Senin, 25 Sep 2017
radarmadura
Features

AKP Irma, Kasatpolair Yang Hidupi Tiga Anak Seorang Diri

Sabtu, 02 Sep 2017 15:16 | editor : Abdul Basri

BERSEMANGAT: Kasatpolair Polres Bangkalan AKP Irma Sumiati berada di sebuah speedboat Kamis (31/8).

BERSEMANGAT: Kasatpolair Polres Bangkalan AKP Irma Sumiati berada di sebuah speedboat Kamis (31/8). (VIVIN AGUSTIN HARTONO/Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Lahir sebagai perempuan tidak menyurutkan semangat Irma Sumiati. Setelah suami meninggal, dia berjuang memenuhi kebutuhan tiga anaknya. Sebagai anggota Polri, dia mengabdi secara profesional.

Satu dari 32 polisi wanita di wilayah hukum Polres Bangkalan adalah AKP Irma Sumiati. Dia juga menjadi satu dari 24 polwan yang bertugas di satuan fungsi polres. Namun, markas tempat dia bekerja berada di luar mapolres.

Kamis (31/8), kami menuju markas Satpolair Polres Bangkalan di Pelabuhan Kamal. Sampai di kantor itu dijamu petugas penjagaan di lobi utama. Petugas itu mengatakan, Kasat sedang di atas kapal feri. Perjalanan dari Surabaya menuju Kamal.

Saban hari AKP Irma Sumiati bolak-balik Kamal–Surabaya. Sebab, dia memang bertempat tinggal di Kota Pahlawan. Tak berselang lama, Kapal Penumpang Motor (KMP) Tongkol yang ditumpangi perempuan kelahiran Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara, merapat ke pelabuhan.

Setelah turun dari kapal, perempuan kelahiran 08 Oktober 1966 itu langsung menuju ruangannya. Sebelum masuk, menyempatkan bersalaman dan bertegur sapa dengan kami yang telah menunggu. Dia pun segera dimempersilakan kami masuk.

Di ruangan itu dia banyak menceritakan perjalanan panjang sebagai polwan. Lulusan SMA itu mengaku memang memiliki cita-cita menjadi polisi. Keinginan itu membuatnya termotivasi dan bersemangat dalam belajar dan berdoa untuk mencapai impian.

Selain itu, diimbangi dengan menjaga kesehatan. Di antaranya, mengonsumsi makanan tepat waktu dan kaya witamin. Juga, rutin berolahraga. Sebab, menurut dia, untuk menjadi polwan, selain harus sehat jasmani dan rohani juga harus mempunyai fisik kuat. 

Pada 1986, dia memberanikan diri mengikuti seleksi. Pada tahun itu juga diterima sebagai anggota Polri. Setelah itu menjalani pendidikan di sekolah polisi wanita (sepolwan) di Ciputat.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan dilantik sebagai anggota Polri langsung menjalankan tugas. Kali pertama ditugaskan di Polda Sulawesi Utara (Sulut). Kemudian pindah ke SPN Karombasan, Polda Sulut.

Saat bertugas di sinilah dia menikah dengan kolonel laut TNI AL Merudandha pada 1989. Pasangan suami istri ini dikaruniai tiga buah hati. Si sulung Karina Fitri Mandasari, 26, bekerja di perusahaan asing.

Anak kedua Jayanti Tarakan Nita, 25, bekerja sebagai editor di stasiun televisi swasta nasional. Sedangan si bungsu, Cesar TM, 20, mahasiwa di kampus swasta di Surabaya.

Dari Polda Sulut ke Polres Tarakan. Lalu, ke Polwil Surabaya. Setelah itu kembali ke Polda Sulut. Dari tempat tugas pertamanya itu dia digeser ke Polda Jatim. 

Saat itulah ujian datang. Suami tercinta meninggal dunia pada 2012. Sejak saat itu dia berjuang sendiri untuk membesarkan anak-anaknya.

Setelah itu dia ditugaskan ke Polres Bangkalan. Tepatnya di satpolair. Dia mulai menjalankan amanah di Kota Salak sejak 2016. Dia memimpin 14 anggota. Semua laki-laki. Kendati begitu, Irma tidak canggung memerintahkan anggota untuk menjalankan tugas. Dia menganggap mereka keluarga besar.

”Enak tugas di sini. Rasa kekeluargaanya tinggi. Ya kadang sih ada yang bandel-bandel. Tapi setelah dinasihati pasti berubah. Seperti ibu dan anak saja,” ucapnya.

Perwira pertama (pama) itu menjelaskan, dua pekan sejak bertugas sebagai Kasatpolair sudah mendapatkan ujian berat. Langsung dihadapkan dengan konflik nelayan Kwanyar dan Pasuruan.

Awalnya dia mendapatkan informasi akan terjadi konflik besar-besaran di Selat Madura. Pihaknya langsung melakukan patroli ke tengah laut. Setiba lokasi dikagetkan dengan sekitar 180 perahu yang diduga akan terlibat tawuran di tengah laut.

Dia memerintahkan nakhoda kapal masuk ke tengah-tengah nelayan itu. Tanpa takut dia keluar dari dalam kapal dengan menggunakan megaphone untuk memberikan pemahaman kepada kedua belah pihak. Tentu dengan bahasa lembut dan santun agar tidak menyinggung para pencari ikan itu.

Akhirnya konflik antara nelayan itu urung. Setelah itu, dia mengumpulkan semua nelayan Pasuruan dan Kwanyar. Pada saat itu dia kembali memberi pemahaman dan menyampaikan pesan-pesan kamtibmas.

”Pada saat meredam konflik seperti itu, rasa takut sih ada. Tapi, mau gimana lagi, mau tidak mau, siap tidak siap, harus mengambil keputusan yang tepat. Meski dalam keadaaan kepepet. Beruntung konflik itu tidak terjadi,” paparnya.

Dia mengaku tidak pernah mengeluh dalam menjalankan tugas. Meski tugas yang dijalankan sangat berat dan berisiko tinggi. ”Pekerjaan saya kan demi menjaga kamtibmas. Kan sudah jelas kalau seperti itu ada nilai ibadahnya,” terang perempuan 51 tahun itu.

Kapolres Bangkalan AKBP Anissullah M. Ridha mengapresiasi semangat dan tanggung jawab Irma dalam menjalakan tugas. Tugas yang diemban dijalankan dengan baik. ”Kami sangat mengapresiasi,” ucapnya.

Total polwan di Polres Bangkalan 32 orang. Perinciannya, 24 anggota bertugas di mapolres. Sedangkan delapan lainnya berada di empat polsek. Yakni, Polsek Kamal, Polsek Socah, Polsek Burneh, dan Polsek Sukolilo. Masing-masing dua polwan. Sedangkan 13 polsek tidak memilik polwan.

(mr/luq/bam/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia