Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
kesehatan

Dua Warga Pacitan Suspect Antraks

Kulit Bernanah, Sempat Dirawat di Ruang Isolasi

Jumat, 19 Aug 2016 21:33

Dua Warga Pacitan Suspect Antraks

Ilustrasi (Grafis/Radar Pacitan)

PACITAN – Penyebaran bakteri antraks tampaknya perlu diwaspadai. Ini setelah dua warga asal Kecamatan Pringkuku dan Donoharjo masuk rumah sakit dengan gejala dan keluhan mirip penyakit antraks. 

Salah satunya timbul luka bernanah di kulit tangan. Kedua orang tersebut dirawat sejak lima hari lalu dan sempat dirawat di ruang isolasi RSUD dr Darsono Pacitan. 

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Pamuji membenarkan adanya informasi warga yang menderita penyakit dengan gejala mirip antraks. 

Dugaan adanya dua warga yang terindikasi suspect antraks itu karena mereka mengonsumsi daging hewan ternak yang dalam kondisi sakit. 

‘’Seharusnya hewan ternak yang mati karena penyakit harus dikubur bukan dikonsumsi,’’ ungkapnya, Kamis  (18/8).

Untuk memastikan adanya kemungkinan penularan antraks, Distanak mengambil sampel satu ekor sapi yang berasal dari tempat tinggal pasien terduga antraks itu. Sedangkan untuk pemeriksaan laboratorium dilakukan di Wates, Jogjakarta. 

‘’Kapan hasilnya bisa diketahui kami sendiri belum bisa memastikan. Tergantung bagaimana prosesnya di sana. Karena di laboratorium veteriner yang ada di Wates itu menangani pemeriksaan hewan ternak dari berbagai daerah di Jawa,’’ jelasnya.

Saat dikonfirmasi, pihak rumah sakit tidak menampik menerima dua pasien tersebut.  Warga tersebut berisinial S berusia 60 tahun dan T berusia 40 tahun. Keduanya kini masih dirawat di ruang tulip setelah keluar dari ruang isolasi. 

‘’Dugaan awal ketika pasien ini masuk mengalami penyakit infeksi karena disertai keluarnya nanah di bagian tangan,’’ ujar dr Iman Darmawan Direktur RSUD dr Darsono.

Iman mengatakan, rumah sakit sudah melakukan uji klinis dan pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyakit yang diderita dua pasien tersebut. 

Uji laboratorium dilakukan dengan mengambil sampel kultur berupa cairan nanah dalam luka dan sampel darah kedua pasien. Pada sampel kultur hasilnya dinyatakan negatif. Sebab tidak ditemukan bakteri batang gram positif. 

‘’Berdasar sampel itu tidak terbukti ada kuman antraks yang menginfeksi pasien tersebut,’’ katanya.

Menurut dia, saat ini kedua pasien tersebut berangsur membaik. Mereka ditangani dokter spesialis penyakit dalam dan bedah serta diberikan obat-obatan  yang tersedia di RSUD dr Darsono. 

Sayangnya, Iman belum bisa menjelaskan secara rinci dan pasti penyakit apa yang diidap kedua pasien terduga antraks tersebut. Pasalnya, untuk memastikan jenis penyakit tersebut perlu dilakukan uji laboratorium lain. 

‘’Nanti dikonfirmasi dengan hasil lab yang lain,’’ kilahnya. 

Diungkapkan bahwa antraks adalah penyakit yang serius dan bisa mengancam nyawa penderita. Penyakit tersebut  disebabkan infeksi bacillus anthracis. Bakteri ini bisa menghasilkan spora yang bisa menyebarkan infeksi. 

‘’Kebanyakan kasus antraks terjadi pada hewan ternak, misalnya sapi dan kambing,’’ jelasnya.

Dalam praktiknya, infeksi antraks ini dibedakan menjadi tiga tipe. Yakni lewat kulit ketika spora masuk melalui luka, lewat pernapasan akibat menghirup spora antraks, atau melalui pencernaan karena mengonsumsi daging yang terkontaminasi. 

Gejala penderita yang terinfeksi antraks berupa kulit terasa gatal dan tumbuh benjol di bagian tubuh tertentu serta melepuh di bagian kulit. 

‘’Tapi penyakit antraks tidak menyebar antar orang,’’ terangnya. (her/yup/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia