Jumat, 24 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Kebijakan Impor Peloroti Harga Garam Lokal

Minggu, 10 Sep 2017 04:28 | editor : Abdul Basri

TERIK: Petani mengangkut garam hasil panen di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Sabtu (9/9).

TERIK: Petani mengangkut garam hasil panen di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Sabtu (9/9). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Petani garam bisa bernapas lega. Cuaca stabil. Masa panen bisa lebih panjang. Hasil produksi diprediksi lebih banyak daripada sebelumnya. Namun, kebahagiaan mereka terganggu harga yang kian melorot setelah pemberlakuan impor garam.

Zainal Abidin, 57, mantong asal Sumenep, yang menggarap lahan di Pademawu, mengeluhkan anjloknya harga garam. Petani seolah dipermainkan. Saat cuaca buruk lantaran kemarau berkepanjangan, harga kristal putih melejit. Bahkan, harganya menjadi tertinggi sepanjang sejarah industri garam. Per kilogram laku hingga Rp 4 ribu.

Jika petani memiliki satu ton garam, sudah jelas bisa mengantongi 4 juta pundi rupiah. Tingginya harga tersebut mengalahkan rekor harga garam tinggi pada 1996. Saat itu harga garam tembus Rp 1,5 juta per ton. ”Harga garam sampai Rp 4 ribu itu baru terjadi kali ini,” kenang warga asal Kecamatan Kalianget, Sumenep, itu Sabtu (9/9).

Ketika musim normal, harga garam justru melorot. Petani tidak bisa meraup untung besar. Menurut dia, pasca adanya impor, harga barang konsumsi itu cenderung menurun. Mulai Rp 2 ribu per kilogram sampai Rp 1 ribu.

Meski jumlah produksi dan kualitas garam lebih baik daripada sebelumnya, keuntungan yang didapat tidak sebesar saat garam dinyatakan langka. Sekarang garam banyak, tapi harganya murah.

Zainal berharap pemerintah mengambil sikap. Stabilitas harga harus terjaga. Perbedaan pada waktu garam langka dan normal tidak jomplang. Meski ada perbedaan, tidak terlalu besar.

Bapak dua anak itu menyampaikan, industri garam tidak hanya mendongkrak perekonomian petani. Namun, juga membuka lapangan pekerja. ”Kalau harga stabil, petani bisa meraup untung besar,” ucapnya.

Kabid Perdagangan Disperindag Pamekasan Slamet Riady menyatakan, walaupun ada penurunan, harga garam terbilang tinggi. Minimal, lebih tinggi daripada harga sebelum Indonesia mengalami kelangkaan garam beberapa waktu lalu.

Menurut dia, harga garam memang tidak seharusnya sangat mahal. Sebab, berdampak pada industri kecil menengah yang menggunakan bahan baku garam. ”Seperti penjual bakso, penjual es, akan terpengaruh,” katanya.

Dengan demikian, petani diminta tetap kondusif menjalankan usaha tani garam. Jika ditekuni, bakal menghasilkan keuntungan. Juga akan mendongkrak kesejahteraan warga.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia