Minggu, 25 Feb 2018
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Ini Penyebab Eksportir Mebel Naik, Ekspor Turun

Kamis, 18 Jan 2018 10:41 | editor : Ali Mustofa

MENURUN: Salah satu pekerja sedang melakukan tahap pewarnaan kursi di salah satu sentra mebel di Jepara.

MENURUN: Salah satu pekerja sedang melakukan tahap pewarnaan kursi di salah satu sentra mebel di Jepara. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

KOTA - Nilai ekspor mebel furniture Kabupaten Jepara selama 2017 menurun sebesar 4,13 persen. Ekspor produk furniture sampai akhir tahun kemarin senilai USD 166,8 juta. Sedangkan tahun sebelumnya nilai ekspor mencapai USD 174,1 juta.

Turunnya nilai ekspor tersebut juga diikuti dengan turunnya jumlah negara tujuan ekspor. Semula pada 2016 negara tujuan ekspor mencapai 113 negara. Pada 2017 turun menjadi 111 negara. Namun hal ini berbanding terbalik dengan jumlah eksportir dari Jepara. Nilai dan negara tujuan ekspor mengalami penurunan, tetapi jumlah eksportir justru meningkat.

“Terdapat 307 eksportir mebel pada 2016. Mengalami kenaikan jumlah eksportir sekitar 29,6 persen. Dilihat dari jumlah eksportirnya terdapat 398 perusahaan,” kata Kasi Perdagangan Luar Negeri Edi Widodo. 

Menurutnya, salah satu penyebab turunnya nilai ekspor karena sebagian pengusaha lebih memperkuat pasar domestik. Hal ini seiring melemahnya daya beli negara importir. Beberapa negara Eropa mengalami penurunan nilai eskpor. Hanya Amerika Serikat yang mengalami peningkatan nilai ekspor dari Jepara. “Para pengusaha bergantung dengan kondisi ekonomi negara importir. Amerika cukup stabil bahkan cenderung naik. Namun negara-negara Eropa dan Asia Timur cenderung menururn,” tuturnya.

Edi melanjutkan, nilai ekspor Amerika naik USD 2 juta. Pada 2016 nilai ekspornya sebesar USD 32,7 juta. Meningkat pada 2017 sebesar USD 34,7 juta. Namun penurunan terjadi di negara tujuan ekspor yaitu Inggris. Semula USD 16 juta turun menjadi USD 12,7 juta. Begitu juga dengan Belanda. Turun dari USD 14,1 juta menjadi USD 11,6 juta. Sedangkan Korea Selatan menurun dari USD 12,8 juta menjadi USD 12,7 juta. “Belgia juga mengalami terjun bebas dari USD 14,2 juta menjadi USD 11,1 juta,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku berupaya meningkatkan promosi melalui ajang pameran mebel furniture internasional. Namun selama setahun terakhir daya beli importir di setiap pameran cenderung menurun. Untuk agenda tahun ini akan ada rangkaian pameran pada Maret mendatang. Pameran mulai diselenggarakan dari Vietnam, Malaysia, Filipina, Singapura, Indonesia, Thailand, dan berakhir di Tiongkok.

Sementara itu, Ketua Himpunan Indistri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Kabupaten Jepara Masykur Zainuri mengungkapkan, naiknya jumlah eksportir Jepara tidak dibarengi dengan peningkatan nilai ekspor menjadi sebuah masalah. Menurutnya, nilai ekspor Jepara bisa naik apabila ada pengawasan dari pemerintah terhadap pelaku usaha di Jepara. “Sekarang sedang marak sewa lisensi eksportir. Tempat usahanya di Jepara tapi perusahaanya di luar Kota Ukir. Karena mereka pada main nakal dengan sewa lisensi di luar Jepara. Ini untuk menghindari pajak dan beberapa aturan lainnya. Harus ada kontrol dari pemerintah dan tindakan tegas ,” ujarnya.

(ks/zen/war/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia