasan. Sebagai wujud sikap tegas, mereka menggelar koodinasi lintas instansi dan membuka posko solidaritas.

Terik matahari menyengat. Jarum jam menunjuk angka 12.30. Sejumlah tokoh lintas agama keluar dari ruang utama Mapolres Pamekasan Selasa (12/9). Kapolres AKBP Nowo Hadi Nugroho tampak semringah melepas kepulangan tamu kehormatan itu.

Mobil minibus menunggu tepat di bawah langit beratap sinar ultraviolet. Satu per satu tokoh lintas agama itu masuk mobil. Tampak dari kejauhan, dua orang memakai serban dan kopiah masih berbincang ringan.

Dia adalah Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pamekasan KH. Muid Khozin. Dia berbincang dengan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pamekasan Sapto Wahyono.

Pohon besar yang tumbuh subur di halaman belakang Mapolres Pamekasan menjadi tabir kontak sinar matahari dengan tubuh tokoh lintas agama tersebut. Tepat di bawah pohon rindang itu, Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berbincang tentang kedatangan mereka.

Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pamekasan KH. Muid Khozin mengatakan, kedatanganya ke mapolres bertujuan menjalin silaturahmi dengan pimpinan Koprs Bhayangkara.

Ada beberapa poin yang dibicarakan. Salah satunya, komitmen bersama menjaga kondusivitas dan kerukunan antarumat beragama di Pamekasan. Polisi yang bertugas sebagai pengamanan dirasa perlu bertukar informasi dan pendapat.

Poin lainnya mengenai tragedi kemanusiaan di Myanmar. Pembantaian terhadap warga etnis Rohingya di Rakhine State membuat seluruh tokoh lintas agama prihatin. ”Kami peduli terhadap krisis kemanusiaan di Myanmar,” katanya.

Sebagai langkah kepedulian terhadap tragedi yang bermula sejak 25 Agustus itu, tokoh lintas agama berencana melakukan kegiatan. Yakni, membuka posko solidaritas dengan konsep penggalangan dana.

Menurut Muid, kepedulian muncul murni karena kemanusiaan. Bukan karena latar belakang agama. Seandainya krisis kemanusiaan itu menimpa agama selain Islam, tokoh lintas agama tetap akan menggelar aksi solidaritas.

Selain penggalangan dana, tokoh lintas agama akan melaksanakan doa bersama. Dengan harapan, krisis kemanusiaan segera berakhir. Kondusivitas di wilayah konflik bisa kembali normal.

Disinggung mengenai kerukunan antarumat beragama di Pamekasan, Muid memastikan sangat kondusif. Tidak ada gesekan di masyarakat yang dilatarbelakangi persoalan agama.

Dia berharap, kerukunan berjalan sampai kapan pun. Tokoh lintas agama berkomitmen menjaga keakraban dan toleransi. ”Toleransi, saling menghargai, dan menghormati harus kita jaga bersama,” ucapnya.

Sekretaris FKUB Pamekasan Sapto Wahyono menyatakan, pendirian posko bersama untuk solidaritas Rohingya itu akan dibangun dalam waktu dekat. Pihaknya bakal berkoordinasi intens di internal pengurus.

Aksi tersebut merupakan bentuk konkret kepedulian FKUB terhadap krisis kemanusiaan di Rohingya, Myanmar. ”Semua tokoh lintas agama mendukung (aksi solidaritas). Dalam waktu dekat, akan direalisasikan,” ujarnya.

Kapolres AKBP Nowo Hadi Nugroho mengaku siap mengamankan kondusivitas masyarakat Pamekasan. Pendekatan persuasif akan dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketertiban. ”Kami siap menjaga kondusivitas Pamekasan,” tandasnya.

Di tempat terpisah, sejumlah ulama, kiai, dan aktivis menemui Plt Bupati Pamekasan Khalil Asy’ari kemarin (12/9). Mereka yang tergabung dalam Gabungan Umat Islam Pamekasan (GUIP) itu ditemui di ruang PKK.

Mereka membahas tragedi di Rohingya. Ada beberapa poin yang disampaikan GUIP kepada pemerintah. Di antaranya, mengutuk tindak kejahatan kemanusiaan oleh militer Myanmar dan mendesak pemerintah Indonesia menekan Myanmar agar menghentikan tindak kejahatan kemanusiaan.

GUIP juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Budha di Indonesia untuk tidak takut. Sebab, umat Islam di Indonesia tidak akan terprovokasi. ”Kita tunjukkan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin,” kata Khairul Umam, ketua HMI Cabang Pamekasan, yang bergabung dalam GUIP.

Khalil Asyari menyampaikan sepakat dengan beberapa usulan dan masukan GUIP. Pemkab akan beriringan dangan ormas, kiai, dan ulama. ”Pemkab juga iuran untuk membantu warga etnis Rohingnya. Kalau sudah terkumpul, bantuan akan kita kirimkan. Kalau bisa melalui ormas Islam yang selama ini banyak mengirim bantuan,” ucapnya.

(mr/pen/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia