Kamis, 22 Feb 2018
radarmadiun
icon featured
Events
Kisah Hidup

Mbah Simen Terus Bekerja meski Dipandang Sebelah Mata

Minggu, 08 Oct 2017 12:27 | editor : Budhi Prasetya

penjaga palang pintu

Mbah Simen menjadi orang pertama yang menjaga perlintasan KA di Jalan Raya Wonoasri.  (R.Bagus Rahadi/Radar Madiun )

SENGATAN sinar matahari, kepulan asap motor, dan debu jalanan tak mengendurkan semangat Mbah Simen mengamankan perlintasan kereta api (KA) di Jalan Raya Wonoasri. Pengguna jalan yang lewat perlintasan KA tak berpalang pintu di jalan alternatif menuju Mejayan itu berutang jasa kepadanya.

DANAR CRISTANTO, Madiun

SEMULA, Mbah Simen mengisi hari-harinya dengan bekerja serabutan di sawah atau ladang. Dia mulai tergerak bersuka rela menjaga perlintasan KA setelah menyaksikan kecelakaan hebat. Kecelakaan antara mobil dengan KA itu sampai menewaskan satu keluarga. 

‘’Ini bentuk simpati saya,’’ tutur kakek 69 tahun itu.

Aktivitas itu sudah dijalani Mbah Simen sejak 12 tahun lalu. Semula dia berjaga sendirian. Lambat laun muncul beberapa warga yang tergerak mengikuti jejaknya. 

‘’Sama sekali tidak ada yang menyuruh,’’ ungkapnya. 

Saat masih sendirian, Mbah Simen mengaku kerap kewalahan. Sampai dua rekannya, Sumali dan Sukadi, kerap membantu. 

Ketiganya lantas membagi tugas secara bergiliran dalam tiga sif. Perlintasan KA tak berpalang itu paling malam dijaga sampai pukul 23.00 Wib. 

‘’Saya sudah semakin tua, enggak kuat kalau harus berjaga seharian penuh,’’ sedihnya.

Dalam mengemban tugas mulia itu, Mbah Simen kerap dipandang sebelah mata. Padahal, pekerjaan itu dilakoninya semata menjaga keselamatan pengendara yang melintas. 

‘’Tapi saya terus jalan karena ini sangat penting. Libur sehari saja selalu kepikiran bagaimana kalau sampai terjadi kecelakaan,’’ aku warga RT 8 RW 5, Desa Banyukambang, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun itu.

Tidak banyak apresiasi yang didapatkannya. Jika sepi, paling banter hanya mendapat penghasilan sekitar Rp 50 ribu. Sementara dari PT KAI hanya memberikan rompi, atribut bendera, dan peluit. 

‘’Kalau pas mau Lebaran saja dapet THR dari kecamatan,’’ pungkasnya. ***

(mn/sib/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia