Minggu, 25 Feb 2018
radarmadiun
icon featured
Events

Harus Pas Atur Ritme Kayuhan, Tepat Pilih Rasio Gear 

Selasa, 19 Sep 2017 13:00 | editor : Budhi Prasetya

Rudy S. Rustanto, cyclist asal Cepu mencoba menaklukkan tanjakan sebelum garis finis di perkebunan teh Jamus, Ngawi

Rudy S. Rustanto, cyclist asal Cepu mencoba menaklukkan tanjakan sebelum garis finis di perkebunan teh Jamus, Ngawi (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

NGAWI – Cyclist yang menjadi peserta Cycling Party Jamus 100 Km harus mempersiapkan staminanya lebih fit. Pun, kondisi sepedanya juga patut diperhatikan betul. Ini lantaran tanjakan event bersepeda tahunan itu memiliki grade rata-rata 11 persen lebih! 

Itulah sekelumit gambaran yang patut diperhatikan betul peserta Cycling Party Jamus 100 Km yang bakal dihelat 7 Oktober mendatang. Toh, kondisi tanjakan itulah yang jadi daya tarik event yang diprakarsai Jawa Pos Radar Ngawi tersebut. 

’’Kuncinya harus sering latihan,’’ ujar Rudy S. Rustanto, anggota Ratjoen Cycling Club (RCC) yang mengikuti tes rute Jamus bareng tim Radar Madiun Cycling Club (RMCC) dan IPSM, Minggu (17/9).

Kata dia, latihan harus diprogram yang baik. Jarak tempuh bisa ditingkatkan secara bertahap. Dia mengatakan, Jamus 100 Km itu punya keunikan dari sisi track. Khususnya, ketika masuk wilayah Jogorogo hingga finis di Kebun Teh Jamus. 

Selain tanjakan maupun turunan curam,  para cyclist juga harus merasakan siksaan cuaca panas. Itulah tantangan cyclist sebenarnya. 

’’Tujuh kilometer sebelum finis itu istimewa sekali,’’ ujar pesepeda asal Cepu yang pernah mengikuti event bersepeda di Spanyol bersama Azrul Ananda (CEO PT Jawa Pos Koran) tersebut. 

Rudy juga membagi trik lain bagi peserta Jamus 100 Km. Dia meminta agar rasio gear yang dipakai harus tepat. Selain itu, peserta tidak emosional. Kayuhan sesuai dengan kemampuannya tanpa memandang peserta lain yang lebih kuat. 

’’Kalau pun harus pelan-pelan tidak apa-apa. Daripada ikut-ikutan yang kuat, nanti justru lemas dan nggak sampai finis,’’ ujarnya.

Dirinya pun mengungkapkan jika rute Ngawi-Jamus yang disajikan bakal memiliki banyak penggemar. Lantaran, sepanjang jalur dihiasi pemandangan alam yang ciamik. Terutama background gunung Lawu dan Kebun Teh Jamus. 

Sedangkan bagi pembalap, rute 7 kilometer terakhir menjadi daya pikat utama. Semua berkat tanjakan aduhai yang hampir tidak ada habisnya hingga finis. 

’’Saya tiga kali ikut terus. Pertama juara dua, yang kedua juara tiga. Targetnya nanti tiga besar, ’’ ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Chandra Purnama. Anggota IPSM menganggap track paling menantang di Jamus 100 Km terletak di 7 kilometer terakhir. 

Tanjakan yang disajikan hampir tidak ada habisnya. Tidak heran, jika seluruh kekuatan yang dimiliki dicurahkan untuk mampu menaklukkannya. 

’’Dengan rute itu andrenalin terpacu dan bangga bisa menaklukannya,’’ imbuhnya.

Selain itu, Chandra pun mengaku jika kebugaran fisik benar-benar diuji. Tidak hanya melalui tanjakan dan turunan, cuaca pun menjadi tantangan. Owner toko Roda Dua tersebut sempat merasakan perubahan suhu esktrem. 

Bila semula dirinya diserang suhu panas menyengat, memasuki kawasan kebun teh kondisi berubah dingin. Kondisi tersebut mampu menimbulkan keram dan drop-nya ketahanan tubuh. Meski begitu, kondisi tersebut bisa diatasi dengan persiapan cairan yang cukup. 

’’Selain itu juga latihan yang rutin,’’ bebernya.

(mn/ian/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia