Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Pendidikan

Buku Pelajaran SD Bermasalah Juga Beredar di Ngawi

Jumat, 07 Oct 2016 22:35

Buku Pelajaran SD Bermasalah Juga Beredar di Ngawi

Soal-soal dalam buku pelajaran SD kelas V yang jadi masalah (Asta Yanuar/Jawa Pos Radar Lawu)

JawaPosRadarMadiun.com - Buku pelajaran yang diduga mengandung materi pembelajaran vulgar juga ditemukan di Kabupaten Ngawi.  Ironisnya, buku yang sempat jadi polemik itu digunakan sebagai acuan pembelajaran di Ngawi. 

Heboh peredaran buku paket Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan yang berisikan materi sensual pada Rabu (5/10) di Kabupaten Pasamanan, Sumatera Barat membuat dunia pendidikan Kabupaten setempat kembali memelototi sejumlah buku pelajaran. 

Penelusuran Jawa Pos Radar Lawu, buku paket tersebut digunakan di SDN 1 Jambangan dan SDN 4 Jambangan Kecamatan Paron. Buku setebal 144 halaman itu diperuntukkan untuk pelajar SD dan MI kelas V. 

Buku karangan Dadan Heryana dan Giri Verianti dan diterbitkan oleh Acarya Media Utama, sebelum dialihkan hak ciptanya kepada Kementerian Pendidikan Nasional. Buku tersebut diterbitkan kembali oleh Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional pada 2010.  

Materi sensual dalam buku itu terletak pada bab V. Ada empat rangkuman dan sedikitnya delapan pertanyaan dalam bab tersebut. Pun demikian yang ditemukan dalam latihan soal. 

‘’Tidak seharusnya ini dipelajari anak kelas V SD,’’ ujar Bambang Sugeng, guru olahraga SDN 4 Jambangan, Kamis (6/10).

Menurut Sugeng, materi dalam buku tersebut seharusnya dipelajari untuk pelajar kelas IX SMP. Jenjang pendidikan dasar belum layak menerima materi pembelajaran yang menurutnya terlalu vulgar. 

Namun demikian, dirinya juga baru menyadari jika buku paket olahraga itu berisikan materi pembelajaran yang tidak layak. Lantaran dirinya jarang menggunakan buku dalam pembelajaran ke siswa-siswanya. 

‘’Yang selama ini saya berikan adalah materi pengayaan dasar olahraga dan senam. Seperti push-up dan sit-up. Lalu dilanjutkan dengan praktik,’’ ujarnya sambil menyebut jika materi tambahan yang diberikan tentang kesehatan jasmani.

Sementara itu, kepala SDN 4 Jambangan Sulis Mulyani mengaku tidak tahu sejak kapan buku itu mulai digunakan sebagai acuan pembelajaran sekolahnya. Dia berdalih, jika baru saja menjabat sebagai kepala di sekolah itu. 

‘’Coba kami kroscek dulu kapan masuknya buku ini,’’ ujarnya.

Terlepas dugaan buku itu memuat konten vulgar, Sulis mempunyai penilaian sendiri. Yakni semua itu tergantung dengan cara penyampaian pembelajaran dari masing-masing guru. 

Dalam buku yang memiliki kover warna hijau itu, ada poin yang disetujuinya sebagai pengetahuan dini kepada siswa. Seperti menstruasi, pinggul dan dada membesar. Sebab, anak kelas V SD saat ini juga sudah ada yang mengalami menstruasi. 

‘’Tapi saya tidak setuju dengan poin yang menyebutkan pra-nikah. Kalau saya jadi guru olahraga saya akan melewatinya,’’ terangnya.

Sedangkan Karyawati, guru olahraga SDN 1 Jambangan mengatakan, dirinya sudah menyadari jika buku itu tidak layak diberikan kepada pelajar kelas V SD. Sebab materinya terlalu vulgar. 

Selama ini dirinya hanya memberikan materi dasar yang ada di bab awal. Selebihnya akan diisi dengan praktik di lapangan. Lalu kenapa tidak lapor ke UPTD setempat atau ke Dinas Pendidikan Ngawi? 

‘’Buku itu diberikan langsung oleh kementerian pusat. Masa saya harus komplain ke pemerintah,’’ katanya. (mg3/ota/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia