Selasa, 20 Feb 2018
radarmadiun
icon featured
Features
Pelajar Berprestasi

Olah Suweg, Tiga Pelajar SMAN 3 Ponorogo Juara Kreativitas Remaja

Kamis, 09 Nov 2017 15:00 | editor : Budhi Prasetya

karya ilmiah pelajar

Dari kiri, Hanik, Elwigia, dan Andiarini, peraih juara pertama Lomba Kreativitas Remaja 2017. (Asta Yanuar/Radar Ponorogo)

Suweg melimpah ruah memantik kreativitas tiga pelajar SMAN 3 Ponorogo. Ide sontak muncul di kepala ketiganya. Suweg diolah menjadi makanan modern. Tujuannya bisa menjadi pilihan pengganti nasi. Kreasi di bidang ilmiah itu mengantarkan Hanik Anur Maria, Elwigia Irma Rosantriani, dan Andiarini Megaputri Pertiwi menjuarai Lomba Kreativitas Remaja 2017.

DENI KURNIAWAN, Ponorogo

TIDAK ADA yang menyangkal Indonesia adalah negara yang subur, gemah ripah loh jinawi. Tiga pelajar SMA Negeri 3 Ponorogo ini tampaknya cukup paham dengan kondisi itu. 

Turut andil dalam rangka menyokong ketahanan pangan nasional, Hanik Anur Maria, Elwigia Irma Rosantriani, dan Andiarini Megaputri Pertiwi, melakuan penelitian ilimiah tentang suweg. 

Umbi-umbian yang biasa tersaji hanya dengan cara direbus, dikemasnya menjadi tiga jenis makanan lain. 

‘’Nama makanannya kami singkat BIURET. Kepanjangan dari biskuit, bubur, dan kroket,’’ kata Hanik. 

Hanik menyebut BIURET sengaja diciptakan menjelang Lomba Kreativitas Remaja 2017 di Universitas Merdeka Madiun. Melalui berbagai tahap perlombaan selama dua bulan, tiga pelajar kelas XI SMA Negeri 3 Ponorogo itu dinobatkan sebagai juara I. 

Mereka menyisihkan 14 regu lain dari berbagai SMA sederajat se Karesidenan Madiun, Kediri, dan Bojonegoro. ‘’Pesertanya banyak, tapi yang lolos ke babak final hanya 15 kelompok,’’ terang Hanik.

Akhir bulan lalu, Hanik dkk sempat melongo saat panitia perlombaan menyebut kelompoknya sebagai juara I. Ketiganya sempat tidak percaya memenangi ajang kreativitas remaja tahunan itu. 

Bagaimana tidak, perlombaan tersebut adalah perlombaan kali pertama yang mereka ikuti. Girang bukan kepalang bercampur rasa tidak percaya dirasakan dalam waktu yang sama. 

‘’Capaian ini hasil kekompakan dan kerja keras kami,’’ ungkap gadis asal Desa Ngumpul, Kecamatan Balong itu.

Kala mengetahui bakal ada lomba, Hanik, Elwigia, dan Andiarini, berpikir keras mencari ide. Obrolan saat ngaso di kantin tak luput objek apa yang akan diangkat mengikuti lomba. 

Rembuk sana rembuk sini, mereka mantap memilih suweg setelah beberapa kali berkonsultasi dengan pembina maupun pembimbing penelitian. 

‘’Suweg banyak tumbuh di daerah saya. Kalau memang berhasil bisa sebagai opsi makanan pokok di samping nasi,’’ ucap Andiarini.

Gadis 16 tahun dari Kecamatan Jambon itu ingin meneliti dan memberdayakan suweg bersama dua sebayanya. Melimpahnya suweg, apalagi saat musim penghujan, menjadi alasan utama. 

Mereka sepakat hendak mengemas jenis tanaman umbi-umbian itu tidak melulu dalam bentuk rebusan. Tidak ketinggalan, Andiarini cs juga meneliti gizi yang dikandung suweg. 

‘’Suweg mudah didapatkan, tapi kurang diminati orang,’’ tambahnya.

Ide dan tujuan sudah jelas, Andiarini bersama dua rekan satu timnya getol meneliti seluk beluk suweg. Membawanya ke sekolah kemudian meneliti, telah menjadi rutinitas tiga gadis ini. 

Baik seusai jam pelajaran selesai ataupun memang jadwal ekstrakurikuler. Ketiganya malah sering nimbrung di laboratorium sekolah dibandingkan nongkrong di cafe atau pusat perbelanjaan seperti remaja seusianya yang lain. 

‘’Kandungan gizi suweg, baik untuk kesehatan tubuh,’’ ujar Andiarini.

Ya, ketiganya berhasil mengungkap kandungan gizi pada tanaman umbi-umbian yang kurang diminati masayarakat ini. Andriarini menyebut suweg memiliki karbohidrat dan protein yang tinggi serta rendah lemak. 

Hal itu mereka ketahui dengan memanfaatkan larutan lugol (karbohidrat), biuret (protein), dan benedict (lemak). 

‘’Satu per satu larutan diberikan setelah suweg direbus dan ditumbuk halus. Jika setelah ditetesi muncul warga gelap, berarti kandungannya tinggi. Sayang belum sempat membandingkan kandungannya dengan nasi,’’ terang Andiarini.

Setelah itu, giliran meracik suweg menjadi tiga jenis makanan yang baru. Yakni biskuit, bubur, dan kroket. 

Pertama-tama mereka mesti membuat tepung lebih dulu dari suweg yang sudah dikupas, direndam air garam, dijemur, lalu digiling. Bahan baku tersebut kemudian dipadukan dengan bahan-bahan yang lain. 

‘’Kalau biskuit dicetak dan dioven. Kalau bubur dan kroket dimasak seperti makanan biasanya,’’ tambah Elwigia.

Beberapa kali melakukan percobaan, Elwigia dkk lantas menguji coba karya ilmiah berupa pemberdayaan suweg tersebut. Senyum melayang kepada tiga pelajar ini sesaat setelah beberapa sebaya dan guru mencicipi biskuit, bubur, dan kroket, hasil penelitian mereka. 

‘’Kami tambah senang setelah tahu terpilih 15 besar,’’ ungkap Elwigia.

Elwigia bersama timnya bertolak ke Madiun. Mereka diminta mempresentasikan hasil penelitiannya di hadapan tiga dewan juri. Pernak-pernik BIURET mulai A sampai Z mereka jelaskan selama 10 menit, kemudian berlanjut menjawab lima pertanyaan. 

Ketiganya tidak menampik jika diserang rasa gugup lantaran pertama kali ikut perlombaan seperti ini. Apalagi, ketika pengumuman juara. 

‘’Tegang, untung ada acara doorprize. Andiarini dapat kotak pensil,’’ kata Elwigia disambut tawa bareng ketiganya.*** 

(mn/mg8/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia