Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Caruban

Longsor Gagalkan Panen Kakao dan Cengkih

Minggu, 05 Feb 2017 18:18

Longsor Gagalkan Panen Kakao dan Cengkih

Kondisi belakang rumah Dimin kian mengkhawatirkan pascamusibah longsor, Jumat (3/2). (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

DAGANGAN – Dimin, warga RT 13 RW 2, Desa Ngranget, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, terlihat sibuk membersihkan puing-puing rumahnya yang tergerus bancana tanah longsor pada Rabu kemarin (1/2).

Pria 56 tahun itu sesekali menatap ke arah bawah. Pandangannya tertuju pada puluhan pohon kakao dan cengkih yang sudah tertimbun tanah liat.

Kebun di belakang rumah Dimin juga ikut hancur. Padahal, lima batang cengkih yang roboh itu sudah mulai berbunga. Akibat tertimpa longsor, dipastikan saat panen raya Juli hingga September mendatang dia bakal gigit jari.

‘’Kini sudah semua,’’ keluhnya, Jumat (3/2).

Padahal, di setiap kali panen, Dimin bisa memetik hingga 25 kilogram cengkih kering dari setiap pohon. Setiap kilogram cengkih kering senilai Rp 92 ribu.

Bahkan, jika harga cengkih sedang bagus ia bisa meraup keuntungan hingga Rp 100 ribu per kilogram. Setidaknya, Dimin kehilangan potensi penghasilan sebesar Rp 11,5 juta.

‘’Penghasilan satu-satunya juga dari berkebun. Tidak punya keahlian lain,’’ paparnya.

Selain itu, 15 batang kakao pun tak luput dari longsoran tebing setinggi empat meter itu. Kerugian kakao yang ditanggung Dimin tak kalah banyak dengan kerugian pohon cengkih.

Sebab, setiap pohonnya bisa menghasilkan tiga kilogram biji kakao kering. Kakao kering itu bisa laku hingga Rp 25 ribu per kilogramnya. Alhasil, Dimin tidak dapat merasakan hasil panen kakao sebesar Rp 1.1125.000.

‘’Padahal kakaonya sudah mulai berbuah,’’ paparnya.

Menurut cerita Dimin, tanah longsor yang memporak-porandakan perkebunannya itu terjadi sekitar pukul 11.00. Hujan deras sejak pagi mengguyur desanya hingga pukul 02.00 dini hari. Saat terlelap, Dimin mendengar suara gemuruh dari belakang rumahnya.

‘’Tidak tahunya genting rumah sudah berjatuhan,’’ ujarnya.

Kini, atap teras belakang rumahnya harus dipangkas hingga satu meter panjangnya. Sebab, materialnya sudah jatuh ke tanah.

Dirinya tak bisa tidur nyenyak lantaran takut bakal terjadi longsor susulan. Ditambah hujan deras terus mengguyur belakangan waktu ini.

‘’Takut longsor lagi karena tanah di sini gembur,’’ paparnya.

Sebelum longsor terjadi, Dimin sudah mulai merasakan tanda-tandanya. Tanah di belakang rumahnya mulai terlihat retak. Namun, dia tidak berpikir jika retakan tanah itu kian melebar hingga terjadi longsor.

Semula, ia menganggap retakan itu hanya disebabkan akar pepohonan karena di bawah rumahnya terhampar pepohonan kakao dan cengkih. ‘’Ini baru pertama kalinya,’’ ungkapnya. (bel/fin/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia