Sabtu, 20 Jan 2018
radarmadura
Pamekasan

Rumah Sakit Copot Infus Ririf Sebelum Meninggal

Minggu, 18 Jun 2017 18:47

Rumah Sakit Copot Infus Ririf Sebelum Meninggal

MASIH BERDUKA: Kelurga mendiang Mohammad Nur Arifin di Dusun Mayang, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Sabtu (17/6). (PRENGKI WIRANANDA/Radar Madura/JawaPos.com)

PAMEKASAN – Informasi pencopotan infus dari tangan Mohammad Nur Arifin, penderita hidrosefalus yang meninggal dunia di RSUD dr Soetomo bukan isapan jempol.  Manajemen rumah sakit mengakui pencopotan itu. Infus dibuka dipastikan bukan karena keluarga pasien belum melunasi pembayaran denda BPJS Kesehatan.

 

Jawa Pos Radar Madura (JPRM) terus menggali informasi dugaan pencopotan infus itu. Kali pertama, koran ini menghubungi Kepala Dinkes Jawa Timur Kohar Hari Santoso. Mantan Direktur Utama RSU dr Soedono Madiun itu mengaku, belum mengetahui insiden tersebut.

Dia meminta koran ini menghubungi langsung pihak manajemen rumah sakit. Atas bantuan Kohar, akhirnya JPRM bisa meminta klarifikasi langsung kepada manajemen rumah sakit pelat merah itu.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD dr Soetomo Joni Wahyuhadi mengaku, sudah meminta keterangan kepada dokter dan perawat yang menangani. Hasilnya, dibenarkan adanya pencopotan infus dari tangan Ririf –sapaan Mohammad Nur Arifin.

Dijelaskan, Rabu (14/6) sekitar pukul 12.00 tim medis mengambil sampel darah Ririf untuk dicek di laboratorium. Waktu itu, kondisi pasien masih bergerak aktif. Bahkan, bocah kelahiran 12 Desember 2014 itu menangis.

Karena kondisinya menangis, pihak keluarga menggendong Ririf. Pada waktu digendong, kata Joni, kondisi tubuh pasien kebiru-biruan. Lalu, keluarganya meletakkan kembali ke tempat tidur pasien.

Melihat kondisi itu, pihak medis memberikan oksigenasi. Pihak rumah sakit juga mengecek infus yang menancap di tangan Ririf. ”Saat dicek, ternyata infusnya tidak jalan, sehingga dibuka dulu,” katanya Sabtu (17/6).

Namun, pembukaan infus itu bukan secara permanen. Tapi, akan dipasang kembali setelah diperbaiki. Kemudian, sekitar pukul 12.30 Ririf mengalami gangguan pernapasan. Dengan demikian, tim medis melakukan resusitasi.

Sayang, tindakan mengembalikan fungsi pernapasan oleh tim medis itu tidak berhasil. Kondisi pasien juga tidak membaik. Bahkan, ubun-ubun besar (UUB) cembung tidak lagi tegang.

Kondisi Ririf terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia. Bocah malang itu mengalami malnutrisi. Bahkan, penyakit hidrosefalus yang diderita sudah kronis. ”Lingkar kepala mencapai 57 sentimeter,” katanya.

Mengenai dugaan pencopotan infus lantaran keluarga Ririf belum membayar denda keterlambatan setoran BPJS, Joni membantah dengan tegas. Menurut dia, BPJS itu tidak berpengaruh terhadap perawatan. Secara konsisten perawat memeriksa kondisi pasien.

Sementara itu, Syamsul Arifin, 25, orang tua Ririf mengaku ikhlas mengenai kepergian anak semata wayangnya itu. Keluarga sadar bahwa kematian adalah takdir Tuhan yang tidak bisa dihindari. ”Iya kami ikhlas,” katanya.

Hanya, dia masih mengaku bertanya-tanya terkait pelepasan infus itu. Sebab, pada saat di rumah sakit, perawat yang membuka infus itu beralasan karena tangan Ririf bengkak. Bukan karena mampet.

Untuk diketahui, Selasa (13/6) Ririf masuk RSUD dr Soetomo, Surabaya. Penderita hidrosefalus itu hendak operasi. Keesokan harinya, ada pencopotan infus. Pasca pencopotan infus, kondisi Ririf semakin buruk.

Matanya terpejam. Makanan dan minuman tidak lagi masuk. Kamis (15/6) sekitar pukul 13.00 anak kesayangan Aryanti itu meninggal dunia. Malam harinya, jenazah disemayamkan di kompleks pemakaman Dusun Mayang, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan. (pen/luq)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia