Selasa, 23 Jan 2018
radarmadura
Rekreasi

Ludruk Suguhkan Lawak dan Sejarah, Hiburan Rakyat Lintas Daerah

Rabu, 10 May 2017 07:00

 Ludruk Suguhkan Lawak dan Sejarah, Hiburan Rakyat Lintas Daerah

KOCAK: Pelawak Rukun Karya tampil penuh lelucon pada acara petik laut di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Rabu malam (3/5). (ABD. MUKSIDYANTO/Radar Madura/JawaPos.com)

SUMENEP – Salah satu kesenian yang menghibur masyarakat adalah ludruk. Teater dengan pertunjukan menonjolkan tari, lawak, dan cerita-cerita penting tempo dulu ini selalu menyedot perhatian. Penonton betah berlama-lama hingga usai.

Wakil Bupati (Wabup) Sumenep Achmad Fauzi selalu hadir jika ada penampilan kesenian. Seperti saat Rukun Karya (Ruka) manggung di pesisir Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Rabu malam (3/5). Pria yang akrab disapa Bang Uji itu memberi sambutan malam itu.

Dia menyampaikan apresiasi dan berharap masyarakat terus peduli kesenian. Menurut dia, ludruk merupakan kesenian bernuansa hiburan dan pendidikan. ”Ludruk menceritakan nuansa kerajaan masa lalu. Untuk hiburan ada lawak yang sangat humoris,” katanya.

Malam itu, Edi, Dendi, dan Dimas, tampil kocak. Tiga pelawak itu menghibur ribuan penonton yang memadati pesisir Tanjung. Edi, Dendi, dan pelawak cilik Dimas merupakan andalan Rukun Karya. Tiga orang yang masih satu keluarga ini selalu tampil menghibur penonton, lucu, dan kreatif.

Lawak berlangsung sekitar satu jam lebih. Setelah itu lanjut pertunjukan cerita masa lalu. Penonton menikmati penampilan demi penampilan yang dipandu sutradara Encung Hariyadi alias Joko Linglung itu.

Selain Rukun Karya, ada beberapa kelompok ludruk lain. Yakni, Rukun Famili, Kecamatan Saronggi; Rukun Kemala, Kecamatan Kalianget; dan Karya Kemala, Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih.

Sejarawan Tadjul Arifien R. mengatakan, ludruk atau ketoprak eksis sejak abad 14 di Sumenep. Pada 1970-an sempat mencapai 70 kelompok. ”Akhir-akhir ini tinggal beberapa kelompok. Ludruk memiliki nilai pendidikan sejarah dalam penampilannya,” tutur pria yang juga budayawan itu.

Basis perkembangan ludruk di Kecamatan Kalianget dan Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi. Di desa ini ada kelompok Rukun Karya dan Rukun Famili. Dua kelompok seni ini selalu tampil di berbagai daerah di Jawa Timur.

”Kesenian ludruk penting terus dilestarikan, Apalagi, bisa jadi andalan salah satu program Visit Sumenep 2018. Pemkab bisa menampilkan ludruk asli Sumenep ini untuk menyambut wisatawan,” tutur penulis beberapa buku sejarah tentang Sumenep ini.

Encung Hariyadi mengungkapkan, Ruka selalu tampil di berbagai daerah di Jawa dan Madura. Hanya, pada bulan Ramadan kelompok ini istirahat total. ”Selain bulan itu, hampir setiap malam selalu manggung. Mulai wilayah Madura, Jawa, dan Bali,” ujarnya.

Ruka pernah diundang ke Bali pada acara tahun baru. Pihaknya berkomitmen mempromosikan kesenian Sumenep secara mandiri. Tanpa tergantung pada anggaran pemerintah.

Ruka merasa bangga bisa membawa nama Sumenep setiap kali tampil. Terutama, ke luar Madura. Ruka berkali-kali tampil di Pemkab Probolinggo dan Balai Kota Probolinggo atas undangan bupati dan walikota. Mereka ingin tahu kesenian atau ketoprak asli Bumi Sumekar.

Pihaknya siap mendukung program Visit Sumenep 2018. Selama pemerintah menginginkan partisipasi tanpa diminta pun Ruka selalu mempromosikan seni Sumenep sejak dulu. ”Kami sering tampil di wilayah pinggiran Sumenep atas undangan masyarakat. Sebetulnya ingin pula tampil Sumenep Kota, semisal pada kegiatan pemerintah,” ucap dia. (sid/luq)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia