Kamis, 23 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Dewan Pendidikan Tak Akomodasi Perempuan

Rabu, 13 Sep 2017 12:30 | editor : Abdul Basri

Dewan Pendidikan Tak Akomodasi Perempuan

PAMEKASAN – Komposisi anggota Dewan Pendidikan Pamekasan 2017–2022 menuai kritik. Sebab, sebelas anggota dewan pendidikan yang sudah ditetapkan, semuanya laki-laki. Di samping itu, unsur keterwakilan dari PGRI tidak ter-cover.

Sebelas calon pengurus dewan pendidikan itu di antaranya, HM. Sahibuddin, Atiqullah, Akh. Fakih, Abd. Razak Bahman, Zainal Alim, dan Moh Hafid Efendy. Kemudian, Zainuddin Syarif, Slamet Goestiantoko, Mahrus Miyanto, Sajjad, dan Supandi.

Munculnya nama Abd. Razak Bahman sempat menjadi perbincangan. Sebab, yang bersangkutan merupakan ketua panitia seleksi calon anggota dewan pendidikan. Saat dikonfirmasi, Razak memastikan dirinya tidak ikut menyeleksi. ”Yang menentukan anggota Dewan Pendidikan itu bapak bupati,” ujarnya, Selasa (12/9).

Menurut Razak, tidak ada aturan panitia tidak boleh mendaftar. Sebab, panitia hanya bertugas menyeleksi secara administratif. Seleksi itu dilakukan manakala pendaftar melebihi batas yang ditentukan.

Saat diseleksi, ada 26 orang yang mendaftar. Sebelum dilakukan evaluasi, ada dua pendaftar yang mengundurkan diri. Panitia seleksi kemudian mencoret dua nama sebelum diserahkan kepada bupati. ”Kami mengajukan 22 nama kepada bupati. Oleh bupati dipilih sebelas calon anggota dewan pendidikan,” tegasnya.

Terkait tidak adanya perempuan, menurut Razak, juga merupakan keputusan bupati. Sebab, dari 22 nama yang disetorkan kepada bupati, sudah ada unsur perempuan. Dia mengaku tidak bisa memberikan penjelasan panjang mengapa tidak ada perempuan yang terpilih.

Tentang tidak dilibatkannya unsur PGRI, kata Razak, tidak sepenuhnya benar. Jika dilihat dari sisi struktural, bisa saja tidak ada unsur PGRI. Namun jika membaca PGRI secara substantif, anggota dewan pendidikan rata-rata guru. ”Mereka yang mengajar di perguruan tinggi juga termasuk guru,” katanya.

Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Wardatus Sarifa mengaku kecewa karena tidak ada keterwakilan perempuan di dewan pendidikan. Padahal idealnya, dalam setiap lini kehidupan, khususnya bidang pendidikan, perempuan dilibatkan.

Hal itu dilakukan guna mewadahi aspirasi kaum hawa di dunia pendidikan. ”Seharusnya, unsur perempuan masuk. Pertimbangan dan masukan kaum perempuan sangat penting untuk memajukan pendidikan di Kota Gerbang Salam,” pungkasnya.

(mr/mam/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia