Sabtu, 20 Jan 2018
radarmadura
Sastra Budaya

Rumbalara Perjalanan, Jejak Kerinduan di Tanah Rantau

Oleh: Habibullah*

Minggu, 14 May 2017 22:40

Rumbalara Perjalanan, Jejak Kerinduan di Tanah Rantau

()

MENURUT data, hampir separo penduduk Madura merantau. Kebanyakan kalangan produktif dari segi otot dan otak. Sudah menjadi kata bertuah bahwa mereka yang merantau kebanyakan sukses. Kesuksesan acapkali melenakan sehingga membuat mereka enggan pulang kecuali hanya sebentar ketika Lebaran.

 

Bernando J. Sujibto adalah bagian dari mereka dengan satu pengecualian: dia berazam untuk selamanya tinggal di Madura. Azam ini baru terucap agak belakangan begitu dia mendapat pencerahan bahwa apa yang dia cari nyatanya ada di kampung halaman sendiri, petilasan yang sebelumnya diduga tidak menjanjikan nirwana. Dia juga sadar bahwa perantauannya selama ini ternyata keterasingan yang menyiksa.

Keterasingan ini/kutanggung sebagai kutukan/ antara jarak derak daun gugur/ dan tanah yang menyimpan akar/ aku telah sempurna tersandera liar/terlempar dari tanah kelahiran/ lorong-lorong tak menyimpan batas/ merayakan pesta demi pesta kepergian/ menuju entah/ o pesona yang menyiksa (hlm. 92).

Dia, serupa alasan perantau Madura lainnya, merantau untuk mendapatkan prospek hidup yang lebih bagus. Pertama dia singgah di Jogjakarta, kemudian Australia, Amerika, dan terakhir menetap dua tahun di Konya, Turki untuk menyelesaikan studi. Bernando berangkat dengan sedikit modal yang tak cukup, namun dengan semangat asapo’ angen abantal omba’.

Tentang kesan ketir perjuangan di rantau, Bernando tuangkan dalam serial puisi Ontel I, Ontel II, Ontel III, dan Ontel IV.

Dari lapak sadel/ kisah-kisah/ hidup bermula/ membilang diri (hlm. 44). Keringat ini seperti logam/ jatuh berdenting di tanah/ gugur seperti daun-daun (hlm. 45).

Menariknya, semakin langkah menjauh, kerinduan semakin bersauh. Puisi dia gubah sebagai pintu curah kerinduan yang menggodam. ”Puisi menjadi pelipur kesepian dan teman bagi ketakutan”, kata Bernando (hlm. 19). Kondisi psikologis Bernando di perantauan semisal Kisah Lagu Seruling yang digubah Maulana Rumi dalam Matsnawi: Dengan alunan pilu seruling bambu. Sayu sendu lagunya menusuk kalbu. Sejak ia bercerai dari batang pokok rimbun. Sesaklah hatinya dipenuhi cinta dan kepiluan.

Kita bisa lihat –pada puisi berikut– bagaimana wajah kampung halaman terpacak tegak justru ketika dia jauh di Columbia. Sungai kecil di belakang apartemen/ mengalirkan daun-daun yang jatuh/ ke entah, mungkin ke sebuah sungai/ tempat aku biasa bermain perahu/ dari daun bambu, di belakang langgar/ sambutlah mereka, ibu. Kafilah rindu/ mengalir riak dari jantungku (hlm. 85).

Tempat yang dia singgahi tidak jarang merupakan penjelmaan kampung halamannya. Rumbalara, situs suku Aborigin terkenal di Australia menjadi tempat ikonik –sehingga dia menjadikannya judul antologi ini– dibayangkan seperti Madura dari sisi marginalitas.

Dalam Rumbalara, Bernando memosisikan dirinya sebagai pelancong sedih melihat orang yang tersingkir dari tanahnya: Aku datang dari laut sebelah/ menyaksikan detak napasmu/ namamu tanah yang disingkirkan/ namamu pelangi yang diredupkan/ namamu rumah ringkih yang disapih (hlm. 88).

Bernando sedih karena dia merasa Rumbalara tidak ada bedanya dengan Madura, tempat ia berasal. Kita bisa melihat anyaman konektifnya dalam puisi Ke Madura Pulang Sebentar:

Di Madura aspal makin hitam saja/ jalan-jalan lebih terjal. Lantak-lantak/ siapa yang telah memerah habis manis sari mayangmu? (hlm. 48)

Bernando sadar logika tidak akan pernah menang dengan rasa. Kampung halaman, seburuk apa pun ia, adalah sumber kebahagiaan sejati. Setiap manusia memiliki ikatan primordial dengan tempat kelahirannya. Ini sulit diingkari. Mudik Lebaran merupakan momentum mereguk tetes kebahagiaan yang lama terkikis di negeri rantau. Manusia dan kenangan masa silam tidak bisa dipisah, justru menagih untuk dinapaktilasi kembali.

Puisi yang terangkum dalam buku ini terentang sejak 10 tahun silam yang merupakan proses kreativitas Bernando sehingga puisi dalam buku ini menampilkan bentuk-bentuk pengungkapan yang berbeda. Namun –begitu kata Acep Zamzam Noor dalam prolog– semua puisinya masih bertumpu pada puisi lirik.

Sebagian besar puisi dalam buku yang terdiri dari dua bab ini mengisahkan tentang tempat dan orang yang dirindukan khususnya di Madura, terutama ibunya. Sisanya adalah catatan puitis tentang tempat yang pernah Bernando singgahi. Itu pun juga masih dibumbui dengan lindasan perasaan akan kerinduan kepada kampung halamannya.

Tidak salah jika kumpulan puisi ini merupakan etape perjalanan pulang seorang anak manusia yang lama di rantau mencari apa yang sebenarnya ada di kampung halaman. Bernando mirip dengan apa digambarkan Sitor Situmorang: Si Anak hilang kini kembali/ tak seorang dikenalnya lagi/ berapa kali panen sudah/ apa saja telah terjadi. (*)

 

*)Mahasiswa Pascasarjana UIN Malang. Guru di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia