Minggu, 25 Feb 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
HUT Bupati Kudus di Saat yang Mendebarkan (3)

Musthofa akan Terima Keputusan Apapun

Sabtu, 06 Jan 2018 12:35 | editor : Panji Atmoko

Baehaqi

Baehaqi (dok.)

Cuitan: Baehaqi

Saya bisa membayangkan bagaimana galaunya Bupati Kudus Musthofa menjelang turunnya rekomendasi calon gubernur – wakil gubernur Jateng dari DPP PDIP. Inilah putusan pertandingan sebelum pertandingan itu resmi dimulai. Kalau Pak Mus gagal meraih rekomendasi, pasti tertutup jalan untuk maju sebagai calon. Berarti juga pupus harapan menduduki kursi Jateng-1.

Lebih galau lagi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Tinggal beberapa hari pengumuman malah dia dipanggil oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Itu bukan kali pertama. Meski masih menjadi saksi, tetap merepotkan. Mencuri perhatian juga. Image-nya tidak baik. Ganjar memilih tidak mendatangi panggilan Rabu lalu itu.

Musthofa dan Ganjar adalah dua kandidat terkuat gubernur Jateng yang maju lewat PDIP. Keduanya sudah berjuang habis-habisan. Ganjar sebagai petahana memiliki kelebihan. Tapi Musthofa tidak kalah potensi. Kinerjanya nyata. ‘’Terima kasih atas doanya khusnul khotimah,’’ kata Musthofa ketika saya mengucapkan selamat ulang tahun Rabu lalu. Saya menyelipkan doa itu semoga dia bisa mengakhiri jabatan bupati dengan baik.

Ketika saya bertemu Kang Mus – panggilan Musthofa – itu, dia kelihatan santai. Beberapa kali tertawa lepas. Sampai-sampai seorang ajudan ikut terbahak-bahak. Demikian juga saya dan Kepala Dinas Kominfo Kholid Seif. Saat itu sudah ada kabar rekomendasi calon gubernur – wakil gubernur Jateng akan diumumkan oleh DPP PDIP Kamis (4 Januari).

Siapapun yang maju lewat partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu memiliki kans besar untuk menang. Partai banteng masih menguasai medan Jawa Tengah. Ganjar bisa masuk ke pendapa juga naik banteng. Lawannya waktu itu tidak sembarangan. Petahana Bibit Waluyo yang diusung koalisi Partai Demokrat, Golkar, dan PAN.

Jawa Tengah termasuk kandang banteng yang mengantarkan PDIP menjadi pemenang Pemilu 2015. Kini PDIP memiliki 31 kursi dari total 100 kursi di DPRD Jateng. Sekarang juga ada 19 bupati/wali kota yang kemenangannya didukung PDIP. Itu separo lebih dari total 35 bupati dan wali kota.

Ketika Ganjar maju, perolehan suaranya juga menang telak. Sekitar 48 persen. Sedangkan Bibit hanya 30 persen. Sekarang Ganjar ingin mengulangi sukses itu. Namun, ada ganjalan besar. Namanya terus disebut-sebut dalam pusaran kasus e-KTP yang diduga melibatkan mantan Ketua DPR RI Setya Novanto.

Ganjar sudah diperiksa KPK sejak sebelum hiruk-pikuk pencalonan gubernur. Namanya sempat tenggelam. Sementara itu, Musthofa yang mengambil start awal terus memacu gas. Sempat orang mengira, Ganjar tidak akan maju lagi. Atau, PDIP pasti tidak akan menjatuhkan rekomendasi kepadanya.

Belakangan Ganjar mengambil manuver. Berkeliling daerah. Mengintensifkan komunikasi lewat media massa. Masyarakat pun menangkap Ganjarlah yang akan mendapat rekomendasi dari PDIP.

Ketika Ganjar mulai di atas angin, terjadi pergantian pusaran angin. Musthofa disebut-sebut mengambil akar kalau tidak mendapat rotan. Dia rela menjadi wakil gubernur. Kalau dia bersanding dengan Ganjar posisi pasangan itu semakin kuat.

Musthofa tidak pernah dengan jelas mengatakan perubahan manuver tersebut. ‘’Saya akan patuh pada partai,’’ katanya dalam beberapa kali kesempatan. Apapun penugasan yang diberikan kepadanya. Termasuk, kalau tidak mendapat rekomendasi sekalipun.

Pencalonan gubernur Jateng lewat PDIP paling menarik dibanding lewat partai lain. Seluruh kader PDIP yang memiliki potensi didorong untuk mendaftar. Termasuk, Bupati Jepara Achmad Marzuqi. Waktu itu, seperti tidak ada angin, Marzuqi tiba-tiba membawa rombongan ke Semarang untuk mendaftar lewat DPD PDIP Jateng.

Marzuqi adalah kader Partai Persatuan Pembangunan. Di Kota Ukir partai ini masih besar. Dia bisa menduduki kursi Jepara-1 kali pertama berkat partai itu. Kesuksesannya yang kedua juga berkat akar rumput partai berlambang Kakbah tersebut. Saat itu dia menggunakan kendaraan banteng bermoncong putih karena konflik di partainya.

Kamis lalu saya sengaja ke Jepara. Antara lain untuk mendengar kabar keberadaan Marzuqi. Ternyata dia juga ke Jakarta. Banyak orang menyebut untuk mendengarkan pengumuman calon-calon gubernur – wakil gubernur dari PDIP. Ada yang berspekulasi Marzuqi akan mendampingi Ganjar untuk merebut suara NU. Kalau ini yang terjadi Musthofa terpental.

Di luar PDIP, magnitude Pilgub Jateng juga menarik. Ada Sudirman Said yang memastikan diri akan merebut 27 juta suara DPT Jateng. Dia mantan menteri energi dan sumber daya mineral. Sudah mendapat kendaraan Gerindra, PKS, dan PAN.

Sudirman pernah membikin gonjang-ganjing negeri ini terkait perusahaan tambang emas Freeport. Dia melaporkan mantan Ketua DPR RI Setya Novanto sampai akhirnya diperiksa.  Sudirman juga berseteru dengan Rizal Ramli saat mereka masih sama-sama menjadi menteri. Bahkan, Sudirman saling sindir dengan Susilo Bambang Yudhoyono saat masih menjabat presiden. Akhirnya Sudirman terpental.

Sudirman diprediksi banyak pihak bakal menjadi batu sandungan siapapun calon PDIP. Orangnya visioner, berpendirian teguh, dan berani mempertahankan prinsip. Di Jateng yang karakter masyarakatnya lemah-lebut, bisa menjadi alternatif yang menarik. Sosialisasinya melalui media massa tak kalah gencar dengan Ganjar dan Musthofa.

Bos Gerindra Prabowo Subianto yakin rekam jejak karir profesional Sudirman bisa menjadi modal memengaruhi para pemilih di Jateng. Dia mantan menteri, mantan rektor, pernah memimpin PT Pindad (Persero), dan pernah memimpin rekonstruksi Aceh. Dia salah satu dari dua meteri yang dilengser SBY dan kemudian maju di pilgub. Yang satu, Anies Baswedan yang memenangkan Pilgub DKI.

Sudirman Said akan menjadi kuat manakala didukung oleh calon wakil gubernur yang mumpuni. Sejauh ini sudah ada sinyal Rustriningsih, wagub Jateng yang mendampingi Bibit Waluyo. Juga Gus Yusuf (Yusuf Chudlori), pengasuh Ponpes Tegalrejo Magelang. Dia ketua DPW PKB Jateng. Rustriningsih dan Gus Yusuf sama-sama bisa menyedot massa.

Dari PKB sebenarnya juga muncul nama Marwan Jafar, mantan anggota DPR RI dan mantan menteri. Dia pernah bersilaturahmi ke gedung Radar Kudus. Saat itu dia blak-blakan ingin merebut Jateng-1. Dia merasa sudah memiliki konsep untuk mengubah Jateng tidak ketinggalan dengan Jatim dan Jabar.

Waktu itu saya sempat menggoda Marwan. Untuk mencatat prestasi sebagai gubernur tidak sulit. ‘’Bangun saja jalan Semarang – Genuk yang bebas banjir pasti akan dipuji orang se-Indonesia,’’ saran saya pada saat itu. Marwan sepakat. Karena bertahun-tahun rob yang terjadi Semarang utara tak kunjung teratasi.

Belakangan suara Marwan meredup. Kemungkinan besar PKB akan berkoalisi dengan partai lain. Kalau begitu paling banter Marwan menjadi calon wagub.

Dari kalangan Golkar muncul nama Budi Waseso, mantan Kabareskrim Polri. Polisi yang satu ini juga punya pendirian kuat. Tetapi tidak akan cukup kuat untuk bersaing dengan calon PDIP. Maka kemungkinan Golkar juga akan berkoalisi. Budi Waseso pun berpeluang menjadi calon wagub.

Di Jateng peta perpolitikan masih dikendalikan oleh PDIP. Karena itu pengumuman calon oleh DPP PDIP sangat ditunggu-tunggu. Awalnya akan dilakukan Kamis lalu. Sampai kemarin ternyata masih belum jelas.

Pak Mus yang saya tanya Rabu lalu mengatakan tidak mendapat undangan. ‘’Bisa jadi mundur,’’ katanya. Sore hari saya mendapat kabar Pak Mus berangkat ke Jakarta. Meski demikian pengumuman betul-betul diundur 7 Januari. Saya pun semakin merasakan dada Pak Mus yang tanggal 2 Januari lalu berulang tahun ke-55 berdetak semakin kencang. Habis. ([email protected])

(ks/lil/aji/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia