Kamis, 21 Sep 2017
radarmadiun
Features
Sumiati, Dalang Wayang Kulit Perempuan 

Diangkat PNS karena Mahir Mendalang, Tidak Alergi Lakon Carangan

Selasa, 11 Jul 2017 17:40 | editor : Budhi Prasetya

Sumiati saat mendalang pada salah satu acara di Kota Madiun beberapa waktu lalu

Sumiati saat mendalang pada salah satu acara di Kota Madiun beberapa waktu lalu (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

Profesi dalang wayang kulit bukan hanya milik kaum laki-laki. Sumiati adalah buktinya. Sudah berani manggung sejak masih duduk di bangku SD, dia sudah menjelajah nyaris seluruh daerah di Jatim. Sumiati juga langganan mendalang di Riau dan Balikpapan.

DENI KURNIAWAN, Madiun

SUARA kung khas dalang tak terdengar saat Sumiati naik panggung. Yang dominan adalah suara sopran milik perempuan. Ya, warga Jalan Depok Manis, Manisrejo, Kota Madiun, itu termasuk dalang perempuan yang jumlahnya langka. 

Sumiati kali terakhir tampil di pergelaran wayang kulit yang dihelat Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun untuk memperingati hari jadi ke-99. ‘’Memainkan lakon Wiratha Parwa, kisah penyamaran Pandawa,’’ katanya.

Pemkot sengaja mengumpulkan para dalang kawakan tampil sepanggung. Sumiati terpilih di antaranya. 

Kendati tercatat satu-satunya dalang perempuan, dia tidak kalah piawai mengisahkan lakon ringgit purwa (wayang kulit). Tangan perempuan 44 tahun itu lincah memainkan wayang berlatarkan kelir kain. 

Perbedaan antawacana (suara masing-masing tokoh pewayangan) dilafalkannya dengan apik. Suluk dan cengkok mulus juga disuarakannya. 

‘’Sudah belajar ndalang sejak anak-anak,’’ akunya.

Pertama kali tangan Sumiati memegang gapit dan cempurit (penyangga wayang kulit) ketika masih duduk di kelas V sekolah dasar (SD). 

Dia tidak akan pernah lupa peran Soepeno, kepala SDN Ngaglek, Parang, Magetan, yang mengenalkannya dengan wayang kulit. Soepeno juga seorang dalang. 

‘’Beliau yang mengajarkan ilmu pedalangan, termasuk nama-nama tokoh pewayangan berikut karakternya. Dulu asal ditunjuk, saya nurut saja disuruh latihan,’’ ungkap istri Sumartono itu.

Mulai menguasai ilmu pedalangan, Sumiati kecil berani tampil. Bersila menghadap bentangan kain putih dengan deretan wayang di kanan dan kirinya. Kelompok karawitan yang mengiringi berasal dari kalangan guru SD tempat Sumiati bersekolah. 

Daya tarik berupa dalang perempuan cilik yang berani tampil ditonton banyak orang membuat tawaran manggung berdatangan. 

‘’Modalnya percaya diri saja waktu itu,’’ kenangnya.

Seiring bertambahnya usia, Sumiati kian matang mendalang. Dia juga semakin menggandrungi kesenian wayang kulit karena ingin melestarikan warisan leluhur. 

Referensi seputar pedalangan didalaminya secara otodidak. Setiap kali ada saluran radio mengudarakan pergelaran wayang kulit, nyaris tak luput disimak Sumiati. 

‘’Sering begadang sampai pagi,’’ ujar ibu lima anak itu.

Perempuan kelahiran Magetan itu juga kerap menonton setiap kali ada pergelaran wayang kulit. Sumiati sengaja mencari tempat duduk yang strategis agar mampu menyerap ilmu dalang senior ketika manggung. 

Datangnya pun lebih awal lantaran pertunjukan wayang kulit waktu itu selalu ramai penonton. ‘’Saya hampir dapat dipastikan nonton kalau ada pertunjukan wayang kulit di Magetan,’’ tambahnya.

Upaya Sumiati tidak sia-sia. Kemunculannya mendapat respons baik dari masyarakat. Dia mencatat pernah manggung di 13 kecamatan yang ada di Magetan. 

Penontonnya menyemut lantaran dalang perempuan terbilang langka. Bahkan, saat ada festival pedalangan se-Jatim pada 1997 lalu, hanya Sumiati seorang dalang perempuan yang ambil bagian. Dia mendapat predikat penyaji terbaik. 

‘’Selain saya, ada empat dalang lagi yang dinobatkan sebagai penyaji terbaik,’’ ingatnya.

Berkat prestasi itu, Sumiati diangkat pegawai di departemen penerangan. Ketika jawatan itu dilebur pascareformasi, dia beralih tugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Madiun. Sumiati tetap tidak dapat meninggalkan dunia pedalangan. 

‘’Sudah jatuh cinta dengan wayang kulit,’’ ujar PNS yang kini menduduki kursi kasi pembinaan sejarah nilai-nilai tradisi dan cagar budaya itu.

Bahkan, dia sering menyeberang ke luar pulau untuk mempertontonkan kepiawaiannya mendalang. Keluarga transmigran yang kini menetap di Riau dan Balikpapan kerap menanggapnya. Sumiati biasa tampil di acara peringatan hari kemerdekaan. 

‘’Perayaannya bisa sampai tujuh hari tujuh malam di sana,’’ terangnya.

Puluhan tahun bergelut dengan wayang kulit, sudah puluhan lakon yang pernah dimainkannya. Sumiati mengaku pernah menjelajah nyaris semua daerah di Jawa Timur. 

Dalang perempuan ini memiliki cara khusus memahami karakter tokoh wayang. Selain belajar dari sejumlah referensi, bentuk wajah tiap tokoh ternyata mencerminkan karakternya. 

‘’Wajah yang menunduk condong ke sifat kalem,’’ papar penggemar berat Kresna dan Arjuna itu.

Dia  tidak memungkiri munculnya perbedaan pergelaran wayang kulit tempo dulu dan sekarang. Seni pedalangan terus berkembang. 

Dari sisi cerita, misalnya, kini ada lakon carangan berupa pengembangan lakon lama. Namun, dia mengambil jalan tengah dengan upaya tidak keluar pakem. 

‘’Tetap memiliki benang merah, dulu pergelaran wayang bisa sampai pagi. Matahari terbit baru bubar,’’ selorohnya.

Selain tetap aktif mendalang, Sumiati kini membentuk tim yang menularkan seni dan budaya kepada generasi muda. Kegiatan berkesenian itu dihelat setiap Senin dan Rabu di Gedung Kesenian Kota Madiun. 

‘’Ada bocah perempuan yang sekarang berlatih mendalang,’’ senangnya. ****

(mn/mg8/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia