Kamis, 23 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Sebut Yayasan Panembahan Somala Serobot Lahan Warga

Minggu, 10 Sep 2017 04:01 | editor : Abdul Basri

SENGKETA: Lahan persawahan di Desa Patean, Kecamatan Batuan, Sumenep, ini menjadi sengketa antara tiga warga dan Yayasan Panembahan Somala (YPS).

SENGKETA: Lahan persawahan di Desa Patean, Kecamatan Batuan, Sumenep, ini menjadi sengketa antara tiga warga dan Yayasan Panembahan Somala (YPS). (ABD. MUKSIDYANTO/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Dugaan penyerobotan lahan dialami sejumlah warga di Sumenep. Penyerobotan yang diduga dilakukan Yayasan Panembahan Somala (YPS) itu menimpa tanah milik beberapa orang. Tiga orang sudah mengadukan dugaan penyerobotan itu ke Polres Sumenep.

Yaitu, Imam Sahrawi, 48; Rusmiyati, 55; dan Sri Hartatik, 55. Ketiganya merupakan warga Desa Kebonagung, Kecamatan Kota Sumenep. Mereka telah mengadukan dugaan penyerobotan tanah melalui Farid Fathoni AF selaku kuasa hukum.

Masalah itu diadukan ke Polres Sumenep sejak 13 Juli 2015 melalui kuasa hukum. Tapi, menurut Farid Fathoni, sampai saat ini belum ada perkembangan. Bahkan tidak ada pemanggilan terhadap para pihak.

Alasan pengaduan itu antara lain, para pengadu memiliki tanah dan rata-rata dikelola sejak 1950-an. Tanah itu terletak di Desa Patean, Kecamatan Batuan. Advokat asal Jakarta itu mengklaim  memiliki bukti-bukti cukup valid.

”Di antaranya letter C, keterangan peta bidang atau peta ricik, buku induk pajak bumi, dan bangunan yang dilegalisir desa dan surat pernyataan penguasaan tanah disertai keterangan saksi. Kemudian, pernyataan penguasaan ahli waris dan penyerahan waris,” bebernya.

Farid Fathoni menyampaikan, teradu dalam hal ini YPS mengajukan sertifikasi tanah secara masal pada 2009. Teradu versi pelapor tidak pernah menghubungi atau mengklarifikasi kepada pemilik tanah.

Selain itu, diduga terjadi tindak pidana berupa penyerobotan tanah atau pemalsuan surat dan perbuatan curang. Perkembangan penyelidikan oleh polisi tidak jelas. Bahkan, sambung Farid, sudah setahun lebih laporan ngendap di Polres Sumenep. ”Kami pernah mendatangi polres menanyakan ini, tetapi alasannya masih akan dilakukan pemeriksaan dan gelar perkara,” katanya.

Padahal, untuk menguatkan laporan, telah disertakan bukti-bukti kepemilikan atas tanah kurang lebih seluas satu hektare tersebut. Dengan bukti valid itu, mestinya polisi bisa segera menindaklanjuti. Bukan membiarkan kasus itu ngambang.

Sementara itu, Pengacara YPS Wijono Subagyo belum bisa dimintai keterangan. Saat dihubungi melalui telepon, hanya terdengar nada sambung aktif. Sedangkan Kasubbaghumas Polres Sumenep AKP Suwardi mengaku masih akan kroscek ke penyidik.

(mr/sid/hud/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia