Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Kriminalitas

Pestisida Tanpa Izin Edar Sukses Tembus Pasar

Tangkap Peracik dan Penjual Pestisida Ilegal

Senin, 30 Jan 2017 17:40

Pestisida Tanpa Izin Edar Sukses Tembus Pasar

Polisi tunjukkan pestisida ilegal yang berhasil diamankan sebagai barang bukti (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

MADIUN – Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Cahyono Budi Santoso tergolong orang yang ulet dan kreatif. Buktinya, setelah pabrik pestisida tempatnya bekerja gulung tikar, dirinya berinisiatif untuk berwirausaha. 

Sayang sifat ulet dan kreatifnya bertentangan dengan hukum. Pengalaman bekerja di pabrik pestisida membuat dirinya mencoba meracik pestisida sendiri. Selama tiga bulan terakhir, pria 44 tahun memasarkan pestisida buatannya itu. 

Dalam menjalankan bisnis ilegalnya, warga Kelurahan Nglames, Kecamatan Nglames, Kabupaten Madiun itu dibantu Budi, 40, warga Desa Tingkir Tengah, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Alhasil, keduanya pun terpaksa berususan dengan aparat penegak hukum. 

‘’Belum memiliki izin edar dari Kementerian Perdagangan, tapi keduanya sudah berani mendistribusikan,’’ tegas Kasatreskrim Polres Madiun AKP Hanif Fatih Wicaksono.

Diakui Hanif, seolah memang tiada beda antara pestisida racikan kedua pelaku dengan produk asli pabrik. Apalagi, pelaku mendesain kemasan pestisida ilegal itu sedemikian apik sehingga tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan petani. 

Pelaku juga menjual pestisida padat merek Ground 15 G kemasan ukuran 1 kilogram. Sedangkan pestisida cair merek Amethil 150 SL dikemas dalam botol kecil. 

‘’Karena sudah pernah bekerja di pabrik pestisida, pelaku cukup mahir meracik,’’ tegasnya.

Keduanya memiliki peran yang berbeda. Budi bertugas membeli dan meracik bahan kimia, mulai diacenon hingga metilanol berikut desain produk kemasan. Sementara, Cahyono bertugas membungkus pestisida sesuai label yang telah disiapkan. 

‘’Bahan–bahan kimia itulah yang dioplos menjadi pestisida,’’ jelasnya.

Keuntungan pelaku dalam menjual pestisida tanpa izin edar ini terbilang fantastis. Dalam sebulan, omzet yang didapat mencapai Rp 10 – 20 juta. Sebab, harga satuan yang dibanderol sama seperti harga pestisida legal. 

Merek Griund 15 G dihargai Rp 23 ribu sedangkan Insektisida Amethil 150 SL dihargai Rp 45 ribu. Pestisida ilegal ini pun dipasarkan kepada kalangan petani di dalam dan luar Kabupaten Madiun. 

‘’Pelaku juga menitipkan produk racikannya itu di toko-toko desa,’’ jelasnya.

Kedua pelaku disangkakan Pasal 106 junto Pasal 24 ayat 1 dan/atau Pasal 109 junto Pasal 32 ayat 91 UU Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan. 

‘’Ancamannya empat tahun penjara,’’ terangnya.

Hanif menjelaskan, pengungkapan kasus peredaran pestisida ilegal ini bermula dari laporan masyarakat. Atas maraknya usaha ilegal di Kabupaten Madiun belakangan ini, Hanif meminta kerja sama dari masyarakat untuk turut serta melakukan pengawasan. 

‘’Jika ada usaha yang mencurigakan, laporkan saja. Karena usaha tanpa izin jelas merugikan banyak pihak,’’ pungkasnya. (mg6/fin/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia