Selasa, 23 Jan 2018
radarmadura
Kolom

Sadar Wisata atau Posang e Leggana

Jumat, 12 May 2017 00:10

Sadar Wisata atau Posang e Leggana

()

Adakah orang yang ingin hidup susah? Ingin menjalani hidup tidak senang? Kalaupun ada, mungkin itu karena sebab tertentu dan sementara untuk batu loncatan.

 

BERAKIT-RAKIT ke hulu, berenang ke tepian. Begitu pepatah lama. Masih abadi. Bersakit-sakit untuk menggapai kesenangan. Melarat bukan tujuan. Ujung-ujungnya untuk kesenangan.

Itu kalau disengaja dan diniatkan. Sakit dan melarat jadi lompatan. Hanya proses menggapai keinginan.

Di sisi lain, ada yang ingin senang karena merasa gusar dengan lakon hidup. Perjalanannya seakan penuh kecamuk. Karena itu, orang itu mencari jalan lain untuk menghibur diri.

Ibarat orang berlari sekencang-kencangnya. Setelah jauh, baru sadar bahwa ada yang tertinggal. Yang tertinggal itu dinilai lebih baik. Baru sadar.

Itu bisa terjadi karena berjalan tanpa tujuan. Tanpa komitmen diri. Hanya mengikuti pola hidup kebanyakan yang belum tentu cocok dengan dirinya.

Semakin kaya dan modern, sebagian orang memenuhi hasrat hidup dengan segala perangkatnya. Membangun rumah mewah. Berdinding kaca. Halaman mulus dan berpagar tinggi.

Pada saatnya, orang-orang pusing dengan pemanasan global. Pemerintah sibuk menganggarkan pembangunan ruang terbuka hijau, penanaman pohon, dan seabrek program lain. Hanya agar tidak membuat semakin panas. Program ini tidak perlu untuk orang desa.

Itu orang-orang kota. Yang kanan-kiri rumahnya tumbuh gedung. Tidak ada pohon dan rumput di halaman. Masuk-keluar rumah, ketemu jalan dan tembok. Panas.

Di tengah kepusingan itu, muncul ide untuk menghiasi dengan bonsai. Ditempatkan di pagar, halaman, dan dinding-dinding rumah. Biar sejuk dan hijau, katanya.

Mereka ingin hidup seperti di desa. Seperti ingin kembali ke hutan dengan pola yang lain. Bukan manusia yang kembali ke rimba. Tapi tumbuhan-tumbuhan itu yang diangkut untuk hidup bersama di rumah yang serba gedung dan kaca itu.

Pada saat bersamaan, beberapa jenis rumput dan pohon yang tumbuh liar di tegalan desa dicongkel. Kemudian diangkut untuk menyejukkan orang-orang yang kepanasan. Bahkan, pohon siwalan yang tumbuh tahunan juga diangkut menggunakan fuso.

Orang desa tidak gusar. Hidup mereka tidak pusing. Tetap merasa sejuk. Hari-hari mereka bersama pertanian dan perkebunan. Bersama padi, cabai jamu, dan lain sebagainya.

Gunong na’nong bato kaletthak mereka jilat lagi. Orang desa yang mungkin disebut kampungan justru menjadi tujuan mereka untuk mencari kesenangan. Mereka pun berbondong-bondong berkunjung ke desa.

Hidup dengan segala kemewahan di kota tidak berbanding lurus dengan ketenangan. Banyak uang tidak menjamin orang tenang. Tinggal di rumah mewah tidak selamanya berjalan lurus dengan ketenteraman.

Tidak hanya itu. Orang-orang kini banyak pusing. Seolah hidup terasing. Menjadi hiburan untuk berwisata. Desa menjadi pelarian untuk memenuhi hasrat pelesir mereka setelah bosan dengan seabrek kemewahan kota.

Kegelisan pencari kesejukan itu melahirkan berkah. Disambut baik pemilik lahan di desa. Bukit yang dulu hanya tumpukan batu, kini disulap. Dilengkapi segala keperluan. Gazebo –kata orang desa barung tempat ngaso. Katanya agar jadi tempat wisata.

Bahkan, dibuatkan ”rumah” di atas kayu. Demi menyambut kedatangan pengunjung. Sumber mata air yang dulu penuh semak belukar kini dibersihkan. Didatangkan aneka permainan. Bebek-bebekan dan lain-lain.

Benar. Orang-orang berdatangan menikmati itu. Setiap jengkal tak lupa jeprat-jepret. Langsung unggah ke media sosial. Langsung ramai dan mengundang ketertarikan orang lain untuk berkunjung.

Di sisi lain, fenomena tersebut mengetuk kesadaran tentang potensi wisata. Bahwa desa memiliki potensi untuk dikembangkan. Bekas galian C banyak jadi tujuan orang berpelesir, bukan?

Karena itu, orang desa tidak perlu kekota-kotaan. Orang kota juga jangan mudah mengecap orang desa katrok atau ndeso. Toh, ketika berwisata ke suatu tempat merasa nyaman bermalam di gubuk tabing meski rumah mereka berlantai marmer dengan segala perangkatnya.

Konsisten dan jelas punya tujuan perlu dicamkan. Tidak perlu berlagak dan suka meniru gaya orang sana. Kita memiliki potensi berbeda. Kini, orang banyak sadar wisata. Atau mungkin malah posang e leggana? Salam ! (Wartawan Jawa Pos Radar Madura)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia