Rabu, 20 Sep 2017
radarmadura
Resensi

Melindungi Nurani dari Tindakan Koruptif

Minggu, 03 Sep 2017 17:15 | editor : Abdul Basri

BOLEH jadi, fenomena korupsi yang semakin merebak dengan bukti semakin banyaknya pejabat negara, baik di tingkat pusat maupun daerah yang ditangkap OTT oleh KPK, disebabkan betapa kotornya hati nurani pejabat publik itu. Nurani yang kotor akan menyebabkan tindakan mereka jauh dari nilai-nilai kebaikan dan keadilan. Nurani yang kotor, menyebabkan hati menjadi culas dan serakah. Gaji berapa pun besarnya yang diterima para pejabat itu, tidak akan mencukupi di hadapan nurani yang kotor.

Kini saatnya, penyair Indonesia dari berbagai daerah merespons secara nyata dengan bergabung dalam gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK). Gerakan ini mau tak mau harus dilakukan di tengah kian sistemik dan canggihnya laku korupsi. Gerakan yang mendesak digulirkan sebagai sarana mempresentasikan seruan moral kepada masyarakat, agar secara filosofis dan praktis turut mewaspadai munculnya nurani kotor yang bermental korupsi sejak dini, serta mencegah perilaku korup yang lebih lanjut.

Sebagaimana dicatat Sosiawan Leak dalam halaman cover belakang Bunga Rampai PMK; Bergerak dengan Nurani ini. Gerakan Puisi Menolak Korupsi mengambil posisi sebagai gerakan kultural. Melengkapi gerakan lain yang dilakukan sejumlah unsur dari berbagai lapisan masyarakat.

Gerakan ini pada hakikatnya menyatu dan padu dengan semua kekuatan yang beriktikad mengawal proses ”perjalanan” pejabat negara dalam membangun bangsa ini yang berkeadilan dan bermartabat, terhindar dari rasuah. Gerakan ini juga menjadi sarana bagi penyair menyatakan sikap tegas, mendedah untuk menolak perilaku hidup korup. Di samping itu, PMK didirikan sebagai usaha minimal para sastrawan melalui sajak-sajaknya guna selalu membersihkan nurani dari tindakan korupsi.

Konten buku ini adalah catatan-catatan sastrawan nasional Indonesia berbentuk esai. Semuanya berisi informasi mendalam perihal PMK dalam kaitannya dengan road show penyair untuk memperjuangkan sikap antikoruptif melalui hati nurani yang bersih, terhindar dari tindakan culas dan serakah.

Terhimpun 79 esai  dibagi pada lima tema. Yaitu, pertama, Episode Gerakan yang menghimpun 37 esai. Tema kedua Episode KONNAS terdiri dari 12 esai. Tema ketiga Episode Road Show yang berisi 24 laporan laskar PMK di berbagai kota seluruh Indonesia. Dan tema Episode Langgam berisi 1 esai khusus dari koordinator PMK Sosiawan Leak. Kemudian ditutup oleh Episode Khazanah yang menampilkan laporan-laporan kegiatan PMK pada road show di atas. Keseluruhan materi dalam buku ini disusun secara sistematis dan jelas.

Esai yang terhimpun bukan esai picisan. Sejumlah nama besar ada dalam buku ini. Misalnya Bambang Widiatmoko menulis esai berjudul Ketika Korupsi Menjadi Puisi (hlm. 31). Beni Setia menulis Melawan Korupsi Sampai Akhirat (hlm. 37). Ahmadun Yosi Herfanda menulis Arti Puisi di Tengah Zaman Korup (hlm. 217). Lathifah Edib menulis Puisi, Korupsi, dan Makna Perjuangan (hlm. 235), dan sebagainya. Berbagai penulis andal terhimpun dengan apik dan menarik.

Di bagian Episode Langgam, dengan esai berjudul Puisi Menolak Korupsi; Bergerak dengan Nurani yang ditulis koordinator PMK, benar-benar membetot perhatian peresensi. Dalam esai inilah gerakan PMK dijabarkan dengan luar biasa hebat dari; dasar pemikiran didirikannya PMK, keuangan PMK, gerak PMK, kemandirian ideologi dan ekonomi PMK, sampai diadakannya Konferensi Nasional (Konnas) PMK pertama pada 2016 di Semarang (hlm. 381-391).

Sosiawan Leak mengungkap dengan baik alasan PMK berdiri. Adalah ide dari Heru Mugiarso (penyair ’priayi’ Semarang) itu yang mula-mula disampaikan kepada Bung Leak, demikian ia biasa dipanggil, untuk menjadi koordinator penyair nasional demi bergerak melawan korupsi. Secara spontan ide itu ditanggapi dengan kalimat tanya, ”Dari mana duitnya?”

Pertanyaan itu ia kemukakan ke Heru. Sebab selama ini ada kecenderungan bahwa jika tema koruptif menjadi inti dari puitik jalur ini akan dituduh pendangkalan atas puisi-puisi. Sebab di dalamnya akan timbul kata-kata banal, profan, pamfletis, dan propagandis. Bung Leak memprediksi cara berpuisi seperti itu tidak akan digemari oleh ”pasar” yang selama ini lebih percaya kepada teknik berpuisi lewat simbolisme mendayu, buaian metafora, serta pengucapan makna puitik dari wilayah buram dan kegelapan (hlm. 382).

Kekhawatiran itu menjadi sirna setelah ditawarkan kepada para penyair nasional, bahkan internasional. Akhirnya, dukungan terus bergelora dari penyair semisal Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmadun Yosi Herfanda, Aming Aminuddin, Arsyad Indradi, Badaruddin Amin, Darman Moenir, Dimas Arika Mihardja, Gola Gong, Sutardji Chalzum Bahri, Yanusa Nugroho, dan lain-lain. Dengan begitu banyaknya dukungan, baik dana maupun karya dari penyair-penyair di atas, PMK mempunyai kedudukan strategis dan mulai diperhitungkan berbagai kalangan.

Secara keseluruhan buku yang lumayan tebal ini sangat baik untuk dimiliki sebagai awalan mengetahui apa dan mengapa PMK itu. Bagi pembaca yang mempunyai keseriusan mendukung pemberantasan korupsi, peresensi sarankan agar membaca tuntas buku ini. Selanjutnya, pembaca bolehlah bergabung dengan Bung Leak untuk bersama-sama berkontribusi pada dunia sastra dengan cara mengirimkan karya-karya terbaiknya dalam PMK-PMK.

Mari kita dukung KPK dengan cara bergabung kepada PMK ini. Yaitu cara penyair Indonesia yang bergerak dengan nurani yang bersih. Insya Allah, jika kita sama-sama berkomitmen dalam menolak korupsi, pada suatu saat negara ini akan terbebas dari perilaku kotor dan penghancur sendi-sendi negara tersebut. Mari ”satu hati tolak korupsi!” 

AHMAD MUHLI JUNAIDI

Laskar PMK 6 yang berprofesi sebagai guru sejarah di SMA 3 Annuqayah dan SMA Assalam, Cenlecen, Pakong, Pamekasan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia