Minggu, 25 Feb 2018
radarmadura
Sastra Budaya

Menelisik Labirin Spiritual Matsnawi

Minggu, 14 Aug 2016 15:56

Menelisik Labirin Spiritual Matsnawi

()

Tidak mungkin Rumi menyusun komposisi secara sembarangan. Safavi menguraikan dua belas wacana hasil rekonstruksi sehingga memperlihatkan prinsip paralelisme dan kiasmus.

MATSNAWI, karya besar Jalaluddin Rumi (1207–1273), menjadi salah satu rujukan penting dalam diskursus tasawuf dan spiritualitas. Kedahsyatan karyanya tampak dalam fakta bahwa ia dibaca oleh lintas-golongan, tak hanya umat Islam, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia.

Namun demikian, Matsnawi yang terdiri dari 26.000 bait, 948 bab, dan terhimpun dalam 6 jilid buku selama sekitar tujuh abad dipandang sebagai karya yang acak, tidak tertata, dan tanpa struktur. Reynold Nicholson, pakar yang meneliti Matsnawi selama tiga puluh tahun, secara intuitif hanya menyiratkan adanya struktur sistematis karya tersebut, namun tak berhasil mengungkapkannya secara jelas.

Buku karya Seyed G Safavi ini berusaha memecahkan kebuntuan tersebut dengan berusaha menyingkap struktur Matsnawi sehingga dari situ muncullah makna baru atas karya besar ini. Karya yang semula merupakan disertasi di SOAS University of London ini bertolak dari asumsi bahwa karya-karya pramodern disusun dengan tingkat keseriusan yang luar biasa. Di tengah keterbatasan teknologi kepenulisan di era pramodern, Safavi menduga kuat bahwa tidak mungkin Rumi menyusun komposisi besar karya ini secara sembarangan.

Dengan mempertimbangkan keterbatasan waktu dalam skema penelitian disertasi, Safavi memusatkan penelitiannya pada Matsnawi Buku Pertama. Untuk menyingkap struktur Matsnawi, Safavi membagi karya Matsnawi dalam lima unit struktur, yakni ayat, bait, bab, wacana, dan buku.

Kunci penyingkapan Safavi dari lima unit ini terletak pada unit wacana (maqâlât). Menurut Safavi, judul (‘unwân) bab dalam keenam buku Matsnawi disusun sendiri oleh Rumi. Dari bab-bab yang ada di setiap buku, Safavi menyingkap struktur wacananya, sehingga struktur besar Matsnawi yang lebih utuh menjadi tersibak.

Dari hasil penelitiannya pada Matsnawi Buku Pertama, Safavi tiba pada kesimpulan bahwa Rumi menyusun Matsnawi dengan menggunakan dua prinsip penataan, yakni penyusunan sekuensial pada level bait dan bab, dan penyusunan sinoptik pada level wacana, buku, dan karya yang didasarkan atas prinsip paralelisme dan kiasmus.

Penemuan Safavi ini terinspirasi oleh beberapa penelitian lain yang mencermati teks-teks penting pramodern, seperti penelitian Mary Douglas tentang Kitab Imamat dan Kitab Bilangan (Perjanjian Lama), McMohan atas autobiografi spiritual Agustinus yang berjudul Confessions, penelitian Hanns-Peter Schmidt dan Martin Schwartz atas karya Zarathustra, dan lain-lain. Beberapa penelitian itu berhasil mengungkapkan adanya struktur tersembunyi di teks yang diteliti.

Prinsip paralelisme dan kiasmus termasuk model penulisan yang cukup lazim di era pramodern. Paralelisme memperlihatkan adanya garis non-linear hubungan antara dua segmen teks. Sementara kiasmus adalah pengulangan sebuah sekuen tetapi dengan susunan terbalik, misalnya A, B, C, D, C, B, A sehingga kadang juga disebut struktur cincin.

Untuk menemukan struktur seperti ini, Safavi tidak hanya melakukan pembacaan berulang untuk teks yang ditelitinya, tetapi juga memetakan secara tematik dengan teperinci seluruh bagian Matsnawi Buku Pertama. Inilah yang disebut dengan pembacaan sinoptik yang secara literal berarti ”melihat seluruhnya” dan ”melihat secara utuh”.

Pembacaan yang cermat mampu menyingkap makro-komposisi Matsnawi sehingga Safavi berhasil memetakan bab-bab yang ada pada Matsnawi Buku Pertama ke dalam dua belas wacana. Safavi menguraikan dua belas wacana hasil rekonstruksinya itu pada bagian kedua buku ini, sehingga masing-masing bab atau bagian dalam satu wacana memperlihatkan prinsip paralelisme dan kiasmus. Lebih jauh, kedua belas wacana itu juga memperlihatkan dua prinsip paralelisme dan kiasmus.

Safavi menunjukkan paralelisme dan kiasmus di antara wacana pertama dan wacana kedua belas, wacana kedua dan kesebelas, dan seterusnya. Wacana pertama, misalnya, membahas tentang perjalanan nafs yang jatuh cinta pada dunia. Sedang pada wacana kedua belas perjalanan nafs sudah sempurna yang digambarkan dengan kepasrahan dan kepatuhan pada kehendak Allah.

Pembacaan secara sekuensial dan sinoptik menegaskan bahwa Matsnawi Buku Pertama membahas tentang perkembangan nafs dari tahap nafs ammarah, nafs lawwamah, dan nafs mutmainnah. Jadi, Matsnawi Buku Pertama dapat dibagi dalam tiga blok yang masing-masing meliputi empat wacana.

Makna baru yang ditawarkan Safavi dengan strategi pembacaannya yang berhasil menemukan struktur mendalam Matsnawi juga sangat erat dengan tujuan penulisan Matsnawi itu sendiri, yakni untuk mengantarkan pembacanya pada transformasi spiritual.

Model pembacaan yang acak yang selama ini lazim digunakan, yang juga semakin diteguhkan dengan banyak diterbitkannya berbagai versi petikan terpilih dari Matsnawi, diyakini memang dapat memberi pengalaman dan pencerahan spiritual. Tapi itu adalah pembacaan tingkat pertama yang bersifat literal.

Pembacaan yang ditawarkan Safavi dapat disebut sebagai pembacaan reflektif sehingga hasilnya pembaca dapat menemukan pesan spiritual lapis kedua yang berusaha disampaikan Rumi melalui struktur canggih Matsnawi yang hanya dapat tersibak dengan kecermatan dan ketelitian. Cara ini juga dapat memberi pesan tentang bagian-bagian yang perlu mendapatkan perhatian lebih mendalam dalam konteks transformasi spiritual.

Pada titik ini, Safavi menyatakan bahwa dengan demikian Matsnawi tidak hanya membahas tentang pelatihan spiritual, tapi merupakan pelatihan spiritual itu sendiri. Sebagaimana diketahui, pada banyak bagian, Rumi menekankan pentingnya penempuh jalan spiritual (salik) agar tidak terkecoh dengan dunia yang tampak dan harus berusaha melampaui penampilan lahir.

Buku ini bernilai penting karena sumbangannya pada kajian atas karya besar Rumi mampu memberikan warna dan makna baru yang sangat penting dalam penelaahan teks klasik. Lebih jauh, metodologi yang digunakan buku ini sangat menarik untuk dijadikan model pembacaan pada teks-teks klasik lainnya. (*)

M. MUSHTHAFA

Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia