Selasa, 23 Jan 2018
radarmadura
Sumenep
Melihat Layanan Kesehatan Masyarakat Kepulauan Sumenep

Bertaruh Nyawa demi Selamatkan Jiwa

Sabtu, 20 May 2017 00:11

Bertaruh Nyawa demi Selamatkan Jiwa

SIDAK: Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma (pegang mik) ketika berkunjung ke Puskesmas Sapeken, Sumenep, Jumat malam (12/5). (HERIVIYA YUVI/Radar Madura/JawaPos.com)

Pasien asal Sapekan biasa dirujuk ke Bali atau Banyuwangi. Jarak tempuh menjadi alasan. Fasilitas kesehatan juga belum memadai.

HERIVIYA YUVI, Sumenep

PELAYANAN kesehatan yang baik dinginkan semua warga. Di daratan atau kepulauan sama. Namun, fakta menunjukkan bahwa masih terjadi perbedaan.

Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuman bersama ketua fraksi dan anggota komisi berkunjung ke Pulau Sapeken. Mereka juga bersama kepala bidang (Kabid) di dinas kesehatan (dinkes) ke puskesmas.

Jumat (12/5) sekitar pukul 18.30 rombongan tidak bertemu satu pun petugas medis. Banyak petugas pulang ke rumah masing-masing untuk melaksanakan salat Magrib. Melihat puskesmas sepi, Herman Dali Kusuma geram.

Kok bisa puskesmas ditinggal? Bagaimana kalau ada pasien gawat darurat?” tanyanya kepada anggota forkopimka yang menemaninya. Menurut dia, tidak boleh ruang petugas medis ditinggal dalam keadaan kosong.

Kondisi puskesmas saat itu sepi. Tidak ada satu pun warga yang sedang rawat inap. Kepala Puskesmas Sapeken Suharto Cakoe menuturkan, beberapa hari terakhir memang tidak ada pasien rawat inap.

Suharto memohon maaf atas keterlambatan petugas kembali ke puskesmas. Pria asli Sapeken itu menuturkan, banyak kendala yang dialami petugas dalam melayani pasien. Salah satunya tentang rujukan pasien gawat darurat.

Selama ini, pasien harus dirujuk ke Bali atau Banyuwangi. Sebab, perjalanan dinilai lebih mudah dan lebih cepat dibanding ke Sumenep daratan.

Ketersediaan sarana puksesmas juga sangat minim. Sampai saat ini pihaknya belum memiliki ambulans laut. ”Kalau ada rujukan, ya pakai kapal warga,” jelasnya.

Beruntung pemilik kapal menggunakan sistem gotong royong. Mereka hanya meminta uang ganti solar kepada keluarga pasien. Sementara pemerintah tidak memilki anggaran khusus untuk subsidi rujukan.

Pasien biasa berangkat bersama kapal laut bermuatan barang selama 7–8 jam. Sementara untuk menuju Sumenep daratan butuh waktu tempuh 13–15 jam. Karena itu, keluarga pasien lebih memilih merujuk ke Bali.

Sampai di rumah sakit tujuan bukan tanpa kendala. Terutama pasien dari kalangan keluarga kurang mampu. Di Pulau Dewata tidak berlaku layanan pasien menggunakan surat pernyataan miskin (SPM) seperti di Sumenep.

Dengan terpaksa mereka menggunakan layanan umum. ”Keluhan pembiayaan ada. Tapi, tetap harus kita lakukan untuk menyelamatkan nyawa,” ulasnya. ”Rata-rata ibu hamil,” ungkapnya.

Layanan kesehatan di Sapeken bukan hanya masalah fasilitas. Tenaga kesehatan di puskesmas itu juga terbatas. Hingga saat ini belum memiliki dokter gigi. Dulu pernah ada, kemudian dimutasi ke daratan. Selain itu, puskesmas ini memiliki apoteker, petugas gizi, laborat, dan petugas sanitasi.

Herman Dali Kusuma berjanji akan mengupayakan ketersediaan alat kesehatan maupun sarana. Namun, Herman juga meminta petugas medis meningkatkan kinerja untuk memberikan pelayanan prima. ”Jangan ninggalin puskesmas dalam keadaan kosong, meski sedang tidak ada pasien inap,” pintanya. (*/luq)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia