Selasa, 23 Jan 2018
radarmadura
Pamekasan

Ratusan Santri Sambut Ainur Ridho, Sang Juara Kompetisi Bahasa Mandarin

Selasa, 20 Jun 2017 00:20

Ratusan Santri Sambut Ainur Ridho, Sang Juara Kompetisi Bahasa Mandarin

TAWADU: Ainur Ridho mencium tangan Pengasuh Pondok Pesantren Maktuba KH Abdul Bayan Senin (19/6). ( IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Ratusan santri Pondok Pesantren Maktab Nubdzatul Bayan Al-Majidiyah (Maktuba), Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, antusias menyambut Ainur Ridho Senin (19/6). Santri yang mayoritas remaja dan anak-anak itu tak sabar menunggu kehadiran sang juara nasional kompetisi bahasa Mandarin.

Saat tiba di pesantren, yang kali pertama didatangi Ainur Ridho ialah KH. Abdul Bayan, pengasuh Pondok Pesantren Maktuba. Dengan penuh takzim, remaja kelahiran Pamekasan, 25 Desember 2001 itu mencium tangan gurunya. Pemandangan tersebut menyedot perhatian ratusan santri.

(Baca: Ainur Ridho, Santri Maktuba Juara Kompetisi Bahasa Mandarin Nasional)

Kedatangan Ainur Ridho membuat keluarga besar pesantren bangga. Termasuk KH. Abdul Bayan yang memberikan apresiasi atas capaian prestasi santrinya itu. ”Alhamdulillah, meski belajar di pesantren dengan keterbatasan fasilitas, Ainur Ridho bisa berprestasi di tingkat nasional,” ujar KH. Abdul Bayan.

Apa yang dicapai Ainur Ridho jelas menginspirasi banyak pihak. Apalagi usianya masih muda. Dia belajar bahasa Mandarin masih berjalan sekitar dua tahun, tepatnya sejak Agustus 2015. Tetapi, ketekunan membuat dirinya mampu menguasai bahasa Negeri Tirai Bambu itu.

Dalam seminggu, Ridho belajar bahasa Mandarin selama dua hari. Yakni, Rabu dan Minggu mulai pukul 14.00–15.00. Setiap hari dia istiqamah menghafal kosa kata Mandarin. Setidaknya setiap 24 jam dia harus menghafalkan lima kosa kata baru.

”Saya senang belajar bahasa Mandarin karena melihat perkembangan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat. Dewasa ini bahasa Mandarin sangat penting dikuasai,” ujar Ainur Ridho.

Dia mengaku senang karena bisa keluar sebagai juara lomba bahasa Mandarin tingkat nasional. Dia bisa berkenalan dengan pelajar lain dari berbagai provinsi di Indonesia. ”Walaupun grogi, saya tetap semangat memberikan penampilan yang terbaik,” tegasnya.

Yang tak kalah menarik, saat ikut lomba, Ainur Ridho bermodal nekat dan doa. Dia tidak mempersiapkan apa pun, terutama dalam menampilkan kebudayaan Mandarin. ”Pakaian dan kostum saya pinjam saat tampil,” tukasnya sembari tersenyum. (mam/hud/luq)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia