Sabtu, 20 Jan 2018
radarmadura
Sastra Budaya
Nyare Malem ala Komunitas Masyarakat Lumpur (KML)

Mancing Sastra Bareng Berburu Adek-Adek

Jumat, 16 Jun 2017 04:59

Mancing Sastra Bareng Berburu Adek-Adek

BERBUKA PUISI: Dari kiri, Bangkit Prayogo, Agus Alan Kusuma, dan Eko Sabto Utomo membedah buku Berburu Adek-Adek sambil menunggu buka puasa Selasa (13/6). (ROZ ZAKI FOR Radar Madura/JawaPos.com)

BANGKALAN – Bulan puasa bukan alasan untuk berhenti atau menunda aktivitas positif. Kegiatan kesenian tetap bergerak. Seperti dilakukan Komunitas Masyarakat Lumpur (KML).

 

Sebagian orang menganggap membaca puisi cukup sulit. Apalagi untuk memahami makna yang terkandung. Pandangan berbeda dirasakan para penikmat sastra.

KML merupakan komunitas yang dihuni orang-orang pencinta seni. Bukan hanya sastra. Mereka juga berkreativitas di bidang yang lain. Selasa sore (13/6) komunitas yang bertempat di Kota Salak tersebut menggelar bedah buku. Bertajuk Mancing Sastra Kelima.

Meski suasana bulan puasa, bukan buku agama yang diperbincangkan. Mereka membahas kumpulan puisi Berburu Adek-Adek. Buku ini ditulis putra asli Bangkalan Agus Alan Kusuma.

Bukan Alan yang membedah. Sore itu, yang menjadi pembedah ialah Anggota KML Bangkit Prayogo dan Eko Sabto Utomo sebagai moderator.

Bedah buku Berburu Adek-Adek dihadiri pencinta seni di Bangkalan. Perwakilan sanggar, pelajar, dan guru juga antusias mengikuti acara tersebut.

”Bulan puasa adalah mempererat kebersamaan. Sama halnya dengan judul buku yang ditulis, yaitu Berburu Adek-Adek. Penuh dengan kehangatan dan kebersamaan,” ujar Bangkit.

Menurut Bangkit, jika harus melulu mengenai keislaman dan puasa, terlalu rumit untuk dibahas. Nah, buku yang dibedah itu sekaligus mengajak pembaca agar berpikir lepas. ”Di bulan puasa ini kita harus lepas dari sesuatu yang membuat otak serius berpikir. Biarkan teman-teman bisa me-refresh otak serta pemikiran sambil kita berpuasa,” tambah Bangkit.

Dalam acara menjelang berbuka tersebut, seluruh audiens yang hadir menangkap dengan baik isi buku. Itu tidak terlepas dari susunan kata yang ringan. Beberapa puisi tersebut juga mengandung banyolan khas tulisan tangan Alan. ”Mungkin itulah ciri khas Alan. Seakan-akan ia menertawakan diri sendiri lewat tulisannya,” jelasnya.

Usai memberikan penjelasan pembuka, acara diselingi musikalisasi puisi islami. Ini menandakan bahwa Islam dan sastra menyatu. ”Ini acara tahunan kami. Kebetulan bulan puasa. Jadi, kami adakan silaturami dengan sastrawan dan komunitas satra dan seni sekaligus buka bareng,” ujar penasihat KML Roz Zaki.

Mancing sastra ini episode kelima. Mancing sastra pertama digelar di Pendapa Pratanu bersamaan dengan Festival Puisi Bangkalan (FPB) 2 pada 14 April lalu. Buku yang dibedah Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata.

Mancing sastra kedua membedah Hikayat Sunyi karya Muzammil Frasdia di STIRUA Sampang pada 20 April. Lanjut mancing sastra ketiga Rumbalara Perjalanan karya Bernando J. Sujibto di Taman Paseban. Lalu, edisi keempat antologi puisi Cholil Anwar Sedang Sakit karya M. Holel Shangsa pada 14 Mei di Pendapa Pratanu. (dam/luq/han)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia