Sabtu, 20 Jan 2018
radarmadura
Sastra Budaya

Madura dalam Cengkal Burung

Minggu, 14 May 2017 22:51

Madura dalam Cengkal Burung

()

TIDAK berlebihan apabila karya yang satu ini mendapatkan apresiasi lebih dari berbagai kalangan. Khususnya oleh kita, masyarakat Madura. Selain buku ini lahir dengan berbahasa daerah (Madura), barangkali ihwal ini juga merupakan satu-satunya jalan bagaimana Madura diselamatkan.

Lukman Hakim AG, walau ia bukan seorang yang lahir di Madura, dengan kecintaan dan kepedulian terhadap Madura, melalui segala tekad dan ikhtiar ia mampu mewakili kita sebagai penduduk pribumi, mempertahankan bahasa daerah. Bahasa ibu ini dari segala intrik dan persoalan yang semakin lama semakin kentara. Bahwa kita, penduduk Madura, secara perlahan sudah mulai meninggalkan dan melupakannya.

Bukanlah suatu upaya yang mudah, menerbitkan sekumpulan puisi dengan berbahasa daerah (apalagi Madura). Konsekuensi yang kemudian harus diterima adalah pertaruhan yang sangat membutuhkan kesabaran. Secara individualis dan perhitungan finansial, ruang lingkup pemasaran buku berbahasa daerah ini begitu sempit.

Selain bahasa daerah sedikit peminatnya. Bahasa daerah ini condong dianggap suatu yang tidak begitu penting. Tapi rupanya Lukman sangat dijauhkan dari orientasi dan niatan semacam demikian.

Sekali lagi, patut kiranya kita berterima kasih dan mengapresiasi lahirnya buku puisi berbahasa Madura ini. Paling tidak, kita belajar bagaimana meneguhkan kedirian kita dan kemaduraan kita sebagaimana Lukman tuturkan dalam pengantar buku ini: desa banyak memberikan pelajaran. Banyak hal yang tidak dimiliki kota. Tidak mungkin saya melupakan kedesaan saya.

Atau dapat pula kita mengambil pelajaran dari sajak yang berjudul Pottra-Pottre Madura: kaula pottra-pottre Madura/ kalaban anaong asmaepon guste/ ta’ rida’ naleka badha nyongsangnga basa/ dhari rama, ebu, tor guru kodu nyongkem/ dha’ na’poto, maske akalong masteka” (hlm. 19).

Sajak ini adalah ungkapan terdalam Lukman dalam mengekspresikan dirinya sebagai bagian yang tinggal dan besar di tanah Madura. Maka dalam kondisi bagaimanapun, Madura tak mungkin dilupakan.

Di samping itu pula dapat kita mengeksplorasi melalui sajak La’la’no’ (kepompong). Lewat sajak ini Lukman menggambarkan bahwa manusia ini seperti kepompong. Semasih di kampung halaman begitu bersih dan belum terseret ataupun terkontaminasi oleh segala sesuatu yang berpengaruh di sekitarnya. Akan tetapi, apabila sudah bersentuhan dengan yang di luar, layaknya kupu-kupu yang sudah mampu terbang dan lupa asal-usulnya.

La’la’no’/ dhimma bara’ dhimma temor/ dudduwagi kemma lancing kemma paraban/ mangkat nyaba adina nyama/...// lenggu’-lenggu’ ola’ nembang esendhemme mano’/ emmak embuk ban ale’ badha dhimma/ abit se elang aba’ caltong/” (hlm. 38).

Secara tersirat Lukman melalui sajak ini menampakkan kekhawatiran yang begitu mendalam. Sebagaimana kita jamak menjumpainya. Masyarakat Madura lebih tertarik melestarikan kebudayaan dan kekayaan sumber daya alam di luar Madura daripada citra, karsa, dan kekayaan alam Madura itu sendiri pada prinsipnya.

Lebih dari itu, Lukman sangat lihai meramu setangkup sanja’ (sajak) dalam buku Cengkal Burung ini. Puisi-puisi yang dihaturkan begitu menyentuh ruas terdalam tubuh Madura. Cukuplah berhasil ia sajikan segala elemen dan emosional sosial-budaya Madura, tanpa terkecuali karakter serta potret kehidupan orang Madura.

Salah satu di antaranya bagaimana kemudian Lukman menggambarkan kehidupan nelayan. Nelayan merupakan salah satu entitas upaya mata pencaharian masyarakat Madura dalam berpenghasilan: aeng mosse’/ angen asapo’ kencop akese’/ ondhem le’-selle’/ se majang gi’ buru nyambung ora’/ bila mangkat, ollena ta’ sabandhing barengnga rassa” (Kasiyur Angin, 3).

Sajak ini begitu mencerminkan bagaimana peliknya menggayung penghasilan di bumi Madura. Akan tetapi persoalan ini lahir apakah merupakan akibat miskinnya sumber daya alam (SDA) kita atau lebih tepatnya karena masih sangat rendahnya sumber daya manusia (SDM) masyarakat Madura.

Lukman mencoba menjawabnya persoalan ini dengan salah satu sajaknya yang berjudul No’or Bintang: epetthega gan settong/ dhari masteka kope’an karteka/ ban sabarundhut bintang nanggala se nyongay/ eajuma akadi adu’ur malathe sato’or/ egimpo’a dhari biruna tase’ dhaun langnge’/ dhari buliran-buliran tasbi/ saksena lemang bakto/ ban-sabban pedderra are ban bulan ka bume.(hlm. 39).

Melalui buku ini, Lukman Hakim AG. ingin membuktikan Madura tidak hengkang melawan perkembangan zaman. Patutlah kita gembira dan mengapresasi. Sebagai masyarakat Madura wajib kita membacanya. Wallahu a’lam! (*)

 

AZIZI SULUNG

*)Santri Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Utara sekaligus Instika Guluk-Guluk, Sumenep.

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia