Jumat, 24 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Features
PNS yang Koleksi Ribuan Keris

Tertua Diperkirakan Berusia Lima Abad

Rabu, 18 Oct 2017 07:09 | editor : Ali Mustofa

CINTA BUDAYA: Herlambang (kanan) mengikuti pertemuan sesama hobi keris beberapa waktu lalu.

CINTA BUDAYA: Herlambang (kanan) mengikuti pertemuan sesama hobi keris beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI)

Suka menyimpan keris dijalani Herlambang Bayuaji sejak 2007 lalu. Kini koleksi PNS di Setda Grobogan ini mencapai dua ribu keris. Salah satunya, keris Pethok Pudo. Keris ini diperkirakan berusia lima abad atau peninggalan kerajaan Medang Kamulan.

SIROJUL MUNIR,Grobogan

PENAMPILANNYA sederhana. Pembawaanya kalem. Namun, ketika ditanya masalah keris dia sangat antusias. Dia adalah Herlambang Bayuaji. Kasubbag Akuntabilitas Kinerja dan Reformasi Birokrasi, Bagian Organisasi, Setda Grobogan ini memang memiliki hobi koleksi keris.

Jumlah koleksinya lebih dari dua ribu keris. Jenisnya macam-macam. Mulai dari zaman kerajaan Medang Kamulan (Mataram Kuno), Majapahit, hingga sekarang. Keris itu juga tidak hanya dari Pulau Jawa. Namun, ada yang berasal dari Sumatera, Aceh, Sulawesi, Bali, NTB, dan lainnya.

Semua koleksi itu ditempatkan di ruang khusus. Perawatannya ada yang dikerjakan orang sendiri. ”Pusaka keris ini sudah diakui dunia dari UNESCO 2005 sebagai warisan nonbendawi tetapi filosofi leluhurnya dari umat manusia di dunia,” tandasnya.

Warga Jalan Pangeran Puger mengaku, mulai mengoleksi keris sejak 2007 lalu. Ketika itu, dia diberi keris oleh seseorang. Yaitu, keris Pandowo Karno Tinanding. Lantas dia penasaran. Herlambang pun tertarik mempelajari tentang ilmu keris secara otodidak. Dia membaca berbagai macam buku tentang keris.

Pembelian buku dimulai ensiklopedi keris sampai cara pembuatan dan sejarahnya. ”Saya suka koleksi keris karena sebagai benda warisan yang ada nilai dan maknanya,” kata Herlambang belum lama ini.

Dia menilai tidak sedikit keris di nusantara ini berornamen emas dan berlian. Selain itu, menyimpan pesan-pesan luhur. Seperti, ricikan-riicikan keris berupa gambar kembang, kucing, kejawen, lambe gajah, segokan, eluk, dan srawean. Setiap nama memiliki makna sendiri.

Menurutnya, pembuatan keris sendiri membutuhkan tirakatan dari sang empu. Sebab, saat pembuatan memunculkan percikan-percikan api sehingga besi yang ditempa bisa murni. Penempaan tersebut seperti proses hidup manusia. Jika terus ditempa dengan berbagai macam ujian akan bisa menjadi pribadi yang bersih.

”Pusaka keris juga mempunyai makna sindiran terhadap umat manusia. Pembuatan dibuat dari besi, baja, dan pamor. Jika ditempa akan menghasilkan karya yang indah,” ujarnya.

Jenis keris yang dimiliki di antaranya Jalak Ngroe, Jalak Semu Tumpeng, Jalak Tilamsari, Jangkung, Pendawa Cinarita, Pandawa Karna Tinanding, Sengeklat, Simpana Penir, Sempana Panjul, Sabuk Inten, dan lainnya. Koleksi paling tua keris Pethok Pudo. Keris ini diperkirakan berusia lima abad dan peninggalan kerajaan Medang Kamulan di Kecamatan Gabus. Keris itu pemberian dari warga Ngaringan. Dia diminta merawat keris itu. Dalam proses pembuatan keris tersebut dari sang empu dengan cara lelaku sang pencipta. Dimana ada visualisasi doa dan harapan.

”Saya mendapatkan koleksi keris sampai ribuan dari pemberian orang yang menyerahkan untuk dirawat. Hadiah dan pembelian,” terangnya.

Keris yang dikoleksi tersebut sering diikutan dalam berbagai pameran. Di antaranya di Keraton Surakarta, Museum Ronggo Warsito Semarang. Pameran di hari jadi Grobogan.

Ketika ditanya masalah magic di dalamnya, dia mengaku, hanya mengagumi. Hal itu karena semua kekuasaan dan kekuatan milik Tuhan. ”Perlakuan perawatan biasa. Hanya membersihan agar tidak kotor dan diberi minyak agar tidak karatan,” akunya.

Perawatan tidak perlu satu tahun sekali setiap 1 Muharram. Dia lakukan seperlunya dan tidak setiap tahun. Apalagi ketika keris masih bersih. Sehingga pembersihan dan perawatan bisa lima sampai sepuluh tahun sekali.

Untuk melestarikan budaya leluhur keris, dia bergabung dengan paguyuban penghobi keris Sekat Aji. Dia ditunjuk jadi penasehat.

Ketika ditanya masalah keris asli dan tiruan, jelasnya, bisa diketahui lewat bekal seseorang untuk referensi dan jam terbang. Meski demikian, apresiasi juga perlu diberikan kepada empu keris zaman sekarang. Produk mereka juga memiliki nilai dan harus dilestarikan.

”Harapan saya ke depan nanti akan membuat museum keris sendiri. Sehingga warga masyarakat bisa mengenal budaya bangsa dan mengetahui berbagai macam keris nusantara,” harapnya.

(ks/ris/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia