Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Caruban

‘’Ikhlas Tidak Ikhlas...’’

Minggu, 05 Feb 2017 18:46

‘’Ikhlas Tidak Ikhlas...’’

Peternakan ayam milik Bambang yang terpaksa ditutup (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

WUNGU – Raut tak percaya masih tergambar jelas dari wajah Bambang Purnomo.Pasalnya, usaha peternakan ayam petelur yang jadi penopang kehidupannya bersama putra semata wayangnya ditutup aparat Satpol PP pemkab setempat.

Warga Dusun  Jatimongal, Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun itu tak bisa lagi mendengar kokok suara ayam miliknya setiap pagi.

 ‘’Ikhlas tidak ikhlas, ya harus ikhlas,’’ jelas Bambang Purnomo.

Diakui lelaki 38 tahun itu, usaha peternakan ayam petelur miliknya sudah berjalan hampir dua tahun. Sebelum mendirikan kandang ayam di belakang rumahnya itu, dirinya sudah mengajukan perizinan.

Hanya, izin yang sudah diteken Kepala Desa (kades) setempat itu dikembalikan Pemerintah Kecamatan Wungu. Sebab, dua tetangganya tidak memberikan lampu hijau.

Pemilik sawah di belakang kandang juga merasa keberatan dengan keberadaan kandang ayam petelur tersebut.

‘’Alasannya karena bau,’’ ujarnya.

Tak mendapat restu dari tiga tetangganya, Bambang Purnomo tetap mendirikan kandang seluas 8x8 meter di belakang rumahnya. Kandang itu mampu untuk menampung setidaknya 250 ekor.

Setiap harinya, Bambang sebenarnya rajin membersihkan kandang. Kotoran ayam yang dianggap sebagai sumber bau itu sudah dicampur zat kimia dan dibuang ke areal sawahnya sendiri.

‘’Sebenarnya tidak sampai menimbulkan bau yang menyengat. Sawah saya juga jauh dari permukiman,’’ terangnya.

Sebagai single parent, keputusan beternak ayam petelur dirasa jadi pilihan tepat. Pasca berpisah dengan sang istri, putra semata wayangnya yang sudah menginjak usia 12 tahun itu membutuhkan biaya hidup lebih banyak, terlebih untuk pendidikan.

‘’Lapangan pekerjaan di desa juga terbatas. Paling banter juga bertani,’’ jelasnya.

Setiap harinya, Bambang dapat memanen hingga delapan kilogram telur. Keuntungan yang didapatkan itu masih harus dipangkas untuk biaya perawatan dan pakan.

Pasca kandang ayam yang menjadi sumber penghasilannya itu ditutup, dia pun harus memutar otak untuk mencari usaha lain.

Dirinya ingin membiayai sekolah anaknya hingga ke perguruan tinggi seperti yang dicita-citakannya.

‘’Sekuat tenaga, apapun bakal saya lakukan,’’ jelasnya.

Bambang juga siap mengikuti instruksi pihak-pihak terkait dalam penutupan usahanya tersebut. Dia pun bersedia mengulangi prosedur yang sudah pernah dilakukan demi mengantongi izin resmi.

‘’Tidak apa sekarang berhenti. Untuk kelanjutannya saya manut saja dengan atasan. Saya juga mohon untuk difasilitasi pengurusan izinnya,’’ terangnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun Bambang Brasianto mengatakan, dampak polusi udara dari kotoran peternakan ayam memang tidak dapat dihilangkan.

Namun, aroma kotoran yang menyengat dapat diminimalisasi. Terlebih, kandang ayam di Desa Bantengan itu hanya berkapasitas 250 ekor sehingga skalanya masih termasuk usaha rumah tangga.

‘’Aromanya tentu tidak setajam seperti yang jumlahnya ribuan,’’ jelasnya.

Bambang mengatakan, pengusaha memang dapat menggunakan kotoran ayam sebagai pupuk kandang. Hanya, kotoran itu harus diuraikan dengan zat kimia terlebih dahulu. Jika langsung ditaburkan pada tanaman, justru bakal mematikan.

‘’Akan lebih baik jika ditampung dalam bak penampungan dan diolah terlebih dahulu. Selain bagus untuk tanaman, juga tampak lebih bersih,’’ jelasnya.

Bambang menyarankan, mendirikan lokasi usaha peternakan ayam memang harus jauh dari permukiman. Setidaknya harus pada radius 250 – 300 meter.

Namun, ketentuan itu tetaplah bersifat dinamis asalkan masyarakat di lingkungan sekitar kandang masih kondusif.

‘’Untuk jarak dengan permukiman warga masih bisa disikapi. Tapi, untuk pengelolaan limbahnya harus sesuai standarnya,’’ pungkasnya. (bel/fin/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia