Sabtu, 24 Feb 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Belajar dari Kesahajaan Soesilo Toer

Senin, 08 Jan 2018 17:34 | editor : Panji Atmoko

Baehaqi

Baehaqi (dok.)

Cuitan: Baehaqi

Kenikmatan bagi saya itu hedonis. Kalau kita bisa menikmati hidup kita sendiri, kita pasti bisa memberi kenikmatan kepada orang lain (Soesilo Toer).

MINGGU kemarin saya ke Blora. Dua kali berturut-turut. Jumat dan Sabtu. Jumat berkunjung ke rumah Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan Sabtu menghadiri resepsi pernikahan putra Bupati Blora Djoko Nugroho.

Putra pertama Bupati Blora, Judhan Satria Nugroho, mempersunting gadis Madiun Valian Syafrida. Akad nikah sudah dilaksanakan 29 Desember 2017 di Madiun. Sedangkan Sabtu malam ngunduh mantu di pendapa kabupaten setempat. Saya ikut mangayubagyo bersama ribuan undangan lain dan menikmati hidangan di pesta kebun.

Sehari sebelum pernikahan itu saya juga ke Kota Sate. Selain ke Jepon, yang sate kambingnya sangat terkenal, saya ingin bertemu Wakil Bupati Arif Rachman. Beliau pernah ke rumah saya. Tahlil tujuh hari meninggalnya ibu November lalu. Ternyata, Jumat itu mendadak dia harus ke Jakarta. Saya sudah sampai Blora.

Sesuai rencana lain, saya meluncur ke rumah Pramoedya Ananta Toer di Jalan Sumbawa, Kauman, Blora. Pram – nama panggilannya – adalah penulis novel yang dituduh beraliran kiri. Dia dijebloskan ke penjara bertahun-tahun tanpa pengadilan. Sejak zaman Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Dia pernah dikirim ke Nusakambangan dan Pulau Buru.

Di Pulau Buru itu novelnya Tetralogi dibikin. Itulah novel yang menghebohkan dan menjadi legendaris. Di buku itu Pram tidak mau menyebut Indonesia. Karena dianggap barang impor. Produk penjajah. Karena kekirian itu dia dikucilkan. Seluruh keluarganya terkena imbas.

Sampai kini sudah 55 buku Pram yang diterbitkan. Sebagian besar best seller. Saya sempat ditawari salah satu karyanya oleh Soesilo Toer, adik kandung Pram. Judulnya Arus Balik. Harganya Rp 14 juta. Itu cetakan pertama.

Saya ke rumah Pram antara lain untuk melihat karya-karyanya. Rumahnya sudah menjadi perpustakaan. Tapi, malah tak ada satupun buku Pram. Yang ada adalah buku-buku karya adik-adik Pram yang diterbitkan oleh Pataba dan buku-buku lain.

Saya tak kecewa. Malah sebaliknya. Bangga. Karena, bertemu Soesilo Toer, adiknya,  yang juga luar biasa. Di rumah itu Soesilo hanya tinggal bersama istrinya.

Soesilo adalah ekonom. Meraih gelar master dan doktor ekonomi politik dari perguruan tinggi di Uni Soviet (sekarang Rusia). Namun, tragis. Sepulang dari negeri Mikhail Gorbachev (Pemimpin Uni Soviet terakhir) itu, dia diseret ke penjara.

Dari Soesilo saya mendapat banyak pelajaran. Betapa orang pintar, berpendidikan tinggi, dan menghasilkan banyak karya itu hidup bersahaja. Sangat sederhana. Malah dia menjadi pemulung. Dia pun bangga atas apa yang dilakukannya.

Air mata saya nyaris menetes ketika dia bercerita kadang-kadang semalam bisa empat kali pulang-pergi memungut sampah. Dari habis maghrib sampai menjelang subuh. Padahal, usianya tak lagi muda. Hampir 81 tahun. Lebih tua 24 tahun dibanding saya yang sebenarnya sudah memasuki masa pensiun. Suatu saat berjalan kaki, membawa gerobak, atau menggunakan motor.  Tidak ada kata malu.

Saya terbayang anak-anak muda yang ketika malam menghabiskan waktunya di warung, pinggir jalan, dan tempat-tempat nongkrong lainnya. Anak saya juga sering seperti itu. Sementara Soesilo yang sudah renta tetap bekerja. Memunguti sampah yang antara lain ditinggalkan anak-anak muda tersebut.

Saya malu ketika tahu bos yang juga guru saya Dahlan Iskan sudah pernah bersilaturahmi ke kediamannya. Maka, saya, penulis yang belum menjadi apa-apa, juga ingin menemuinya. Saya ingin mendapat pelajaran keseluruhan kehidupannya yang berliku-liku. Termasuk pelajaran menjadi penulis.

Soesilo dan istrinya ramah. Dia berbicara blak-blakan. Baik mengenai kehidupan pribadinya sekarang, masa lalu, penguasa-penguasa negeri ini, sampai prinsip-prinsip hidup, dan ideologinya (salah satu dikutip di awal tulisan ini). Sepanjang ngobrol sekitar 3,5 jam selalu diwarnai gelak tawa. Termasuk, ketika tahu saya bawakan sate kerbau kesukaannya.

Siang itu hujan deras. Seluruh halaman yang dipenuhi semak tergenang air. Di dalam rumah utama air menetes di mana-mana. Bocor. Plafonnya telah habis. Runtuh karena kebocoran . Padahal, rumah itu dipenuhi buku-buku yang diterbitkan Pataba maupun penerbit lain. Pataba adalah penerbit buku milik Soesilo. Singkatannya Pramoedya Ananta Toer Anak Blora Asli. Saya membeli satu bukunya Dunia Samin karya Soesilo seharga Rp 70.000.

Saya teringat wajah Arif Rachman yang cool. Dia pernah bercerita kepada saya. Rumah Soesilo yang sudah menjadi perpustakaan itu akan dibangun. Termasuk kamar Pramoedya yang sering digunakan untuk menginap tamu-tamu asing. ‘’Jadi nanti menjadi homestay juga. Itu menjadi daya tarik wisata,’’ kata Arif menunjukkan visinya. Saya acung jempol. Soesilo membenarkannya. Dia menunggu uluran itu.

Kamar Pram itu ada di sisi kanan ruang perpustakaan yang digunakan Soesilo untuk menulis. Saya juga ditawari menginap di ruang itu. Biasanya orang-orang asing menginap di sana untuk mengenang Pram. Saya tertarik untuk tidur di rumah yang boleh dibilang secara keseluruhan telah rusak. Toh saya dibesarkan di rumah yang tidak lebih baik dari rumah itu.

Secara ekonomi, kata Soesilo, dirinya tidak miskin. Penghasilannya cukup untuk makan. Bahkan, lebih dari cukup. Tentu kalau diukur makan untuk diri dan istrinya. Bukan makan ala kita-kita. Tetapi kenapa harus memulung? ‘’Hidup kita harus bernilai. Memulung adalah membuat barang yang tidak bernilai menjadi bernilai,’’ tegasnya.

Dia menunjukkan sebuah cangkir kaca yang sudah retak. Cangkir itu didapat dari tempat sampah. Karena dianggap masih baik, dia mengoleksinya. Saya minta cangkir itu untuk saya bawa pulang. Dia tidak memperkenankan. Dia memastikan di tangan saya cangkir itu tak berguna.

Ketika saya betul-betul pamit pulang Soesilo sempat tidak mengizinkan. Padahal, saya sudah berlama-lama di rumahnya. Sejak setelah Jumatan sampai 16.30. Dia baru melepas setelah saya berjanji akan datang lagi ke rumahnya. Saya akan membawa lagi sate kerbau kesukaannya. Soesilo dan istri mengantar saya sampai jalan beraspal.

Kehidupan Soesilo akan ditulis wartawan Noor Syafaatul Udhma yang menemuinya bersama saya. Tunggu saja. ([email protected])

(ks/ris/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia