Selasa, 21 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Features

Syamsul Arifin Raih Medali Perunggu Ajang Matematika Internasional

Sabtu, 09 Sep 2017 02:00 | editor : Abdul Basri

MEMBANGGAKAN: Mohammad Syamsul Arifin Bakry mengibarkan bendera Merah Putih setelah meraih medali perunggu IMOYA di Singapura.

MEMBANGGAKAN: Mohammad Syamsul Arifin Bakry mengibarkan bendera Merah Putih setelah meraih medali perunggu IMOYA di Singapura. (MOH. KHOLIS FOR Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Sebagai Kota Pendidikan, Pamekasan dituntut selalu meningkatkan mutu pendidikan. Salah satunya melalui raihan prestasi. Terbaru, siswa madrasah meraih medali perunggu di ajang internasional.

Kebanggaan tak terkira menyelimuti Mohammad Syamsul Arifin Bakry. Dia berhasil membentangkan bendera Merah Putih di luar negeri. Itu setelah siswa madrasah itu dinyatakan sebagai peraih medali perunggu lomba matematika tingkat internasional.

Pretasi itu diraih dalam ajang International Math Open for Young Achievers (IMOYA) di Singapura pada 1–4 September. Lomba tersebut diikuti oleh 12 negara. Kecerdasan dan ketangkasan remaja 14 tahun itu mampu menyisihkan belasan kompetitornya. Prestasi itu sudah cukup membanggakan Bangsa Indonesia.

Saat berangkat ke Singapura, dia rela tidak melaksanakan salat Idul Adha bersama keluarga. Saat itu, sareyang dua bersaudara itu menuju Singapura. Namun hal itu menjadi momentum dan motivasi untuk meraih prestasi.

Untuk menggapai juara tersebut memang tidak mudah. Harus menguasai bahasa Inggris. Sebab soal-soal yang diberikan kepada peserta menggunakan bahasa internasional. Jawabannya pun juga harus berbahasa Inggris.

Kemampuan Syamsul di bidang matematikan sudah terlihat saat dia mengikuti seleksi pada pusat pendidikan matematika (PPM) di Jakarta. Saat mengikuti tes, dia memiliki nilai cukup tinggi. Karena itu, dia berhak mewakili Indonesia untuk mengikuti ajang bergengsi itu.

Di madrasah yang dikenal dengan sebutan MTsN Sumber Bungur itu dia juga tercatat sebagai siswa dengan prestasi cukup gemilang. Berkali-kali langganan juara lomba matematika, baik tingkat kabupaten, provinsi maupun nasional.

”Dia memang memiliki bakat sejak masih berada di tingkat MI. Itu berdasarkan informasi dari orang tuanya saat akan dimasukkan ke MTs. Makanya, dia kami bina secara khusus,” terang Kepala MTsN 3 Pamekasan Mohammad Kholis.

Secara akademis, putra pasangan H. Moh. Bakri dan Zainiyah itu juga tercatat sebagai peserta didik cerdas istimewa (PDCI). Itu dibuktikan dengan mengikuti program kelas akselerasi. Peserta program ini bisa menuntaskan jenjang MTs dalam dua tahun.

Perolehan indeks prestasi Syamsul pada semester pertama melampaui yang tiga tahun. Karena itu, dia  masuk program yang dua tahun menggunakan sistem kredit semester. ”Kalau mengikuti yang formal tiga tahun,” kata Kholis.

Sebelum mengikuti lomba tersebut, Syamsul dibina secara intens. Pembinanya merupakan guru MTsN Sumber Bungur sendiri. Menjelang perlombaan dimulai, tim dan peserta kemudian disinkronkan oleh PPM.

Prestasi yang diraih Syamsul ada benang merahnya dengan kehidupan keluarganya. Warga Desa Ragang, Kecamatan Waru, itu hidup di keluarga terdidik. Ayahnya, Moh. Bakri merupakan kepala MI Miftahul Ulum di desanya.

Selain itu, ayahnya pedagang tembakau. Yang juga ada hubungan dengan angka dan hitung-menghitung. Kini, remaja kelahiran 2003 itu tercatat sebagai siswa kelas VIII. Dia tinggal di asrama bersama siswa PDCI yang lain.

Syamsul menjelaskan, soal pada babak penyisikan menggunakan tes tulis. Berbentuk pilihan ganda dan uraian. Pada babak penentuan, dia harus mempresentasikan jawaban soal yang diisi.

”Alhadmulillah kami senang dengan prestasi ini. Meskipun target saya untuk meraih medali emas tidak tercapai. Namun ini sudah menjadi motivasi bagi saya untuk semakin giat belajar,” katanya.

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia