Jumat, 24 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Kudus

Sampah Menumpuk, Pemdes Bingung

Selasa, 17 Oct 2017 10:59 | editor : Ali Mustofa

BELUM ADA SOLUSI: Sampah menumpuk di sepanjang jalan Desa Kirig. Selain di jalan, sampah juga menutup aliran air di sungai desa setempat.

BELUM ADA SOLUSI: Sampah menumpuk di sepanjang jalan Desa Kirig. Selain di jalan, sampah juga menutup aliran air di sungai desa setempat. (ITSNAINI PERMATA HATI/RADAR KUDUS)

 KUDUS – Sampah terlihat menumpuk di Sungai Kirig, tepatnya di jalan menuju JLS (Jalan Lingkar Selatan). Sampah tersebut menutupi air sungai hingga tidak bisa mengalir. Pihak desa pun dibuat bingung menanganinya. Dampaknya, di kawasan tersebut cukup berbau.

Nur Ahid, sekretaris Desa Kirig mengaku, sampah merupakan masalah pelik setiap tahunnya. Sungai di desanya itu selalu dipenuhi sampah. ”Ini persoalan klasik. Justru sampah itu kebanyakan bukan dari warga Kirig. Warga kami jarang yang membuang sampah di lokasi itu,” katanya.

Menurut Nur, tumpukan sampah itu dari warga desa lain. Beberapa kali warganya memergoki sejumlah orang membawa kresek lalu membuang sampah di sungai tersebut. ”Bahkan ada yang membawa pick up dan truk untuk membuang sampah di sungai,” ucapnya.

Sampah yang datang juga karena terbawa arus aliran sungai dari daerah lain. “Kadang-kadang kiriman dari utara maupun dari pasar,” katanya.

Ketika musim penghujan, sampah tersebut lebih parah lagi. Mengalir ke sawah warga. Bahkan warga pun pernah berniat mematoki sungai, namun ditentang camat dan pemdes.

Adanya permasalahan pelik sampah sungai maupun penempatan TPS belum dikonsultasikan maupun didiskusikan oleh dinas terkait. Pihaknya masih sebatas rapat dengan perwakilan RT dan RW setempat. ”Mungkin solusi ke depan itu TPS bisa saja dibangun pagar atau benteng, dijaga petugas, lalu ditaruh di bak penampungan dan dibawa ke TPA,” ujarnya.

Abdul Halil, pelaksana tugas (Plt) Kepala DPKPLH mengaku, belum mengetahui soal sampah itu. “Memang kami belum ada kerjasama dengan pihak Desa Kirig,” ungkapnya.

Menanggapi masalah tersebut, Halil menyatakan harus ada kerjasama dari pihak masayarakat. “Kesadaran untuk mendukung lingkungan bersih, dan sungai bersih harus ada di tingkat masyarakat. Kalau memang perlu masyarakat yang melanggar bisa dikenakan sanksi menurut Undang-Undang terkait,” ucapnya.

(ks/lil/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia