Selasa, 23 Jan 2018
radarmadura
Kolom

Sehat Jiwa dan Raga Menuju Ramadan

Oleh Hasani Zubair

Selasa, 16 May 2017 00:10

Sehat Jiwa dan Raga Menuju Ramadan

()

RAMADAN bulan penuh kekhusyukan. Setiap umat muslim yang berpuasa berusaha mencapai titik kesucian atau fitrah. Hal ini karena hakikat puasa Ramadan, bagi yang menjalankannya, adalah mengendalikan mental.

Sebagai muslim sejati, kehadiran Ramadan mestilah disambut sukacita dan istimewa dengan mempersiapkan jiwa serta fisik. Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitab Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan lima rahasia puasa Ramadan yang bisa kita pahami dan rasakan kenikmatannya.

Pertama, puasa Ramadan menguatkan jiwa. Maksudnya, dalam diri manusia terdapat nafsu. Seringkali manusia terjebak dengan pelampiasan nafsu daripada mengendalikannya. Dapat kita rasakan manusia kerap diperbudak hawa nafsu.

Misalnya, demi menguasai materi atau ekonomi dan kekuasaan politik. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim, Indonesia dihadapkan dengan kemiskinan, kesenjangan ekonomi, dan konflik identitas politik.

Berdasar laporan Credit Suisse, sampai 2017 ini, Indonesia peringkat keempat negara paling timpang ekonominya di dunia. Pertumbuhan kesenjangan antara masyarakat kaya dan miskin di Indonesia paling cepat dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Credit Suisse juga menyebutkan, kesenjangan ekonomi di Indonesia sangat terasa. Yakni, 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Bank Dunia menunjukkan, 10 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 77 persen kekayaan nasional. Dan hingga 2016, jumlah warga miskin di Indoensia masih tinggi. Yaitu, 27,76 juta orang.

Dalam perspektif teori Karl Marx, kesenjangan ekonomi akan mendorong kelompok manusia rentan terhadap konflik sosial. Sumber-sumber ekonomi nasional yang hanya dikuasai sebagian kecil golongan akan memicu terjadinya pertentangan atau konflik dengan mayarakat bawah yang jumlahnya mayoritas.

Situasinya bakal semakin rumit ketika kesenjangan ekonomi dihadapkan dengan perbedaan politik identitas agama, suku, dan golongan. Seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Konflik sosial di masyarakat bisa semakin tajam.

Pengaruh perkembangan media baru berbasis internet membuat kondisi sosial semakin keruh. Hal ini ditandai dengan penyebaran berita bohong melalui sosial media seperti Whatsapp, Facebook, dan berita online yang tidak jelas sumbernya. Itu berpotensi semakin meresahkan dan memecah belah masyarakat.

Pertikaian, penghinaan, dan fitnah merupakan jalan menuju perpecahan sosial. Yang lebih tidak diinginkan, mengejar kekuasan hingga berujung pada hilangnya nyawa. Dalam fase ini, manusia benar-benar menjadi budak nafsunya sendiri.

Untunglah, Ramadan yang penuh dengan kemuliaan, tidak lama lagi datang menghapiri kita. Di bulan suci ini, setiap individu yang menunaikan ibadah puasa menguatkan jiwa dan mengendalikan nafsu.

Ramadan bulan penuh kekhusyukan bagi setiap orang untuk beribadah dan membangun jiwa sosial. Menjalin hubungan persaudaraan dengan setiap orang lebih berharga daripada mengikuti kemauan nafsu buruk yang tidak terkendali.

Dalam Islam ada perintah memerangi hawa nafsu. Dalam arti berusaha mengendalikannya. Bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi.

Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi. Karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu akan mengalihkan penuhanan dari Allah sebagai tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan pada kesesatan.

Kedua, puasa Ramadan mendidik kemauan. Ketika puasa, manusia dilatih memiliki kemauan dan bersungguh-sungguh membuat kebaikan. Manusia yang menjalankan ibadah puasa bisa saja dihadapkan dengan peluang keburukan. Tapi kontrol dan kesabaran untuk berbuat baik tetap ada dalam diri manusia.

Ibadah puasa sangat istimewa. Yang tahu berpuasa atau tidak hanyalah Allah dan yang berpuasa itu sendiri. Puasa Ramadan merupakan ibadah yang memang diniatkan karena Allah. Segala godaan yang membatalkan puasa, sesungguhnya ditentukan oleh niat dan kekuasaan individu itu sendiri.

Bagi pejabat pemerintah yang memiliki kekuasaan, tantangan yang dihadapi yaitu tidak tergoda dengan penyelewengan dana rakyat atau tindakan korupsi. Berdasar data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada 2016 ada 99 penyidikan korupsi. Lebih dari Rp 497,6 miliar telah dimasukkan ke kas negara dalam bentuk PNBP dari penanganan perkara korupsi.

Jika setiap pejabat pemerintah mengamalkan nilai-nilai ibadah Puasa Ramadan, yaitu mendidik kemauan manusia, maka setiap tahun ada Rp 497,6 miliar yang bisa dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat.

Puasa Ramadan akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar. Kekuatan rohani juga bakal membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

Ketiga, puasa Ramadan menjaga kesehatan jasmani. Sampai saat ini belum ditemukan penelitian bahwa puasa Ramadan dapat merugikan kesehatan jantung, ginjal, paru, hati, dan organ dalam lainnya.

Bahkan Allah berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan Nabi Muhammad: ”Berpuasalah maka kamu akan sehat.” Berpuasa akan membangun keseimbangan anabolisme dan katabolisme.

Pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan. Sebagaimana mesin harus diistirahatkan. Apalagi dalam Islam, isi perut memang harus dibagi tiga. Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara.

Keempat, puasa Ramadan melatih mensyukuri nikmat dan ikhlas. Dalam hidup ini, begitu banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya.

Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua. Dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga. Dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memerhatikan dan merenungi, apa yang diperoleh sebenarnya sudah sangat menyenangkan.

Dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memerhatikan dan merenungi kenikmatan yang sudah diperoleh. Tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar nikmat yang Allah berikan.

Di sinilah letak pentingnya puasa guna mendidik kita menyadari nikmat yang Allah berikan. Rasa syukur akan membuat nikmat bertambah banyak. Baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasa.

Kelima, mengingat dan merasakan penderitaan orang lain. Merasakan lapar dan haus memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan berakhir hanya dengan beberapa jam. Sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir.

Dari sini, semestinya puasa menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini belum teratasi. Karena itu, sebagai simbol rasa solidaritas, sebelum Ramadan berakhir, kita diwajibkan menunaikan zakat fitrah.

Zakat tidak hanya bagi kepentingan orang miskin dan menderita. Tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar hilang kotoran jiwa yang berkaitan dengan harta. Seperti gila harta, gila kikir, dan sebagainya.

Sungguh, puasa Ramadan tidak berdampak buruk pada kesehatan manusia. Baik jasmani lebih-lebih rohani. Karena itu, mari sambut Ramadan dengan bahagia. (*)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia