Rabu, 20 Sep 2017
radarmadura
Hukum & Kriminal

Rampas Motor dengan Cara Preman , Debt Collector Dipolisikan

Kamis, 07 Sep 2017 14:34 | editor : Abdul Basri

PAMEKASAN – Cara-cara kasar debt collektor merampas motor dari nasabah perusahaan leasing masih terjadi. Seperti dialami Ainur Rosyid. Motor nopol M 2144 XE miliknya dirampas dengan cara menyerupai preman. Atas tindakan itu, pengusaha koperasi itu resmi melapor ke Polres Pamekasan.

Kuasa Hukum Ainur Rosyid, Ach. Supyadi mengatakan, perampasan motor terjadi pada Selasa siang (5/9). Tempat kejadian perkara (TKP) di Jalan Pintu Gerbang Pamekasan. Motor Honda itu dibawa karyawan koperasi milik Ainur Rosyid bernama Umarul Faruk.

Setibanya di Jalan Pintu Gerbang, dua orang berboncengan memepet Umarul Faruk yang hendak mengunjungi nasabahnya. Dua debt collector itu memaksa meminta kunci motor. Alasannya, motor tersebut nunggak tiga bulan.

Umarul Faruk menolak menyerahkan kunci motor. Sebab, motor tersebut bukan milik dia. Tapi, milik Ainur Rosyid. ”Akhirnya, debt collector itu menyuruh Umarul Faruk berangkat. Tapi setelah berangkat, Umarul Faruk ditabrak lalu kuncinya dirampas,” katanya kemarin (6/9).

Karena kunci dirampas, motor itu dititipkan di rumah salah satu nasabah koperasi yang hendak didatangi. Tapi beberapa saat kemudian, motor itu dibawa oleh debt collector yang nyaris membuat Umarul Faruk terjatuh.

Atas tindakan premanisme tersebut, Supyadi melaporkan debt collector. Laporan masuk ke Sentra Pelayanan Kepolisan Terpadu (SPKT) Polres Pamekasan dengan LP 283/IX/2017/JATIM/RES PMK.

Supyadi berharap, polisi menindaklanjuti laporan itu. Sebab, tindakan premanisme yang dilakukan juru tagih tidak dibenarkan oleh aturan. Apalagi, tindakan perampasan yang tersebut masuk kategori pidana.

Menurut dia, juru tagih tugasnya hanya menagih, bukan merampas. Satu-satunya instansi yang bisa menyita barang adalah pengadilan. ”Atas tindakan itu, klien kami mengalami kerugian belasan juta rupiah,” katanya.

Kasubbaghumas Polres Pamekasan AKP Osa Maliki membenarkan laporan tersebut. Menurut  dia, polres akan menindaklanjuti pelaporan itu. Langkah awal yang akan dilakukan adalah meminta keterangan dari saksi.

Menurut Osa, perampasan motor di tengah jalan tidak boleh dilakukan. Penyitaan bisa dilakukan pengadilan atau kepolisian yang memiliki surat perintah dari pengadilan. ”Pasti kami tindak lanjuti pelaporan ini,” tandasnya.

(mr/pen/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia