Sabtu, 16 Dec 2017
radarmadiun
icon featured
Berita Daerah

Proges Pekerjaan Terlambat, Proyek Kakap Disorot Wakil Rakyat 

Kamis, 07 Dec 2017 17:00 | editor : Budhi Prasetya

proyek kakap ngawi bermasalah

Pekerjaan ATP di Balai Pelatihan Pertanian Terpadu (BPPT) Ngawi yang menyedot anggaran Rp 6,67 miliar.  (Satrio Jati Waskito/Radar Ngawi)

NGAWI – Agro Techno Park (ATP) belum selesai dikerjakan tapi sudah bikin malu pemerintah kabupaten (Pemkab) Ngawi. Penyebabnya, proyek senilai Rp 6,67 miliar itu terindikasi molor dari jadwal. 

Keterlambatan lima paket pekerjaan yang rata-rata mencapai 15 persen membuat sejumlah pihak jengah. Pihak DPRD Ngawi meminta agar dinas pangan dan perikanan sebagai pengguna anggaran kakap itu segera mengambil sikap. 

’’Harusnya bisa profesional,’’ ucap Ketua DPRD Ngawi Dwi Rianto Jatmiko.

Apalagi, kata dia, proyek dengan dana raksasa itu dikerjakan lima kontraktor sekaligus. Pun, penunjukkan rekanan pelaksana, kata dia, telah melalui proses verifikasi dan uji lewat proses lelang yang dilakukan. 

Artinya, lanjutnya, rekanan pelaksana yang terpilih tidak asal tunjuk. Menurutnya, rekanan yang profesional juga memiliki pertimbangan matang tentang proses pengerjaan. Analisis perkiraan kendala yang akan dihadapi termasuk antisipasi yang disiapkan untuk menghadapinya. 

’’Tidak asal tunjuk, rekanan sudah pasti kompeten. Jangan sampai kepercayaan itu cacat karena hasilnya mengecewakan,’’ jelasnya. 

Dia menambahkan, performa pekerjaan rekanan yang tak sesuai ekspektasi itu bakal menjadi catatan tersendiri. Tidak hanya bagi eksekutif sebagai leading sector atau pengguna anggaran.  Jangan sampai, kata dia, track record yang jelek berdampak merugikan pada rekanan. 

’’Makanya pemkab harus evaluasi itu,’’ ujar politikus PDI Perjuangan itu

Antok –sapaan Dwi Rianto Jatimko- meminta, agar komisi terkait terus mengawasi pelaksanaan proyek tersebut sampai tuntas. Sehingga, tidak ada lagi pekerjaan yang molor dari jadwal waktu yang telah ditentukan. 

Selain waktu, hal yang paling penting diperhatikan adalah kualitas pekerjaan. Lantaran itulah dia meminta pengawasan fokus pada hal itu. Tidak boleh ada kecacatan fatal yang berujung pada perkara hukum. 

’’Ini uang negara, jadi tidak boleh asal kerja,’’ ujarnya.

Dia meminta, lima rekanan pelaksana memperhatikan rekomendasi dewan tersebut. Sehingga proyek dapat selesai sesuai perencanaan. 

Data yang dihimpun, anggaran miliaran proyek itu terbagi pada CV Karya Dharma dari Waru untuk pengerjaan gerbang dan pagar senilai Rp 685 juta. CV Garuda asal Grudo, Ngawi untuk gardu pandang senilai Rp 1,72 miliar. 

Kafetaria senilai Rp 1,16 miliar dikerjakan oleh CV Margo Joyo, Geneng. Sementara itu, lelang pekerjaan rumah pohon dengan nilai Rp 876,4 juta dimenangkan CV Pendopo, Ngrambe. 

Sedangkan CV Guntur Samudro, Geneng menjadi rekanan yang mengerjakan proyek infrastruktur jalan senilai Rp 2,2 miliar.

’’Semua harus beres sesuai spek dan tepat waktu,’’ tegas Antok. 

(mn/ian/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia