Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Ekbis

Kualitas Industri Rumahan Tidak Murahan

Kamis, 11 Aug 2016 15:57

Kualitas Industri Rumahan Tidak Murahan

Industri sandal spon di Sidorejo (Bagas Bimantara/Radar Madiun)

KEBONSARI – Kabupaten Madiun tak hanya memiliki produk unggulan berupa olahan makanan dan batik saja. Masih ada produk unggulan lain yang memiliki potensi. 

Salah satunya sandal spon produksi Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun. Industri rumahan itu terbilang prospektif, lantaran wilayah pemasarannya menjangkau hingga luar pulau jawa. 

Meski tergolong usaha rumahan, kualitas industri sandal spon asli Desa Sidorejo ini tidak murahan. Tidak mengherankan bila produknya tersebar hingga Bali, Kalimantan, Sumatera dan lainnya. 

‘’Sejak dirintis 2010 silam, usaha pembuatan sandal di desa kami ini semakin berkembang,’’ ungkapKepala Desa Sidorejo Ana Setyawati,  Rabu (10/8).

Sekitar enam tahun lalu, usaha sandal spon ini dirintis Galih Yoga Adminta, salah satu warganya. Berawal dari kulakan sandal spon, Galih mencoba membuat sandal sendiri di rumahnya. 

Tak butuh waktu lama, dalam sehari saja, mampu memproduksi hingga tiga kodi (60 pasang) sandal. Dari sanalah, usaha yang digeluti Galih ini semakin berkembang pesat. 

‘’Kini Galih dibantu dua tenaga kerja dan produksinya kian meningkat hingga sembilan kodi (180 pasang) sandal per hari,’’ tegasnya.

Model sandal yang diproduksi Galih mengalami perkembangan tiap tahunnya. Baik sandal spon untuk laki-laki dan maupun perempuan. 

Kendati diproduksi secara manual, namun kualitas sandal spon made in Desa Sidorejo tak kalah dengan sandal produksi pabrikan. Harganya juga bervariasi mulai sekitar Rp 7.000 hingga Rp 15.000. 

‘’Kalau sudah sampai tengkulak atau toko, harganya pasti sudah berbeda,’’ paparnya.

Selain ke pasaran umum, sejumlah instansi pemerintahan pernah memesan sandal buatan Galih. Pondok Modern Gontor juga tercatat order sandal spon asli desa berpenduduk sekitar 4.200 jiwa ini. 

Tak urung, tidak semua pesanan itu mampu dipenuhi Galih. Permasalahan modal, peralatan dan tenaga terampil jadi kendala utamanya. 

‘’Banyaknya pesanan itu kerap tidak tercover secara maksimal. Sebab, modalnya terbatas, alat produksinya juga masih manual dan tenaga terampilnya juga masih minim," jelasnya.  

Selain itu, tempat produksinya dirasa kurang representatif karena masih menempati ruang kosong di rumah Galih. 

Tidak hanya itu, usaha mengembangkan usaha rumahan asli Desa Sidorejo itu juga terkendala permasalahan ijin usaha dan status badan hukum. 

Angin segar sedikit dirasa tatkala Pemdes setempat berencana memberikan pendampingan dan pengembangan produksi yang masuk dalam usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tersebut. 

‘’Ke depan, kami segera membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar dapat menaungi usaha-usaha yang ada di desa,’’ papar Ana.

Melalui BUMDes itulah nantinya produksi sandal spon dan usaha kreatif lainnya dapat tercover dengan baik. 

Pun, dari pemdes tetap menanti dukungan dari pemkab agar turut serta memberikan bantuan dan pendampingan agar usaha yang ada di desa ini semakin berkembang pesat. 

‘’Produksi sandal spon ini bisa dipatenkan menjadi produk asli daerah. Kami dari pemdes siap memfasilitasi agar usaha-usaha ini bisa terus berkembang,’’ pungkasnya. (tif/fin/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia