Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Peristiwa

Spider-Man Putih Biru Bergelantungan di Angdes

Jumat, 19 May 2017 18:30

Spider-Man Putih Biru Bergelantungan di Angdes

Empat pelajar SMP bergelantungan di pintu masuk angkutan umum yang melintas di Jalan Karya Dharma, Kelurahan Ringinagung. (Andi Chorniawan/Radar Magetan)

MAGETAN – Bukan sekali dua kali pelajar bertaruh nyawa demi menuntut ilmu. Kondisi jalan ekstrim menantang maut nyatanya tak mnyurutkan nyali pelajar. Tapi lain yang terjadi di Kabupaten Magetan, pelajar kerap bergelantungan di pintu masuk angkutan umum. 

Meski nyawa taruhannya, toh kondisi tersebut tidak membuat nyali pelajar tersebut keder. Pemandangan itu kerap terlihat saat jam pulang sekolah. Pun warga tidak menganggap sebagai fenomena biasa.

Pantauan Jawa Pos Radar Magetan di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Kauman, sebanyak enam pelajar SMP terlihat bergelantungan di pintu masuk bagian belakang angkutan umum. Mereka terpaksa beraksi bak Spider-Man lantaran bagian dalam kendaraan sudah penuh. 

Angkutan warna biru itu kemudian belok arah ke selatan menuju Jalan Karya Dharma Kelurahan Ringinagung dan berhenti di perempatan pasar setempat. Sejumlah pelajar turun dan menyisakan tempat duduk kosong di dalam. 

Namun, ketika angkutan kembali melaju, tampak empat siswa berseragam putih biru bergelantungan di pintu masuk. Sopir angkutan seolah tutup mata dan tidak menegur ulah sejumlah anak baru gede (ABG) tersebut. 

‘’Sebetulnya kami sudah menegur, tapi ya gitu tetap saja terulang,’’ ujar Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Magetan Yoyok Setyo Utomo, Kamis (18/5).

Yoyok menjelaskan, kenekatan pelajar berdiri bergelantungan di pintu masuk seakan sudah menjadi tradisi. Pun, diakuinya aksi menantang maut ABG itu berlangsung sejak lama. 

‘’Kami sudah meminta para sopir angkutan umum untuk menegur, tapi masih ada saja pelajar yang nekat bergelantungan,’’ katanya. 

Menurut dia, fenomena pelajar bergelantungan itu tidak terlepas dari minimnya angkutan pedesaan (angdes) maupun angkutan kota (angkota). Dia menyebut saat ini hanya dua angdes masih beroperasi dari total 18 armada. Sedangkan angkota yang aktif hanya 40 dari total 70 unit.  

‘’Sopir juga tidak bisa menolak walaupun ada risiko para pelajar itu terjatuh,’’ sebutnya. 

Yoyok menjelaskan, kondisi angkutan umum saat ini ibarat hidup segan mati tak mau. Jumlah pemasukan yang diterima tidak sebanding dengan biaya operasional sehingga banyak armada yang terpaksa dikandangkan. 

‘’Kami juga tidak mungkin melakukan penertiban. Khawatir pemilik angkutan umum semakin merugi,’’ kata pria yang juga guru bimbingan konseling (BK) SMP itu. 

Meski begitu, dia mengaku sudah memiliki solusi terkait permasalahan tersebut. Yakni, menjalin kerja sama dengan satuan lalu lintas (satlantas). Polisi diminta mempertimbangkan pelajar yang tinggal di luar kota untuk diperbolehkan mengendarai sepeda motor hingga perbatasan. 

Setelah sampai wilayah perbatasan, lanjut dia, mereka menuju ke sekolah menggunakan angkutan umum. 

‘’Jadi setelah masuk ke wilayah perkotaan, perjalanan pelajar akan ditampung dengan angkutan,’’ jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magetan. 

Solusi lainnya, lanjut Yoyok, meminta dinas pendidikan kepemudaan dan olahraga (disdikpora) memberlakukan perbedaan jam masuk sekolah jenjang SMP dan SMA. Hal tersebut diyakini mampu mengurai problem keterbatasan armada. 

Juga adanya transportasi khusus pelajar bersubsidi menggunakan angkota. Seperti yang sudah diterapkan di daerah lain. 

‘’Daerah lain seperti Ponorogo, Kediri, dan Jombang sudah menerapkannya,’’ kata Yoyok. (cor/isd/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia