Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Ponorogo

Bencana Ponorogo Telan Dua Nyawa

Kamis, 29 Sep 2016 23:10

Bencana Ponorogo Telan Dua Nyawa

Warga dan petugas berusaha mencari jasad Sumarni yang tertimbun material longsor (Rendra Bagus/Radar Ponorogo)

JawaPosRadarMadiun.com - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Ponorogo membawa korban jiwa. Dua nyawa melayang akibat bencana hari Rabu (28/9) buntut dari hujan deras yang terjadi sejak Selasa (27/9) malam. 

Lebatnya guyuran hujan tersebut mengakibatkan longsor dan menerjang rumah Sumarni, 45, warga Baosan Lor, Ngrayun. Nyawa Sumarni yang tengah terlelap saat longsor terjadi pukul 01.00 melayang. 

Satu nyawa lagi melayang yakni Muhammad Fajar Arosaad, 9, warga Munggung, Pulung. Selasa sore, Fajar bersama lima temannya mandi di sungai Krekel desa setempat. Saat asyik mandi, aliran sungai mendadak meluap. 

Teman-teman Fajar berhasil menyelamatkan diri. Tapi, tubuh Fajar hanyut dibawa derasnya arus. Korban baru ditemukan sekitar pukul 18.00, satu kilometer dari tempat dia mandi. 

Informasi yang dihimpun, hujan deras mengakibatkan sedikitnya sembilan titik longsor. Selain itu, banjir menggenangi puluhan rumah dan ratusan hektare lahan pertanian. BPBD Ponorogo belum memastikan kerugian material atas berbagai bencana tersebut.

Kepala Desa Baosan Lor, Jarot Trihandono menuturkan, tebing di kiri rumah Sunarmi setinggi tujuh meter longsor akibat hujan deras yang mengguyur sejak Selasa malam. Kala itu, Sunarmi tengah tidur di kamarnya. Sementara, suaminya, Panut, 50, berada di ruang tengah. 

Sekitar pukul 01.00, hujan turun semakin deras. Panut khawatir dengan kondisi tebing di sebelah rumahnya. Dia berusaha menghampiri istrinya yang tidur di dalam kamar. 

‘’Kebetulan, letak kamar tidur yang ditempati Sunarmi persis di bawah tebing. Hanya berjarak satu meter dari dinding kamar,’’ ujar Jarot.

Tragis, saat langkah kaki Panut sampai di depan kamar Sunarmi, tiba-tiba suara gemuruh terdengar hebat. Dinding kamar jebol ditimpa longsoran tebing, persis di depan mata Panut. Sunarmi yang terlelap berbalut selimut tertimbun tanah di atas tempat tidurnya. 

Panut sontak berteriak meminta pertolongan. Dia hendak mengeluarkan sang istri dari timbunan longsor namun tidak bisa ditemukan. Sebab, timbunan material mencapai dua meter. 

‘’Suaranya sangat kencang, warga langsung berhamburan datang dan berusaha menolong,’’ terangnya.

Berkat bantuan sejumlah warga, Sunarmi berhasil diangkat dari timbunan longsor. Panut dan warga sempat berusaha memberi pertolongan. Tapi, nyawa Sunarmi tidak tertolong. Pagi harinya, Sunarmi langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat. 

Menurut Jarot, sedikitnya ada 250 rumah dari total sebanyak 2.000 KK di desanya yang rawan terdampak longsor. 

‘’Itu karena kondisi desa memang berbukit. Permukiman warga banyak yang di lereng,’’ tuturnya.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo, Heri Sulistyono menjelaskan, dua titik longsor ada di Kecamatan Ngebel, sementara tujuh lainnya terjadi di Ngrayun. 

Selain longsor, banjir melanda kecamatan Bungkal, Balong, Kauman, Sukorejo serta beberapa titik di Ponorogo kota. Heri menyebut, pihaknya sudah meninjau seluruh lokasi bencana dan menyalurkan bantuan berupa sembako kepada para korban. 

‘’Untuk kerugian material belum bisa dipastikan. Lahan pertanian yang terimbas banjir saja mencapai ratusan hektare, itu saja sudah lebih dari ratusan juta rupiah,’’ tuturnya. (mg4/irw/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia