Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Ponorogo

Lay Out Pasar Songgolangit Membingungkan

Hasil Pemeriksaan BPPM UB Malang

Jumat, 19 May 2017 20:18

Lay Out Pasar Songgolangit Membingungkan

Petugas membersihkan limbah kontruksi di lantai dua Pasar Songgolangit, Kamis (18/5). (Asta Yanuar/Radar Ponorogo)

PONOROGO – Tata ruang atau lay out Pasar Songgolangit, Ponorogo, membingungkan. Indikasinya, akses keluar masuk barang dan lalu lalang manusianya di pasar kelewat sempit. Tidak cuma itu, pasar yang kobong pada hari Minggu lalu itu, sangat minim petunjuk arah.

 ‘’Akses keluar-masuk fasilitas umum yang digunakan banyak orang secara bersamaan wajib longgar,’’ kata koordinator Badan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (BPPM) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Malang Sugiharto, Kamis (18/5).

Dia bersama tim BPPM UB memang diminta Pemkab Ponorogo meninjau lokasi pasar. Pihaknya langsung melakukan pemeriksaan. Khususnya tata ruang pasar. Harapannya, kekurangan saat ini segera tersolusikan agar tidak terulang. 

Sugiharto menyebut akses keluar-masuk barang dan orang di Pasar Songgolangit cukup sempit. Akibatnya, masyarakat kurang leluasa. Padahal, akses keluar-masuk penting. Utamanya, saat kondisi gawat darurat. Ia menyebut beruntung musibah kebakaran lalu terjadi saat malam. 

‘’Belum ada petunjuk arah. Ini penting karena pengunjung pasar juga orang luar yang tidak terbiasa,’’ terangnya sembari menyebut diprediksi bakal  crowded kalau kejadian kebakarannya siang. 

Petunjuk arah, kata dia, bukan hilang turut terbakar. Namun, memang tidak ada. Pihaknya juga mengorek informasi dari petugas pasar. Selain itu, tidak ada jalan damkar lebih masuk ke dalam. 

Ini juga penting, apalagi bangunan pasar terpisah areal parkir cukup lebar dengan jalan. Tak pelak, mengurangi daya jangkau penyemprotan air. 

Sugiharto juga tak membantah minimnya perawatan fasilitas penunjang keamanan. Mulai hydrant, Alat pemadam api ringan (APAR), hingga alarm. Ketiganya ada. Namun, tidak berfungsi. 

‘’Harusnya ada pemeriksaan berkala untuk memastikan alat keamanan itu siap digunakan,’’ ungkapnya.

Pihaknya juga mengorek informasi soal penataan pedagang. Menurutnya, penataan belum terblok sesuai jenis barang dagangannya. Masih banyak yang tercantum. Dia tunjuk bukti areal lantai dua yang tidak hanya digunakan pedagang kain. 

Namun, pedagang dengan barang dagangan berat juga menggunakan. Di antaranya pedagang sembako. Dagangan jenis ini harusnya berada di lantai satu. Selain mengurangi beban lantai dua, barang bakal sulit diselamatkan saat terjadi musibah. 

‘’Kami juga diminta mendesain penataan pedagangnya ke depan. Makanya, kami juga mempelajari seperti apa penataan sebelumnya,’’ terangnya sembari menyebut terkait kekuatan kontruksi bangunan paska kebakaran masih diperlukan penilitian lebih lanjut.

Sementara itu, pedagang korban kebakaran mulai diperbolehkan masuk ke lokasi. Namun, hanya areal lantai satu. Sedang, areal lantai dua dinilai masih membahayakan lantaran banyaknya limbah kontruksi yang belum selesai dibersihkan. 

Pedagang juga mulai membantu membersihkan sisa kebakaran di lapak masing-masing. Termasuk, blok U lantai satu yang disebut tim forensik sebagai sumber api. Areal tersebut sudah bersih sekarang. 

‘’Minggu itu (hari kejadian) masih berjualan. Tutup seperti biasa sekitar pukul 16.30,’’ kata Yuliati, salah seorang pemilik warung di blok U tersebut.

Yuli –sapaannya- mengaku ada lima warung kopi dan makan di blok U. Kelimanya buka dan tutup seperti biasa saat hari kejadian. Pun, dia memastikan tidak ada api menyala sebelum ditinggal pulang. 

Begitu juga dengan rangkaian kabel listrik yang dipastikan dalam kondisi baik. Yuli mengaku hanya pasrah begitu mendapati tempatnya berjualan ludes bersama ratusan lapak dan los pedagang lain. 

‘’Tidak tahu. Semuanya seperti biasa. Tahu-tahu mendapat kabar kebakaran ini,’’ pungkasnya sembari menyebut tidak ada barang miliknya yang tersisa. (agi/rif)   

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia