Minggu, 24 Sep 2017
radarmadura
Ekonomi Bisnis

Petani Garam: Pengusaha Jangan Membeli Garam Impor

Senin, 11 Sep 2017 13:05 | editor : Abdul Basri

KERJA KERAS: Petani memasukkan hasil panen garam ke sak di tambak Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Sampang, Minggu (10/9).

KERJA KERAS: Petani memasukkan hasil panen garam ke sak di tambak Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, Sampang, Minggu (10/9). (ZAINAL ABIDIN/Radar Madura/JawaPos.com)

SAMPANG – Sampang merupakan salah satu daerah penghasil garam. Petani mulai panen. Bahkan ada yang panen ketiga. Mereka pun berharap hasil produksi kali ini berbanding lurus dengan keberpihakan harga.

Achmad Junaidi, warga Desa Tambaan, Kecamatan Camplong, menuturkan, tengkulak maupun pabrikan belum membeli garam. Karena itu, garam yang dikais dari lahan disimpan sebelum terjual. Dia meminta pemerintah menstabilkan harga garam. 

Jika garam terjual murah, petani rugi. Dia berharap, pabrikan atau perusahaan membeli garam lokal. ”Pabrik maupun pengusaha jangan membeli garam impor. Karena itu akan berdampak pada harga garam lokal. Otomatis, garam lokal tidak dibeli,” ujar pria 47 tahun tersebut.

Biasanya, dia menjual garam kepada tengkulak. Oleh pembeli kemudian dijual ke pabrikan di Pamekasan. ”Harga juga ditentukan mereka. Terkadang dijual eceran. Harganya Rp 70 ribu per sak,” terangnya.

Kepala Disperdagprin Sampang Wahyu Prihartono berjanji akan berkoordinasi dengan pabrikan. Juga bakal bermusyawarah bersama semua tengkulak dan pengusaha garam untuk membantu penyerapan garam rakyat. Dia mengatakan, selama ini penentuan harga disesuaikan dengan jenis dan kualitas garam.

Kualitas satu (kw-1) bisa mencapai Rp 700 ribu per ton. Kw-2 sebesar Rp 600 ribu dan kw-3 senilai Rp 400 ribu per ton. ”Tapi, bergantung pada spesifikasi garamnya. Di Madura, khususnya Sampang, belum memenuhi kualitas standar garam bagus atau disebut premium. Harganya cenderung rendah,” terangnya.

Kualitas garam di Kota Bahari rata-rata di bawah kriteria. Misalnya, kualitas kandungan natrium klorida, kadar magnisum, dan kadar air di atas 98 persen. Dia berharap, petani bisa meningkatkan kualitas agar harga jual lebih tinggi. ”Kalau pengolahan maksimal, kualitas garam yang dihasilkan pasti bagus,” katanya.

(mr/nal/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia