Rabu, 17 Jan 2018
radarmadiun
Life Style

Sudah Jadi Bagian Gaya Hidup

Bersepeda Makin Digandrungi Warga

Minggu, 24 Jul 2016 14:00

Sudah Jadi Bagian Gaya Hidup

Beberapa anggota BSC berpose bersama sebelum gowes bareng. (Bani Nur Usman/Radar Madiun)

MADIUN – Bersepeda kini tidak sekadar jadi sarana penyaluran hobi berolahraga. Melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Tidak mengherankan jika sejumlah penggemar sepeda rela merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah demi memuaskan hasratnya gowes.

‘’Kalau dibelikan motor dapat dua,’’ ujar Handoko, salah seorang goweser sembari melirik sepeda gunung merk ternama miliknya, Sabtu (23/7).

Harga perlengkapan bersepeda pun tidak murah. Helm jenis standar, misalnya, konsumen harus merogoh kocek minimal Rp 150 ribu.  Bahkan, untuk merk ternama bisa menyentuh hampir Rp 1 juta.

‘’Tapi, kalau sudah hobi berapa pun dibeli,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Madiun.

Seiring kian populernya olahraga bersepeda, komunitas penggemar gowes pun bermunculan. Mulai yang menjaring anggota tingkat eks karesidenan hingga yang membernya sebatas warga satu kompleks perumahan.

Sebut saja Bunderan Serayu Cycling (BSC), seluruh anggotanya merupakan warga Perumahan Widodo Kencono I Kota Madiun.

‘’Awalnya anggota cuma sepuluh. Sekarang 25 orang yang aktif. Kalau dihitung yang keluar masuk bisa lebih,’’ ungkap Purwanto, humas BSC.

Sementara itu, penggemar olahraga bersepeda bakal dimanjakan dengan event bertajuk Gowes Malam yang merupakan rangkaian acara peringatan HUT ke-17 Jawa Pos Radar Madiun dan Hari Jadi Pemkot Madiun.

Pun sejumlah komunitas pesepeda lokal seolah sudah tak sabar mengikuti ajang itu.

Pagoejoeban Sepeda Tempo Doeloe Toedhoeng Madioen (PSTDTM), misalnya, bakal mengerahkan puluhan anggotanya untuk mengikuti event yang dibentang 5 Agustus mendatang ini.

‘’Kami siap berpartisipasi,’’ kata Ketua PSTDTM Soetanto kepada Jawa Pos Radar Madiun, Sabtu (23/7).

Bagi PSTDTM, gowes malam sudah tidak asing lagi. Sejak sembilan tahun silam komunitas itu rutin bersepeda keliling kota setiap Jumat malam.

‘’Kami memiliki visi yang sama, kampaye sepeda,’’ terang warga Kelurahan Kejuron, Taman, itu.

Tanto –sapaan akrab Soetanto- mengaku nyaris tidak pernah absen bersepeda Jumat malam, kendati cuaca kurang bersahabat. Bahkan, saat hujan nekat gowes. Meski begitu, kakek delapan cucu ini tidak pernah masuk angin maupun terserang flu.

‘’Apalagi jalanan Kota Madiun cukup mulus, jadi tidak pernah mengalami ban bocor,’’ ujar pria 80 tahun itu.

PSTDTM merupakan komunitas spesialis pecinta sepeda kuno. Anggotanya kini sekitar 80 orang. Pun sedikitnya 11 kota besar sudah mereka sambangi. Di antaranya, Surabaya, Malang, Jember, Solo, Semarang, Jogjakarta, Bandung, dan Jakarta.

‘’Kami memang mempertahankan keunikan dan kekhasan sepeda maupun penampilan. Apalagi Kota Madiun dulu identik dengan kotanya Belanda,’’ tuturnya.

Project officer Gowes Malam Eko Suprayitno mengatakan, event ini sengaja digelar sebagai bagian dari kampanye mengurangi emisi karbon akibat pemanasan global hingga berdampak pada anomali cuaca.

‘’Sekaligus menikmati keindahan Kota Madiun di malam hari,’’ ujarnya.

Gowes Malam rencananya mengambil start dan finis di Jalan Abdulrahman Saleh. Acara dikemas fun sekaligus unik.

‘’Panitia menyiapkan hadiah utama satu unit sepeda motor dan puluhan doorprize menarik,’’ tegasnya. (pra/isd/jprm)

 TOP
 
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia