Sabtu, 20 Jan 2018
radarmadura
Sumenep

Tiga ”Kartini” Warnai Parlemen Sumenep

Jumat, 21 Apr 2017 14:22

Tiga ”Kartini” Warnai Parlemen Sumenep

(SRIKANDI PARLEMEN: Dari kiri, Zulfah, Ummul Hasanah, dan Dwita Andriani.)

SUMENEP – Menjadi perempuan yang harus mampu meniru semangat juang RA Kartini tidaklah mudah. Terutama bagi mereka yang duduk di parlemen. Di DPRD Sumenep, misalnya. Ada tiga ”Kartini” yang harus mampu melawan hegemoni 46 laki-laki dari total 50 anggota dewan.

Mereka adalah Dwita Andriani, wakil ketua komisi III dari Partai Amanat Nasional (PAN). Ada pula Ummul Hasanah, anggota komisi I dari PDI Perjuangan. Zulfa, anggota komisi I dari Partai Gerindra. Ada pula wakil rakyat perempuan Noerriana dari PPP. Namun, hanya menjabat enam bulan dari PAW Akhmadi Said, lalu meninggal.

Menurut Ita –panggilan Dwita Andriani–, Kartini merupakan simbol kemajuan kaum perempuan. Titik awal bangkitnya perempuan dalam merebut hak-haknya. Tentu, tantangan perempuan tidak cukup berhenti pada keberhasilan sosok Kartini.

Perempuan saat ini, kata politikus yang sudah dua periode duduk di parlemen itu, menghadapi tantangan menurut keadaan terkini. Untuk merebut kekuasaan, pemerintah sudah mengatur melalui Undang-Undang mengenai 30 persen keterwakilan perempuan.

”Namun, itu hanya menjadi macan kertas. Realitasnya, masih sulit menembus hegemoni kaum laki-laki, semisal saat proses pemilihan dalam sebuah pemilu. Terbukti, baru tiga orang yang berhasil duduk di parlemen,” kata perempuan murah senyum ini.

Dia mengharapkan, di setiap komisi DPRD ada perwakilan perempuan. Kini dari tiga perempuan, satu di komisi III dan dua, sama-sama duduk di komisi I DPRD. Jika semua komisi terdapat unsur perempuan, keberpihakan anggaran pada kaum perempuan lebih mudah diperjuangkan.

Selain itu, di parlemen tidak mudah. Sebab, proses politik parlemen belum ramah pada perempuan. Keberpihakan anggaran untuk pemberdayaan perempuan masih minim. Meski ada di instansi tertentu, porsinya tak seberapa.

”Urusan perempuan masih dianggap sepele. Kadang terbentur faktor patriarki. Tentu sebagai wakil rakyat dari unsur perempuan, kami akan terus berupaya. Sebagaimana Kartini berusaha keras saat itu,” ujar politikus dari dapil 1 ini.

Ummul Hasanah, anggota komisi I DPRD dari PDI Perjuangan, menambahkan, tugas mulia perempuan bukan hanya yang bisa menghasilkan uang. Melainkan, perempuan yang mampu melahirkan ganerasi cerdas dan berkepribadian.

”Yakni, ganerasi yang mampu bermanfaat bagi orang lain. Baik laik-laki maupun perempuan. Tidak hanya jadi orang pintar, tapi menjadi orang bermanfaat,” ucap tokoh politik asal Lenteng ini. Sosok Kartini selalu menginspirasi dirinya sebagai politikus perempuan.

Selain Ummul Hasanah, di komisi I ada Zulfah. Politikus perempuan asal Guluk-Guluk ini mengatakan, selain sebagai seorang ibu, perempuan memiliki tanggung jawab besar. Mulai menyiapkan ganerasi melalui perawatan hingga pendidikan terhadap anak.

”Intinya, perempuan yang sudah amat berat tanggung jawabnya, khususnya dalam rumah tangga. Ingin perlakuan yang sama dalam keluarga, dalam masyarakat, boleh berpendapat dengan tidak mengurangi kodrat kewanitaan,” ucap dia.

Implementasi semangat Kartini melalui lembaga legislatif tentu merupakan upaya bagaimana mengangkat kesejahteraan mereka. Misalnya, memberdayakan bidang wirausaha. Memperjuangkan kaum perempuan dengan dibantu akses permodalan. (sid/gik/luq)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia