Kamis, 21 Sep 2017
radarmadiun
Features
Pengalaman Eli Menghadapi Remaja Bermasalah

Tahan Muntah saat Potong Rambut Anak Punk yang Jarang Keramas 

Rabu, 12 Jul 2017 08:00 | editor : Budhi Prasetya

Elizabeth Eny Tresnawati Kadari dengan seragam Satpol PP Kota Madiun. 

Elizabeth Eny Tresnawati Kadari dengan seragam Satpol PP Kota Madiun.  (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

Selama 20 tahun berpindah-pindah kantor, Elizabeth Eny Tresnawati Kadari akhirnya berlabuh di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Madiun. Tugas barunya berhadapan langsung dengan tangkapan sejawatnya di lapangan. Hatinya menangis saat mengetahui ada remaja punk yang terjerat pergaulan bebas.  

DENI KURNIAWAN, Madiun

KANTOR Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Madiun kerap mendapat “tamu” anak punk. Jika sudah begitu, Elizabeth Eny Tresnawati Kadari bakal dibuat sibuk. 

Ya, jabatan Eli selaku kasi pembinaan pengawasan dan penyuluhan harus berada di depan menangani hasil tangkapan sejawatnya di lapangan. 

Tugas utama satpol PP memang memelihara ketenteraman dan ketertiban umum hingga sering merazia anak punk, gelandangan, pengemis, serta pekerja seks komersial (PSK). 

‘’Karena kami harus menegakkan perda (peraturan daerah),’’ katanya. 

Pun, Eli tampak kalem saat menghadapi para pelanggar perda itu. Sederet pertanyaannya dilontarkan dengan nada rendah. 

Malahan dia sesekali mengajak bergurau sebelum memberi nasihat. Padahal Eli baru hitungan bulan bertugas di satpol PP. Seragam berkelir hijau yang dikenakannya bertutup jilbab di bagian kepala. 

‘’Saya lama bertugas di dinas yang bersinggungan langsung dengan pelayanan masyarakat. Jadi tidak lagi canggung,’’ ujarnya. 

Dia sempat berdinas tiga tahun di dinas pendapatan daerah (dispenda). Itung-itung sudah delapan kantor yang dijelajahnya. 

Namun, tempatnya berkantor sekarang ini paling berbeda. Eli harus berhadapan dengan orang-orang tangkapan yang mengganggu ketenteraman dan ketertiban masyarakat. 

‘’Paling sering melakukan pembinaan kepada muda-mudi dengan berbagai kasus,’’ aku Eli.

Kendati ada embel-embel kata polisi di singkatan satpol PP, namun sikap tegas jauh dari ibu tiga anak itu. 

Nada bicara Eli tertata saat melakukan interogasi. Lewat pendekatan seperti itu, dia merasa lebih mudah menggali akar permasalahan. Apalagi, jika yang dihadapinya adalah perempuan. 

‘’Kalau pakai istilah sekarang seperti curhat,’’ ungkapnya.

Bahkan, Eli kerap ingin menangis jika mendapati ada perempuan belia yang menjajakan diri. Naluri keibuannya ikut mengapung ke permukaan. Dia selama ini memperlakukan para remaja bermasalah yang harus berurusan dengan satpol PP seperti keluarga sendiri. 

‘’Saya juga pernah mengantarkan pulang tangkapan anak di bawah umur. Dari yang mulanya anak itu tidak mengetahui asal-usulnya sampai dipertemukan dengan orang tua kandungnya di Kecamatan Plaosan,’’ ingatnya.

Namun, Eli dibuat geleng-geleng saat berhadapan dengan gerombolan anak punk berlainan jenis. Dia selalu menyuruh mereka mandi lebih dulu sebelum mengajak berbicara intens. 

Tatkala mendapati pergaulan bebas sudah lumrah terjadi, Eli sempat shock. Muncul istilah satu untuk semua. 

‘’Mengaku melakukan hubungan badan di kuburan atau toilet SPBU. Benar-benar memprihatinkan,’’ ujarnya. 

Eli juga pernah memangkas rambut anak punk perempuan karena dua kali terjaring razia. Niat hati memberikan efek jera, dia malah harus menahan muntah. Bau tidak sedap langsung merebak dari rambut yang tidak pernah kena sampo itu. 

‘’Saya sampai menahan napas, banyak juga kutunya,’’ kenang Eli. 

Eli juga sempat terkaget-kaget saat mengetahui tidak semua anak punk berasal dari keluarga kurang mampu. 

Sejumlah binaan Eli memiliki orang tua yang berpenghasilan cukup. Broken home menjadi pemicu para remaja itu berkeliaran di jalan. 

‘’Kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tua. Ingin bebas, tapi kebebasan yang salah,’’ paparnya.

Lantaran memperlakukan anak-anak binaannya seperti keluarga sendiri, Eli kerap mendapat sindiran di rumah.

Ketiga anak kandung Eli kerap menyebut anak punk yang ditemui di jalan sebagai teman ibunya. 

‘’Itu teman ibu- itu teman ibu. Kalau suami menyindir kenapa tidak tidur di kantor saat saya pulang malam,’’ seloroh istri Bambang Setiyono itu. ****

(mn/mg8/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia