Sabtu, 24 Feb 2018
radarmadiun
icon featured
Features
Krisna, Dalang Cilik Berprestasi Asal Madiun

Paling Mudah Dialog Wayang Werkudara karena Ngoko Terus

Kamis, 06 Jul 2017 19:52 | editor : Budhi Prasetya

Daffa Sakrisna Prasetyo memperagakan adegan pewayangan

Daffa Sakrisna Prasetyo memperagakan adegan pewayangan (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

Bakat mendalang kakeknya menurun ke Daffa Sakrisna Prasetyo. Semasa balita, dia sudah sering diajak manggung. Kali pertama mendalang, masih taman kanak-kanak (TK). Juara lomba tingkat kota hingga predikat dalang terbaik seprovinsi mampu diraih.  

DENI KURNIAWAN, Madiun

SEBUAH rumah Desa Sambirejo, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun terlihat kental bernuansa arsitektur Jawa. Enam tiang kayu berdiri kokoh menyangga atap ruang tamu. Di sudut ruangan, sebuah gong besar menggantung di gayor-nya (tempat menaruh gong). 

Berselimut kain, kotak kayu wadah wayang kulit tertata rapi di bawah lukisan Werkudara yang tengah bertarung dengan seekor ular. Tampak juga sejumlah foto lawas yang masih terawat menempel di dinding. 

‘’Itu foto kakek saya,’’ kata Daffa Sakrisna Prasetyo.

Bocah laki-laki 14 tahun yang akrab dipanggil Krisna itu tertarik dengan wayang kulit saat melihat Sakri, kakeknya, mendalang. Bakat seni itu tampaknya menurun. 

Krisna dipercaya mendalang dalam pagelaran wayang kulit menandai acara pembukaan Pekan Budaya HUT Kota Madiun yang ke-99 beberapa waktu lalu. 

‘’Suka wayang kulit karena kakek,’’ aku siswa kelas VIII SMPN 4 Kota Madiun itu.

Almarhum Sakri dikenal sebagai salah seorang dalang kenamaan di wilayah Madiun. Krisna dulu sering diajak saat Sakri manggung. Belum paham bahasa pewayangan, adegan-adegan perang yang paling disukainya. 

‘’Senang rasanya, apalagi saat lihat buto nya keok,’’ ingat Krisna.

Tinggal seatap dengan Sakri, cerita pewayangan didengar Krisna langsung dari mulut kakeknya. Watak sejumlah tokoh pewayangan mulai dipahami Krisna. Kisah Pandawa Lima yang paling sering didengar saat kakeknya bercerita di waktu luang. Pun, 

Krisna sempat diajari teknik dasar mendalang. Namun, kakeknya keburu meninggal dunia sebelum si cucu tuntas menyerap ilmu. 

‘’Sedih, tidak bisa tanya-tanya lagi ke kakek,’’ ungkapnya.

Kendati begitu, niat Krisna nguri-uri warisan budaya Jawa tidak pernah surut. Cucu Sakri yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak kala itu begitu bersemangat mendalami ilmu pedalangan. 

Kolega almarhum kakeknya menangkap minat bocah kelahiran 24 Juli 2003 itu. Krisna akhirnya mendapat undangan dari Dinas Pendidikan Kota Madiun untuk tampil mendalang. 

‘’Umur saya waktu itu belum genap enam tahun. Pentas pertama, bersama tiga dalang yang lain,’’ terangnya.

Krisna mulai berlatih rutin. Dia belajar ilmu pedalangan bersama sejumlah sebayanya. Ada dalang yang bersedia menjadi guru privat dengan datang ke rumah Krisna setiap Senin dan Rabu sore. 

Di situ sudah tersedia peranti pewayangan lengkap beserta gamelannya. Tak butuh waktu lama, Krisna mampu menguasai suluk (lantunan lagu dengan cengkok khas pada awal pergelaran wayang kulit). 

Teknik-teknik sabet (cara menggerakkan wayang), ontowecono (logat antartokoh wayang), dan keprak (cara memukul wadah wayang) juga cepat dikuasai Krisna. Selain itu, dia  dituntut mampu menghafal naskah lakon. 

Apalagi, dialognya menggunakan bahasa Jawa dalam berbagai tingkatan (kawi, krama, dan ngoko) yang kurang akrab dengan telinga generasi sekarang ini. Tiga lakon yang dihafal Krisna di luar kepala adalah Sumantri Ngenger, Begawan Ciptaning, dan Tetuka Gembleng. 

‘’Menghafalnya tiap malam sebelum tidur. Yang paling mudah dialognya dialog Werkudara karena ngoko terus,’’ ujarnya.

Darah seni agaknya mengalir kuat di tubuh Krisna. Sering kali sudah dia tampil mendalang di berbagai acara. Selain itu, dia piawai memainkan gamelan. 

Demung dan saron yang selama ini kerap dimainkannya. Pun, tim karawitan Krisna menjuarai lomba tingkat pelajar SD se-Madiun 2013. 

‘’Sering latihan demung dan saron di rumah,’’ ungkap sulung dua bersaudara pasangan Heru Prasetyo dan Yanti itu.

Setahun berikutnya, Krisna maju lomba seni pedalangan tingkat kota. Dia sengaja berlatih keras. Menu latihan yang biasanya dua kali sepekan diganti setiap hari sebelum lomba. 

Krisna harus rela mengorbankan waktu bermainnya. Namun, pengorbanan itu setimpal dengan gelar juara yang diraihnya. 

‘’Rasanya senang,’’ ucapnya.

Menang di lomba kelas kota, Krisna melenggang ke tingkat provinsi. Hasil yang membanggakan juga didapatnya. 

Tangan luwes Krisna menggerakkan gapit (penyangga badan wayang) dan cempurit (penyangga tangan wayang) berbuah predikat juara I dalang catur. Kategori catur adalah dalang yang mimiliki keunggulan pada pembawaan dan penyampaian kisah. 

‘’Saya ingin menang di kategori lainnya,’’ harap Krisna. 

Gubernur Jatim Soekarwo mengapresiasi dalang cilik asal Kota Madiun itu. Krisna diundang tampil di Sidoarjo dalam acara bertajuk Padang Rembulan. 

Tidak asal tampil, Krisna harus berlatih bersama dalang pemenang kategori lain selama satu pekan. Tampilnya berurutan, sambung-menyambung, membawakan sebuah lakon. 

‘’Mainnya seru waktu itu,’’ ujar Krisna. ****

(mn/mg8/sib/JPR)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia