Rabu, 22 Nov 2017
radarmadura
icon featured
Features

Narapidana Tak Ingin Bebani Ekonomi Keluarga di Rumah

Rabu, 06 Sep 2017 05:00 | editor : Abdul Basri

KREATIF: Warga binaan Rutan Kelas II-B Sumenep menunjukkan hasil kerajinan miniatur kapal pesiar yang terbuat dari sendok kayu atau stik eskrim.

KREATIF: Warga binaan Rutan Kelas II-B Sumenep menunjukkan hasil kerajinan miniatur kapal pesiar yang terbuat dari sendok kayu atau stik eskrim. (FATHOR RAHMAN/Radar Madura/JawaPos.com)

Penyesalan tidak perlu mematikan kreativitas. Itulah yang tertanam di benak sejumlah narapidana di Rutan Kelas II-B Sumenep. Mereka membuat kerajinan tangan dari berbagai bahan baku.

            SENDOK kayu atau stik eskrim bekas bisa bermanfaat di tangan orang terampil. Benda yang sering ditemukan di tempat sampah itu disulap menjadi miniatur perahu kapal penisi. Hasil kreativitas itu bernilai karena banyak diminati pembeli.

Di saat jauh dari keluarga, para napi merasa menyesal dengan perbuatan yang mengantarkan meringkuk di balik tahanan. Apalagi mereka tidak bisa menafkahi keluarga setelah dipenjara. Itulah yang menjadi beban sejumlah napi. 

Selama menjalani masa hukuman itu mereka berpikir agar keberadaannya tidak justru membebani keluarga. Salah satunya berupaya agar tetap bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga di rumah. Mereka bisa mengirim uang kepada keluarga dari dalam jeruji besi.

Selama di dalam rutan, mereka diberi kesempatan untuk berkarya. Dari belasan kerajinan, ada beberapa yang berpotensi. Salah satunya kerajinan tangan stik eskrim yang dikembangkan. Bahan baku ini kemudian dibuat berbagai macam kerajinan.

Yang paling diminati pembeli adalah miniatur perahu, kapal penisi, hingga kapal pesiar. Napi membuat miniatur kapal dengan berbagai bentuk, jenis, dan ukuran.

Satu per satu stik eskrim dirajut menggunakan lem. Satu demi satu batang sendok kayu disusun menjadi barang bernilai. Dengan sabar mereka membuat sesuai pengetahuan masing-masing.

Mereka hanya dibekali alat seadanya sehingga tidak membahayakan napi lain di dalam sel. Akibatnya, mereka dituntut lebih kreatif. Sebagian besar bahan disediakan pihak rutan. Ada pembagian hasil jika ada yang laku. Karya mereka diminati pengunjung.

Keterbatasan alat tidak mengurangi niat mereka. Berkarya dengan baik dan menghasilkan uang. ”Kita sudah tidak bisa bekerja untuk keluarga. Setidaknya kita tidak membebani keluarga yang kita tinggalkan,” kata Fathor rahman, seorang napi perajin miniatur kapal pesiar.

Harga miniatur kapal bergantung pada jenis, model, dan ukuran. Tingkat kesulitan dan ukuran memengaruhi harga. Paling kecil sekitar 10–15 sentimeter dibanderol Rp 150 ribuan. Yang lebih besar Rp 250 ribu. Pesanan yang cukup besar bisa mencapai Rp 500 ribu–Rp 750 ribu.

”Kalau ada hasil lebih, kami mengirim ke rumah. Keluarga yang ke sini tidak perlu sibuk mencari uang. Kami berusaha memberikannya jika ada uang,” ucap Fathor Rahman.

Kesibukan tersebut bisa menghilangkan stres. Jika tidak ada aktivitas, napi merasa jenuh. Mereka teringat keluarga di rumah. ”Keterampilan ini sebenarnya sudah lama saya tahu. Tapi, di sini kami bisa kembali menekuni dengan waktu yang lebih banyak berkarya,” ucapnya.

Kepala Rutan Kelas II-B Sumenep Ketut Akbar Herry Achjar mengatakan, banyak potensi bisa digali. Selain bisa memproduksi kerajinan, juga bisa membantu warga binaan. ”Meski di dalam sel mereka tetap bekerja. Hasilnya, mereka juga yang merasakannya,” ujarnya.

Ide kreativitas itu dikembangkan sejak beberapa bulan terakhir. Awalnya hanya segelintir napi. Kini, semua sel sudah mengembangkan kerajinan. Hasil kerajinan dipasarkan kepada pengunjung dan ke tempat wisata di Sumenep. ”Sejumlah pejabat memesan hasil karya mereka,” pungkas Ketut Akbar Herry Achjar.

(mr/fat/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia