Sabtu, 20 Jan 2018
radarmadiun
Kota Madiun

Limbah Pabrik Tahu Berbau Busuk Resahkan Warga

Senin, 30 Jan 2017 20:28

Limbah Pabrik Tahu Berbau Busuk Resahkan Warga

Penampungan limbah sementara pabrik tahu belum bisa dioperasikan. (WS Hendro/Radar Madiun)

MADIUN – Setiap angin bertiup ke utara, membuat Edy dan pekerjanya kelabakan. Bau tak sedap dari limbah pabrik tahu di Kelurahan Demangan, Kecamatan Taman, begitu menusuk hidung. 

Pun jarak pabrik tahu dengan gudang yang disewa Edy yang digunakan untuk menyimpan berbagai makanan ringan hanya selemparan batu.  

‘’Asap pembakaran yang ditimbulkan dari pengolahan pabrik tahu di sebelah gudang itu baunya menyengat,’’ ujar Edy saat ditemui Jawa Pos Radar Madiun.

Dia meminta kepada Pemkot Madiun agar bertindak tegas menangani masalah pencemaran tersebut. Sebab, sejak berdiri sekitar 10 tahun lalu, pabrik itu diduga mencemari air dan udara di sekitarnya. 

‘’Kalau bisa ada tindak lanjutnya dari pemilik pabrik tahu itu,’’ harapnya.

Dewi Setyaningrum, penyewa gudang lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Dia mendapat keluhan dari beberapa pekerjanya terkait bau menyengat dari limbah tahu tersebut. 

Pasalnya, gudang yang disewanya bersebelahan persis dengan bangunan pabrik tahu. Selain limbah, Dewi juga mengeluhkan debu yang berwarna hitam pekat. 

‘’Paling utama baunya, siang menjelang sore mulai tercium. Aktivitas kami akhirnya terganggu,’’ ujarnya.

Dia mengungkapkan, bau menyengat yang berasal dari pengolahan pabrik tahu itu sudah dirasakannya sejak lama. Namun karena dirinya hanya berstatus sebagai penyewa, Dewi kemudian mengeluh ke Hani Santoso selaku pemilik gudang. 

Hal ini lantaran dirinya merasa tidak memiliki wewenang untuk komplain langsung ke pengusaha tahu tersebut. 

‘’Baunya kayak bau busuk limbah, sampai masuk ke gudang,’’ ungkapnya.

Karena baunya sampai menusuk hidung, Dewi lantas mengambil sikap dengan meminta pekerjanya untuk memakai masker saat bekerja. 

‘’Area gudang yang ada ventilasi udaranya kami tutup dengan spanduk,’’ terangnya.

Berdasarkan pantauan koran ini, pabrik tahu milik Ronny Susanto itu berada di pinggir Kali Catur. Bahkan sepertinya ada bangunan yang berada di garis sepadan sungai. 

Menurut informasi yang diperoleh, pabrik itu sudah 10 tahun beroperasi. Lokasi pabrik hanya berjarak 100 meter dari pemukiman warga. 

Penelusuran Jawa Pos Radar Madiun terkait permasalahan limbah pabrik tahu itu sebenarnya sudah sampai ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Madiun. Pengusaha sudah diminta membangun tempat penampungan limbah sementara. 

Bahkan, tahun lalu bantuan untuk pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sudah datang dari Pemprov Jatim. Hanya, bangunan itu sampai saat ini belum bisa dioperasikan. 

Menanggapi keluhan warga, pemilik pabrik tahu Ronny Susanto mengaku siap diajak koordinasi. Bahkan, dirinya juga sanggup melakukan pembenahan ada kesalahan dalam pengelolaan limbah tahu dari pabrik miliknya. Dengan begitu, tidak ada salah satu pihak yang dirugikan. 

‘’Untuk kebaikan bersama saja, kami siap memperbaikinya,’’ katanya.

Dia mengklaim, ketinggian cerobong asap pembakaran pengolahan tahu miliknya sebenarnya sudah sesuai standar. Tingginya mencapai 2,5—3 meter. 

Namun, apabila warga menganggapnya kurang tinggi sehingga menyebabkan asapnya masuk ke rumah penduduk, dirinya mengaku siap melakukan perbaikan. 

‘’Kami siap membenahi seperti apa baiknya nanti,’’ ujarnya. (her/ota/jprm)    

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia