Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Magetan

Disnakan Akui Pemanfaatan RPH Belum Maksimal

Selasa, 16 May 2017 19:30

Disnakan Akui Pemanfaatan RPH Belum Maksimal

Suwarno dan BB ratusan kilogram daging sapi gelonggongan saat press release, Senin (15/5) (Andi Chorniawan/Radar Magetan)

MAGETAN - Bagaimana pola pengawasan penjualan daging di Kabupaten Magetan? Pertanyaan yang muncul terkait peredaran daging tidak layak konsumsi oleh oknum penjual daging sapi dan ayam. 

Hasil pemeriksaan sementara oleh penyidik diketahui jika praktik penjualan ayam mati kemarin (tiren) di Desa Bulugunung, Kecamatan Plaosan sudah berjalan kurang lebih dua tahun. 

Pun demikian dengan bisnis daging sapi glonggongan di Dusun Tangkil, Desa/Kecamatan Poncol yang dibongkar Polres Magetan. Suwarno, mengaku jika usaha itu sudah dilakoninya sejak Juni 2015. 

Beruntung kedua praktik curang tersebut berhasil dibongkar kepolisian setempat. Operasi tangkap tangan (OTT) pelaku praktik jual beli daging tidak layak konsumsi itu seolah menampar wajah dinas peternakan dan perikanan (disnakan) Magetan. 

Meski begitu, disnakan seolah enggan disalahkan. Satker itu mengklaim sudah jauh hari melakukan pembinaan kepada para pelaku usaha daging sapi. 

‘’Baik peternak maupun penjagal sudah kami beri bimbingan dan penyuluhan,’’ kata Kabid Kesehatan Hewan Disnakan Budi Astono, Senin (15/5). 

Budi menolak pihaknya dianggap kecolongan dengan adanya praktik culas tersebut.  Sebab, sudah melakukan berbagai upaya untuk melakukan pencegahan. 

Di antaranya, dengan menerapkan pola aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Pola tersebut sudah disosialisasikan ke daerah-daerah yang memiliki banyak peternak. 

‘’Juga kami sampaikan bahaya pengolahan daging secara tidak wajar maupun sanksi hukumnya,’’ ujarnya. 

Dia menambahkan, para penjagal diminta melakukan penyembelihan sapi di rumah potong hewan (RPH) sebagaimana instruksi pemerintah. Sosialisasi itu dilakukan melalui penyuluhan maupun media. Namun, diakuinya penyembelihan lewat RPH tidak berjalan maksimal. 

‘’Kemungkinan itu dari penjagal yang lainnya. Di Magetan ada sekitar 17 tukang jagal,’’ paparnya. 

Budi mengungkapkan, praktik penggelonggan membuat penyerapan air pada tubuh sapi menjadi lebih banyak sehingga bakteri di dalam daging berpotensi berkembang biak. Hal itu yang membuat daging sapi membusuk. Nah, daging busuk jika dikonsumsi bisa berakibat fatal. 

Dampak jangka pendek, kata dia, memicu keracunan. Bahkan, jika dikonsumsi secara terus menerus bisa menyebabkan kematian. 

‘’Kalau sudah ada kejadian seperti itu, polisi pasti melakukan penyelidikan. Cepat atau lambat pelakunya pasti ketahuan. Jadi, yang rugi si jagal sapinya,’’ bebernya.  

Dia menjelaskan, ciri daging sapi gelonggongan bisa diketahui secara kasat mata. Ketika diletakan pada lantai keramik, daging gelonggongan terlihat mengeluarkan air. Selain itu, daging gelonggongan terlihat lebih pucat dan beraroma busuk. 

‘’Untuk mengetahui pasti tidaknya digelonggong harus melalui uji laboratorium,’’ tandasnya. (cor/isd/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia