Kamis, 23 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Features
Sumarni, Dua Tahun Menderita Kanker Payudara

Hanya Bisa Berbaring di Kasur, Tinggal Tulang Dibalut Kulit

Selasa, 17 Oct 2017 11:30 | editor : Ali Mustofa

TAK BISA BERAKTIVITAS: Sumarni sudha menderita kanker payudara sejak dua tahun lalu. Kini, dia hanya bisa berbaring di kasur. Tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit.

TAK BISA BERAKTIVITAS: Sumarni sudha menderita kanker payudara sejak dua tahun lalu. Kini, dia hanya bisa berbaring di kasur. Tubuhnya tinggal tulang dibalut kulit. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

Sumarni sudah tidak bisa beraktivitas. Padahal usianya masih muda, 38 tahun. Dokter mendiaknosa perempuan tersebut menderita kanker payudara sejak dua tahun lalu. Belum selesai pengobatan, empat bulan lalu kakinya tiba-tiba bengkok. Hal itulah yang membuat kondisinya kian memprihatinkan.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Kudus

TUBUH perempuan ini terlihat kurus. Tinggal tulang dibalut kulit. Setiap hari hanya berbaring di atas tempat tidur. Bicara pun sulit. Sesekali bergumam kesakitan. Terkadang menghela napas panjang. Untuk makan susah. Tapi minum masih bisa. Itu pun harus dibantu orang lain. Tangan perempuan bernama Sumarni sudah tidak kuat memegang sesuatu.

Bagian dada sebelah kirinya muncul benjolan. Bentuknya hitam seperti batu yang bergelombang. Nanah pun keluar dari benjolan itu. Kuning dan sedikit bau. Sedangkan dada sebelah kanannya rata. Sumarni menderita kanker payudara.

Dia terkena penyakit tersebut sejak tiga tahun lalu. Tepatnya setelah melahirkan anaknya, Kayla. Ceritanya, sejak dulu payudara Sumarni memang tidak besar. Hanya membusung kecil. Ketika melahirkan Kayla payudaranya juga tidak membesar. Tetap kecil. Padahal biasanya payudara ibu hamil akan membesar dengan sendirinya. Karena itulah dia tak dapat menyusui Kayla. Dia ganti dengan susu formula.

Beberapa saat usai melahirkan muncul benjolan. Karena tidak sakit, Sumarni tak menghiraukan benjolan itu. Hingga suatu hari benjolan itu semakin besar dan sakit. ”Kami lantas membawa Sumarni ke rumah sakit dan dioperasi,” kata Joko Febrianto, suami Sumarni. 

 Perempuan yang berdomisili di RT 7/RW 4, Desa Prambatan Lor, Kaliwungu, Kudus, ini seharusnya dioperasi lagi. Selain itu Sumarni juga harus menjalani kemoterapi di Semarang. Namun dia tidak mau menjalani pengobatan apapun. Tak jelas apa alasannya. Namun ketika diminta ke rumah sakit, dia langsung menjerit. ”Emoh. Aku moh digowo neng rumah sakit,” kata Sumarni dengan nada yang tidak begitu jelas ketika ditanya kenapa tidak mau dibawa ke rumah sakit.

Joko mengaku, Sumarni tidak ingin berobat karena tidak mau dibawa ke Semarang. Selain jauh, dia juga tidak memiliki banyak biaya selama di sana. Untuk itu dia membawa istrinya ke pengobatan alternatif. Namun dari pengobatan alternatif juga menyarankan untuk operasi lagi karena muncul benjolan lebih besar di payudara kirinya. ”Istri saya tetap tidak mau berobat. Kami semua sudah bujuk. Namun setiap kali mengajak berobat pasti tidak mau,” jelasnya.

Sekitar empat bulan lalu, Joko mengaku istrinya masih bisa berjalan meski menggunakan tongkat. Namun suatu hari tiba-tiba istrinya terjatuh. Usai kejadian itu kakinya bengkok dan lumpuh. ”Kata dokter tulang kakinya keropos,” ucapnya.

Akibatnya, Sumarni hanya berbaring di ranjang. Dia pun sudah menggunakan pampers karena tidak bisa ke kamar mandi terlalu sering. ”Semakin hari kondisinya kian memprihatikan. Kami semua sudah pasrah,” ucap lelaki yang berusia lima tahun lebih muda dari Sumarni ini.                                                                                                                          

Kendati demikian, dia tetap berharap dapat pengobatan lebih baik. Harapannya, istrinya sehat kembali. ”Kami sebetulnya sudah pasrah. Namun siapa yang tahu hidup dan mati seseorang. Kalau memang kondisi kesehatannya bisa membaik, kami akan ajak berobat,” harapnya.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus kemarin, kaki sebelah kirinya memang terlihat bengkok. Tak dapat digerakan. Sedangkan bagian kanan tidak dapat diluruskan. Sesekali dia mengerang kesakitan. ”Aduh, aduh,” suara Sumarni terdengar samar.

Setiap hari, Sumarni hanya minum air putih. Dia sudah tak bisa menelan. Kemarin, suaminya sengaja tak berangkat bekerja. Joko tampak menemani sang istri sambil momong anaknya. ”Sudah dua hari ini saya di rumah. Istri saya tidak mau ditinggal,” ungkap Joko.

Sumarni tidur di ruangan yang berukuran 3 x 3 meter. Di sana ada satu lemari dan kasur yang tidak terlalu besar. Sempit. Saking sempitnya, hanya satu orang yang bisa menjenguk. Harus bergantian.

Kamar Sumarni memang berantakan. Beberapa baju digantung di tembok. Sebagain lagi berada di samping tempat tidur Sumarni. Masih awut-awutan. Kamar ini juga tidak ventilasinya. Hal itu membuat kamarnya pengap dan tidak nyaman. 

(ks/lil/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia