Jumat, 24 Nov 2017
radarkudus
icon featured
Kudus

Muncul Museum Kretek Diswastakan

Selasa, 17 Oct 2017 10:44 | editor : Ali Mustofa

TINGGAL BEROPERASI: Pintu gerbang nantinya menjadi pintu keluar dan masuk kendaraan di Museum Kretek.

TINGGAL BEROPERASI: Pintu gerbang nantinya menjadi pintu keluar dan masuk kendaraan di Museum Kretek. (ITSNAINI PERMATA HATI/RADAR KUDUS)

 JATI – Muncul wacana swastanisasi Museum Kretek. Hal itu untuk pengembangan museum. Selain itu, kawasan itu lebih tertata dan menarik.

Suyanto, kepala UPT Museum dan Taman Budaya menerangkan, anggaran sektor pariwisata masih kalah dengan sektor pendidikan dan kesehatan. Sebab, kedua sector itu lebih mendesak. Adanya swastanisasi ini memiliki keunggulan dan kelemahan. PAD (Pendapatan Asli Daerah) Kudus akan naik, inovasi dan pengelolaan menjadi lebih bagus. “Namun ketika milik swasta, masyarakat tidak akan merasa memiliki karena harga tiket masuk lebih mahal,” ungkap Suyanto.

Dia mencontohkan, biaya operasional, sewa dan keuntungan akan ditanggung pengunjung. Sehingga harga tiket masuk yang seharusnya Rp 5 ribu menjadi Rp 10 ribu, bahkan lebih. “Ketika mahal dianggap tidak pro rakyat. Ketika tidak dimahalkan, biaya operasional tidak sebanding dengan keuntungan,” papar Suyanto.

Untuk tahun ini, dana untuk Museum Kretek sekitar Rp 1 miliar. Dana itu habis untuk pembangunan pintu gerbang. Belum lagi ada rencana renovasi kamar mandi, sarana tempat duduk di sekitar halaman Museum Kretek dan fasilitas untuk para difabel.

Selain itu, Museum Kretek juga merencanakan membangun rumah khas setiap kecamatan di Kudus. Pembangunan rumah adat sudah dianggarkan dan akan dilaksanakan tahun depan. Letak rumah adat di belakang bioskop 3D Museum Kretek.

Namun, 2018 akan dibangun rumah adat dari dua kecamatan. Namun, belum bisa memastikan dua rumah adat tersebut dari kecamatan mana saja. “Menyesuaikan anggaran,” katanya.

Untuk pintu gerbang sudah jadi sejak 9 Oktober lalu. Nantinya, pintu gerbang beroperasi 2018 mendatang. Suyanto menerangkan, mengajukan pembangunan pintu keluar sejak lama. Karena, pintu keluar masuk museum hanya satu. Ketika ramai pengunjung, petugas kebingungan mengatur kendaraan. “Pasti berbenturan karena dua arah di satu pintu,” ungkapnya. 

(ks/ris/top/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia