Rabu, 18 Oct 2017
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Ini Motivasi Ghafiruddin Tekuni Kerajinan Odheng Madura

Minggu, 13 Aug 2017 14:54 | editor : Abdul Basri

BERNILAI: Ghafiruddin membuat odheng Madura khas Pamekasan Dusun Karang Dalam, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu.

BERNILAI: Ghafiruddin membuat odheng Madura khas Pamekasan Dusun Karang Dalam, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu. (IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Pemuda era 1940-an mengangkat senjata demi merebut kemerdekaan dari penjajah. Tanpa pemuda pemberani, Indonesia tak akan berdikari. Setelah 72 tahun bebas dari penjajahan, pemuda dituntut mengisi kemerdekaan dengan karya hingga bisa hidup mandiri. Semangat itulah yang ditunjukkan Ghafiruddin, perajin odheng madura.

Rumah Ghafiruddin di Dusun Karang Dalam, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, tampak sederhana. Sebuah meja dengan empat kursi duduk dipajang di depan rumah bertembok putih itu. Dua buah lencak, tempat tidur terbuat dari anyaman bambu diletakkan di kanan kiri serambi rumah.

Meski sederhana, rumah ini cukup sejuk. Di halaman rumah, sejumlah pohon mangga dan pohon jambu berdaun rindang. Sedangkan di belakang dan samping rumah terdapat pohon bambu yang menyempurnakan kesejukan.

Di rumah yang menghadap selatan inilah Ghafiruddin berkarya. Mahasiswa semester XI STAIN Pamekasan tersebut menjadi perajin odheng madura khas Pamekasan. Dari hasil karyanya, dia bisa hidup mandiri dan mampu membayar SPP kampus.

”Alhamdulillah, cukup untuk biaya kampus. Bahkan masih ada sisa lebih,” tutur Ghafir, sapaannya. Ghafir lahir di Pamekasan pada 19 Agustus 1986. Berbagai macam usaha telah dia lakukan agar bisa hidup mandiri. Pernah juga dia menjaga konter pulsa milik orang lain.

Menjadi kuli dirasakannya kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Terlebih, dia harus terikat kontrak kerja dengan orang lain. Dia ingin memulai hidup mandiri dengan berwirausaha.

Maka dipilihlah membuat odheng madura khas Pamekasan. Sengaja memilih usaha itu karena di Pamekasan sulit dijumpai perajin odheng. Bahkan Ghafir tidak yakin di Kota Gerbang Salam masih ada yang menjadi perajin odheng.

”Yang saya tahu, perajin odheng madura itu adanya di Sumenep. Kalau di Pamekasan belum pernah dengar,” kata pemuda 31 tahun itu. ”Saya belajar membuat odheng ini secara otodidak,” tambahnya.

Itulah sebabnya dia memilih berkarya dalam seni odheng. Ada dua manfaat sekaligus yang dia dapat dari bisnis ini. Pertama, dia bisa meraup untung besar. Sebab, pesaingnya sedikit atau bahkan bisa disebut tidak ada.

Kedua, dia bisa melestarikan khazanah budaya Madura. Odheng merupakan warisan budaya Madura. Jika tidak ada perajin, akan lenyap ditelan waktu.

Sejak kali pertama memulai menggarap odheng madura, banyak pesanan yang datang kepadanya. Bahkan ada pengusaha asal luar daerah yang memesan dalam jumlah ribuan. Tetapi karena belum punya karyawan, tawaran menggiurkan pun dia tolak. ”Seandainya saya punya karyawan, mungkin saya bisa ambil orderan itu,” curhatnya.

Dengan produksi sendiri, tak banyak karya yang bisa dia ciptakan. Dalam sehari, maksimal dia hanya bisa selesaikan satu hingga tiga odheng. Artinya, setiap bulan dia bisa mencipta maksimal 90 karya.

Wajar jika hanya sedikit karya yang dihasilkan. Sebab Ghafir hanya memprodukai odheng bangsawan khas Pamekasan. ”Saya jual Rp 65 ribu per buah,” tegasnya.

Ingin sekali dia merekrut karyawan. Dia punya mimpi bisa merekrut pemuda-pemuda kampung untuk dilatih agar bisa membuat odheng. Tetapi saat ini dia masih terkendala dana. ”Karena terkendala modal, saya terpaksa untuk sementara hanya produksi sendiri,” imbuhnya.

Karya-karya Ghafir selama ini dipasarkan oleh pedagang di Pasar 17 Agustus Pamekasan. Odheng karya Ghafir bukan hanya diminati masyarakat umum. Para pejabat di Pamekasan sudah ada yang pesan. Termasuk Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Ismail.

Ismail mengaku bangga ada pemuda yang berkarya untuk mempertahankan budaya leluhur. Dia sengaja pesan odheng kepada Ghafir untuk diperlihatkan kepada teman-temannya sesama anggota dewan. ”Anggota dewan diwajibkan punya baju daerah. Insya Allah 45 anggota dewan akan beli odheng ke Ghafir,” tuturnya.

(mr/mam/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia