Sabtu, 20 Jan 2018
radarmadiun
Pacitan

Jembatan Putus, Warga Terpaksa Seberangi Sungai

Jumat, 30 Sep 2016 21:00

Jembatan Putus, Warga Terpaksa Seberangi Sungai

Warga Desa Kedungbendo dan Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari nekat menyeberang Sungai Tengi (Hengky Ristanto/Radar Pacitan)

JawaPosRadarMadiun.com - Pasca jembatan penghubung terputus, warga dua desa terpaksa berjibaku menerjang arus sungai. Kondisi ini jelas menyulitkan transportasi warga sehari - hari. 

Warga Dusun Kedunggrombyang, Desa Kedungbendo dan Dusun Patuk, Desa Gegeran, Kecamatan Arjosari harus rela berbasah - basahan melewati Sungai Tengi untuk keluar masuk kampung. 

Hal tersebut terpaksa ditempuh sejak jembatan gantung yang menghubungkan dua desa tersebut putus bulan Agustus lalu. Warga mesti menyeberangi sungai sepanjang 60 meter tersebut. 

Putusnya jembatan gantung mengganggu mobilitas dan aktivitas warga ke sekolah, bekerja maupun belanja kebutuhan sehari-hari. 

Bahkan anak-anak dari Dusun Kedunggrombyang yang bersekolah di SDN Borang 2 maupun ke SMPN 3 Arjosari harus diantar orang tuanya dengan cara digendong saat menyeberangi sungai menuju ke sekolah. 

Begitu juga, anak-anak dari Dusun Patuk, Desa Gegeran yang hendak bersekolah di SMK Pembangunan, Arjosari nekat menyeberang dengan mengendarai sepeda motor.

Sejak jembatan gantung itu putus, para siswa beserta warga lainnya seolah tak ada pilihan lain selain menyeberangi sungai yang terkadang merendam sebagian celana mereka hingga basah kuyup. 

Mereka juga harus rela menyebrang sungai dengan batuan tajam dan licin yang terkadang bisa membuat jatuh, atau membuat kaki terluka saat melewati sungai.

Salah seorang warga Dusun Kedunggrombyang, Miswan mengatakan, sebenarnya ada jalur lain yang bisa dilalui oleh penduduk dari dua desa tersebut. Yaitu, melintasi Jembatan Borang di Desa Gondang, Kecamatan Arjosari. 

‘’Hanya saja, jarak yang ditempuh menjadi sangat jauh. Yaitu, sekitar enam kilometer,’’ ujarnya, Kamis (29/9).

Karena itu, saat air Sungai Tengi surut, warga pasti memilih menyeberangi sungai tersebut daripada harus memutar melalui Jembatan Borang. 

Sebelum putus, jembatan gantung juga kerap digunakan oleh warga dari Dusun Brangkal dan Weru, Desa Borang, Kecamatan Arjosari. Terkadang, warga dari Dusun Mloko, Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan juga lewat sini. 

‘’Setiap hari ada ratusan warga yang menyeberang sungai ketika kondisi airnya dangkal. Biasanya, ramai ketika pagi dan sore. Bahkan, malam juga ada saja warga yang menyeberang meskipun gelap,’’ ungkapnya.

Miswan mengungkapkan, warga sudah mengajukan proposal permohonan perbaikan dan pembangunan kembali jembatan gantung di dusunnya sampai dua kali ke Dinas Bina Marga dan Pengairan, namun hingga kini tak kunjung mendapatkan balasan.

‘’Karena itu, warga berencana membuat jembatan darurat yang dibangun menggunakan iuran dari masyarakat,’’ terangnya.

Salah seorang siswa yakni Ika Wahyuni yang masih duduk dibangku kelas X SMK Pembangunan, Arjosari mengaku sempat takut saat pertama kali menyeberang sungai. Namun setelah sering menyeberang hal itu menjadi biasa bagi remaja asal Dusun Patuk, Desa Gegeran ini. 

‘’Kalau perasaan takut masih ada, terutama kalau arusnya lagi deras,’’ tuturnya.

Dia menuturnya, tak jarang ada beberapa temannya kerap kali terpeleset saat melewati sungai karena bebatuan yang licin. Sehingga tas yang dipenuhi buku pelajaran sekolah akhirnya basah. 

‘’Pernah ada teman saya yang sampai hanyut tas sama sepatunya. Makanya kalau mau nyeberang harus hati-hati,’’ ujarnya. (her/yup/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia